Semakin Dikejar, Semakin Terperangkap

Adrian Paul
Karya Adrian Paul Kategori Renungan
dipublikasikan 05 Juli 2016
Semakin Dikejar, Semakin Terperangkap

Kehidupan menjadi sangat sulit dan rumit kalau kita membiarkan diri berlari terus ke tempat tujuan. Lupa diri bahwa hari ini, di tempat ini, dengan badan ini, plus jumlah rezeki hari ini, juga menghadirkan tujuan-tujuan besar yang tidak kalah menariknya. Jika kita menghabiskan semua waktu untuk berlari, tidak  hanya lelah dan capek hasilnya, tetapi juga kehilangan sense of direction. Inilah akar dari kehidupan banyak orang yang tandus dan kering.

Manusia kering yang dimaksud diatas adalah manusia yang memiliki sifat terburu-buru (untuk segera sampai ketempat tujuan).  Sering kita terburu-buru menuju suatu tempat tujuan namun mendapati bahwa sesampainya di tujuan, tidak ada sesuatu yang luar biasa.

Mirip dengan banyak orang yang mengatakan, saya akan menikmati hidup kalau anak-anak saya sudah bekerja. Saya akan mengurangi belajar dan bekerja keras kalau sudah lulus sekolah. Saya akan hidup tenang kalau sudah punya rumah yang luas paling tidak seribu meter, dan sejenisnya. Maka jadilah kehidupan seperti berkejaran dengan bayangan. Dikejar terus, dan dia pun lari senantiasa mendahului kita. Persis seperti salah salah satu judul film "Kejar Daku Kau Kutangkap". Kita mengejar kehidupan, dan kehidupan kemudian memerangkap kita.

Dalam filosofi Zen, ada keyakinan yang menyebutkan, berhentilah berjalan, dan Anda pun sampai di tempat tujuan. Saya pribadi masih banyak hal yang saya inginkan terjadi dalam hidup saya, akan tetapi kalau menunggu sampai semuanya terjadi akankah saya sampai tujuan?

Seorang guru meditasi pernah ditanya oleh muridnya tentang pencerahan. Jawabannya ternyata sangat sederhana: ketika menarik nafas, sadarilah kalau Anda sedang menarik nafas, Tatkala membuang nafas, nikmatilah aliran udara yang keluar. Ini berarti, siapa saja yang hidup sepenuhnya dalam kekinian - plus rasa syukur yang mendalam, serta keyakinan bahwa semuanya telah, sedang dan akan berjalan dengan baik - dia sebenarnya sudah tercerahkan!

Seseorang bernama Randy Komisar dari salah satu bab dalam bukunya berjudul "the romance, not the finance". Romantika bukan harta. Padahal seorang Randi Komisar adalah seseorang yang berhasil dan bergelimang harta di daerah paling kapitalis di AS (Lembah Silicon)  berpetuah seperti itu, akankah kita membiarkan diri kita terperangkap ?

Sudah siapkah kita menerima paradigma baru mengenai menikmati kehidupan seperti gambaran diatas. Mampukah kita berhenti dan menikmati waktu saat ini, karena yang nyata adalah saat ini, bukan masa lalu dan masa depan.

  • view 434