Semacam Pesan Untukmu

Adondia Araxie
Karya Adondia Araxie Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 September 2016
Semacam Pesan Untukmu

Jika aku menjadi lelakimu kelak. Aku tak akan membiarkanmu sendirian makan. Tidak jika aku sedang bersamamu. Mungkin tidak menyuapimu, kau sudah dewasa dan bisa makan sendiri, tapi mungkin akan menikmati melihatmu makan. Lantas menyeka sisa saus di bibirmu, krim yang belepotan di pipimu atau menyelesaikan sisa nasi goreng jumbo istimewa yang kau pesan dengan gegabah. Aku akan menghabiskannya meski aku sendiri sudah kenyang. Karena mungkin, siapa tahu, dalam sisa nasi itu ada berkah tuhan untukmu yang dititipkan padaku.

Aku akan menjadi orang pertama yang kau lihat dipagi hari. Mungkin tidak akan tampan. Malah kau akan melihat bercak putih di wajahku sisa air liur semalaman. Rambut yang berantakan dan tubuh yang bau keringat. Tapi kamu tahu. Aku akan selalu bangun lebih pagi. Mencuci muka, menggosok gigi lantas menyiapkan satu poci teh tanpa gula dan ketela rebus untukmu. Lantas membangunkanmu yang dengan keras kepala berulang kali merajuk minta waktu 5 menit lagi.

Kamu merasa lelah dan mengantuk karena malam sebelumnya tidur dini hari. Menyelesaikan laporan yang tidak pernah berhenti. Menunggu email revisi dan mempersiapkan bahan presentasi. Kau begitu larut dalam pekerjaanmu bertahun-tahun. Mengembangkan kebiasaan tidur sebentar hingga tanpa sadar lingkaran matamu sudah lerlalu lebar. Aku lantas menyebutmu mata panda, meski kau lebih suka disebut zombie bride. Kau dengan segala makeup yang kau miliki berusaha keras menyembunyikan kantung mata itu untuk kemudian akhirnya menyerah.

Kita berbagi cerita semalaman. Tentang bagaimana kantormu tiba-tiba menaikan gaji, tentang bagaimana orang-orang lapangan membuatmu susah, tentang bagaimana delay pesawat membuatmu jengah. Tapi kau dan aku akan lebih banyak cerita tentang kita. Tentang bagaimana kamu lebih suka kopi daripada sereal. Tentang bagaimana kau bisa tiba-tiba menangis hanya karena lupa menaruh kunci motor atau girang karena melihat kaktus kesayanganmu berbunga.

Kau dan aku akan berebut dapur. Berebut siapa memasak apa dan siapapun yang kalah harus makan dan mencuci segala sisanya. Aku tahu aku akan selalu menang. Karena kau hanya bisa memasak spageti dan mie instan. Sedang aku akan selalu membuatkanmu dadar jagung, tanpa penyedap makanan tentunya, yang sangat kau sukai. Kau akan memaksaku memakan sayur. Karena sebagai vegan kau benci daging. Kau benci aku minum susu dan mengkonsumsi telur. Sementara kau menggilai susu kedelai dan salad buah.

Kita akan berpisah, untuk sementara tentunya, kau dengan pekerjaanmu dan aku dengan segala kemalasanku. Suatu saat aku akan bekerja, tapi untuk sekarang, mau main-main hingga puas. Sepanjang hari kita diam. Hampir tidak saling menghubungi. Bukan karena tidak sayang. Kau tahu itu dan aku juga. Kita hanya sedang berusaha untuk tidak menjadikan masing-masing pasangan sebagai alasan untuk tidak amanah. Meski ya, sesekali, tetap mengirim pesan. Entah itu soal mengingatkanku agar makan siang atau mengingatkanmu soal mengambil laundry saat pulang.

Kamu akan mengetahui bahwa aku pemalas kelas wahid. Lantas berusaha mengajariku cara hidup sehat. Makan sayur, olah raga dan mengurangi jajanan berminyak. Aku akan berusaha keras untuk belajar menikmati alam raya. Belajar naik gunung, jelajah pantai dan susur gua. Karena kau menyukai itu sedang aku tidak. Aku percaya hidup adalah upaya berkompromi dengan orang yang kau cintai. Aku mencintaimu maka aku berusaha untuk melakukan apa yang kau suka. Meski pada akhirnya aku hanya menyusahkanmu di perjalanan.

Aku akan membuatmu percaya. Kau akan nyaman didekatku. Cukup nyaman untuk bercerita soal amarah, luka, dan tragedi masa silam. Aku tentu hanya bisa diam mendengar sampai pada akhirnya aku akan berceloteh tentang banyak hal. Membuatmu lupa dan menertawakan apa yang telah lalu. Menjalani sisa hidupmu dengan lebih banyak belajar dan berbagi. Ketimbang mengutuk dan mendiamkan diri sendiri. Kamu akan sedikit lebih tenang dan lebih bijak. Karena bebanmu tak lagi dipikul sendirian.

Jika aku menjadi lelakimu. Kamu dan aku akan bertengkar hampir setiap hari, berpelukan setiap hari, sampai masing-masing dari kita bosan dan ingin pergi. Masing masing dari kita merasa jenuh dan tak bisa lagi bersama. Kau dan aku sama-sama sadar tidak ada yang abadi. Bahkan dalam cinta. Tapi kau dan aku sama-sama percaya jenuh bukan alasan untuk berpisah dan bosan bukan alasan untuk pergi.

Saat itu tiba. Aku akan bahagia. Sangat bahagia. Mungkin, suatu saat. Aku akan menuliskan surat. Berisi kalimat sederhana. Tentang perasaan yang aku simpan diam-diam. Tapi itu tak penting. Tak pernah jadi lebih penting ketimbang kebahagiaan yang kau rasakan saat itu.

Selamat menikah. Kamu.

.

Arman Dhani Bustomi

  • view 294

  • Muthmainnah Rati
    Muthmainnah Rati
    1 tahun yang lalu.
    Suka dengan tulisan ini, mengalir apa adanya dengan bahasa yang ringan, sehingga tidak terasa sudah menyeleseikan seuntai bacaan yang lumayan panjang.

    Tapi, kalo boleh saya ngasih saran, kalimat terakhir terasa kurang pas dengan penggunaan kata "ketimbang", kalau boleh usul, sebaiknya diganti dengan kata "dibanding" ...

    Selebihnya, keren! (y)