Sebuah Pusaran (2)

Haifa  Afifah
Karya Haifa  Afifah Kategori Inspiratif
dipublikasikan 05 November 2016
Sebuah Pusaran (2)

Bisnis menjadi fokus utama anak yang sudah lewat duapuluh tahun itu, selain ia menjalani bisnis dengan amatiran, ia pun masih aktif menulis dan melakukan kegiatan-kegiatan lainnya. Termasuk kegiatan kepemudaan. Tak ada harap terpendam. Ia berangkat menjadi perwakilan wilayah untuk mengikuti kegiatan kepemudaan.

Setelah serangkaian kegiatan dilalui, pusaran gelombang besar menghampiri hidup damainya.ia harus mengadakan proyek sosial yang sebelumnya belum pernah ia lakukan. Bermodal keterampilan kepemimpinan dan manajemen ia memimpin teman-temannya. Beberapa kendala datang seperti nyamuk yang datang di malam tenang.

Proyek sosial terlaksana cukup baik, orang-orang terlibat mengapresiasi. BLANK. Jalan buntu berdiri tegak didepan anak itu. Setelah ini apa? Tuhan memberi jalan, tapi tak ada petunjuk yang bisa ia baca.

Ia berdoa dan mencoba bicara dengan Tuhan, Tuhan memang tak pernah bersuara tapi ia memberikan tanda yang cukup mudah terbaca. Setelah kegalauan berkepanjangan, hidup menjadi tak teratur. Ia mencoba untuk berdiri dan berjalan seperti biasa, meski kadang sambil tak memikirkan apapun.

TRING! Tuhan memberikan tantangan. Anak itu mendapat dana besar untuk mengurusi proyek sosialnya. Rupanya Tuhan tak mau ia keluar dalam pusaran itu. Padahal keadaan sangat memungkinkan untuk si anak melarikan diri dari hal tersebut.

Tak hanya sampai situ, Tuhan menggerakan kaki dan tangannya untuk bergerak lebih cepat dan fleksibel. Ia melakukan beberapa koordisani, membuat beberapa rancangan di sketcbook miliknya. Dana terkondisikan dengan baik, tapi ia masih bingung terkait kegiatan yang akan ia terapkan disana. Tak ada orang lagi bersamanya. Semua terlarut dalam kesibukannya masing-masing.

Sambil beraktifitas seperti biasanya, ia bekerja di salah satu perusahaan yang hampir kritis. Gaji kecil yang selalu tak terbayar tepat waktu. Ponsel rusak, omzet turun dua kali lipat. Tak banyak masalah ia ratapi. Pikirannya maju tanpa mau merasa menyesal dan mengeluh pada Tuhan.

Ketika iseng membuka laptop dan browser. Ada famplet yang menarik perhatiannya, lalu ia melayangkan pesan singkat keikutsetaan dalam acara yang ditampilkan disana. Seseorang panitia menghubunginya secara personal dan kau tahu, lagi lagi Tuhan menunjukan kebesaranNya

Anak itu telah merancang program pembinaan disabilitas yang berfokus pada peningkatan kemampuan menulis dan berfikir kritis. Famplet tersebut adalah kegiatan workshop menulis untuk disabilitas yang ternyata diadakan secara rutin setiap minggunya.

Panitia yang menelephon itu tertarik untuk menghubungi anak itu, sebab ia bilang, ke workshop itu ia akan membawa 10 orang pasukan. Lantas setelah terjadi percakapan panjang. Panitia sangat ingin menjalin kerjasama baik dengan anak itu. Tentu sebaliknya juga.

Tepat di usia 23 tahun, ia merasa sanggup menyematkan diri menjadi seorang social worker. Berkat Tuhan yang selalu membuat pusaran demi pusaran dan ia yang pandai membaca tanda.

Anak itu, tak pernah terlalu banyak mengeluh soal masalah yang kadang ia hadapi, keinginan-keinginan itu terlontas dalam waktu senggang di jeda-jeda kosong perjalanan. Ia ingin menjadi guru, maka Tuhan mengabulkan, ia ingin berlatih olah raga dan beladiri, tak ada halangan untuk melakukan itu. Ia ingin menjadi seorang wirausaha, untuk saat ini ia sedang bersungguh-sungguh mengembangkan usahanya itu. Tercetus dalam sunyi dikamarnya “Bisa gak ya, aku jadi pekerja sosial?” tanpa rencana Tuhan menghayutkannya dalam pusaran.

Setelah ini. Kemana Kau akan membawaku pergi? Ayah, kau tak perlu menghawatirkan ku lagi, beristirahatlah dengan tenang. Tuhan selalu menyertaiku.

 

sumber gambar