Sebuah Pusaran

Haifa  Afifah
Karya Haifa  Afifah Kategori Inspiratif
dipublikasikan 05 November 2016
Sebuah Pusaran

Berawal dari seorang anak perempuan pendiam yang selalu berada di belakang punggung ayahnya. Mata tak berani menatap manusia-manusia. Duduk dibangku, menulis catatan, mengamati situasi sekitar. Bell sekolah berbunyi, tanpa jeda ia beranjak pulang.

Ayah sangat jarang bicara. Sehingga si anak tak tahu bagaimana memulai sebuah percakapan. Ia hanya akan bicara ketika ada orang yang bertanya. Jawabannyapun sederhana. Tak banyak mengundang pertanyaan berikutnya.

Akan tetapi banyak orang yang membicarakan Ayah. Ayah memang tak memiliki jabatan yang tinggi di desa itu, tapi pengaruhnya terhadap keamanan dan kesejahterahan disekitarnya tak perlu dipertanyakan lagi. Anak itu senang, membantu Ayahnya membantu warga desa.

Dukungan moril yang Ayah sangat mempengaruhi kepribadian anak itu, ia bukan orang yang cemerlang, tapi selalu berada diperingkat satu dikelasnya. Tanggapnya hanya menunduk dan merasa malu. Sang Ayah mengantar dan menjemputnya pulang. Sampai akhirnya anak perempuan itu harus menjaga jarak panjang dengan sang Ayah. Sebab ia harus sekolah di kota.

Ayah sangat mengerti tentang kesibukannya, tentang kewajiban mendidik anaknya, maka sekolah menjadi tangan perpanjangan Ayah agar semua tugasnya tertunaikan.

Dia bukan anak yang menarik, penampilannya sangat sederhana dan apa adanya, ia hanya memakai sesuatu yang menurutnya nyaman, tak peduli apa kata orang. Ia seorang yang santun dan tak banyak bicara. Kadang karena keluguannya itu, beberapa senior mencemooh dirinya dengan ejekan-ejekan yang tak patut. Ia tak peduli, obat pait kadang membuat dia lebih baik.

Ia aktif di ekstrakulikuler basket dan jurnalistik, selain kegiatan sore hari. Banyak waktu yang ia habiskan diperpustakaan sekolah. Baginya, itulah satu-satunya tempat untuk melihat dunia yang lebih luas.

Saat masuk di sekolah menengah atas. Perpustakaan tidak lagi menjadi tempat yang amat menyenangkan. Sebab koleksi buku nya amat sedikit. Kebanyakan ruang dan rak diisi penuh dengan buku-buku mata pelajaran.

Tanpa memiliki keinginan untuk melakukan sesuatu, ia masuk dalam kegiatan semi militer disekolahnya, juga menjadi anggota karate dan basket sekolah. Meski kerap kali dijuluki “si kutu buku” tapi ia juga memiliki kondisi fisik yang kuat. Siapa sangka, anak perempuan pendiam dan kutu buku itu, menjadi seorang anak yang amat disegani di lapang.

Sejalan dengan itu, ada musuh yang menggeliat di permukaan tanah, ingin dirinya dihancurkan oleh fitnah dan menggerakan masa untuk sama-sama menjadi penghianat. Ketika ia menginjakan diri di markas itu, orang-orang hebat membuka tangan lebar. Membiarkan ia masuk dan mendidiknya dengan tekun dan sabar. Sampai ketika ia memutuskan untuk berbalik badan, keluar dalam pusaran itu dan tak pernah menyentuhnya lagi.

Ketika berada di PTN, ia menekuni bidang jurnalistik dan penerbitan. Selama kuliah disana ia konsisten dalam ruang kata dan imaji tersebut. Tuhan memberi jalan dan petunjuk, dia melihat dan mengikuti setiap tanda. Ia percaya akan Tuhan yang meridhai jalannya itu. Jatuh bangun ia lalui dengan suka cita. Banyak sesuatu yang ia ciptakan di organisasi tersebut.

Karena pengaruh dan kebijakannya, kepribadian yang lama hampir sirna. Kebanyakan orang sulit mempercayai bahwa ia sebenarnya adalah seorang yang pendiam dan pemalu. Meski jarang mendapat penghargaan dibidang kepenulisan, ia sangat senang, karena banyak orang yang mempercayainya. Bahkan tempe mentah yang ia masakpun mereka anggap enak.

Sebelum kelulusan, seorang teman mengajaknya berbisnis. Bisnis apa aja. Menanggapi hal itu seakan kepala nya tumpul, enggan berpikir. Barangkali ada orang yang bisa membantunya berpikir. Tak lama sejak kesepakatan itu, ia mendatangi seseorang untuk bergabung dan membantunya berpikir.

Tuhan menumbuhkan cabang cabang batang di pohon yang baru tumbuh itu. Si anak berbisnis dengan suka cita. Mengikuti seminar bisnis, mengikuti pelatihan, membuka pameran, berjualan di lapang. Sampai akhirnya mendaftar menjadi anggota di organisasi bisnis tingkat nasional. Mendaftarakan produk dagang, bekerjasama dengan beberapa pihak, mengembangkan produk, memperkuat marketing dan membuka usaha baru.

Tak habis-habisnya nikmat Tuhan itu ia teguk dengan pasrah. Ia masih memiliki keyakinan yang sama “Tuhan akan meridhai setiap jalan yang Ia berikan”. Sesekali ia terjatuh kemudian dia mencari jalan untuk bangun kembali, jatuh lagi, bangun lagi, seperti anak yang baru belajar naik sepeda. Ketika jatuh, ia malah tertawa dan melanjutkan mengayuh sepedanya.

 

sumber gambar

  • view 240