Senyap [5]

Haifa  Afifah
Karya Haifa  Afifah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 Oktober 2016
Senyap [5]

Ruqi telah pulang dari Yogyakarta kemarin subuh. Hujan mengguyur Bandung deras. Seakan mencegah Ruqi untuk pulang. Terlalu deras. Keluhnya. Ponselnya sepi dari pesan masuk, hanya beberapa teman teman dekatnya yang menghubungi. Shougi belum menghubungi Ruqi lagi sejak sepulangnya dari Yogyakarta.

Ada kekosongan yang tak logis. Sebab, sebenarnya banyak yang harus dikerjakan. Tapi cuaca benar-benar buruk. Seburuk hati yang kembali senyap.

Kembali ke ruang rutinitas yang membosankan memang tidak terlalu buruk, sebab akan ada imbalan dari waktu yang ia gadaikan ke tempat kerjanya. Tapi tempatnya bekerja benar-benar sepi. Tidak ada seorangpun yang ingin datang. sesekali diwaktu yang tidak terencana, petugas yang mengaku dari bank datang, menanyakan keberadaan pemilik usaha dimana Ruqi bekerja. Ruqi sudah banyak diberi arahan oleh atasannya untuk tidak mengatakan apapun soal pemilik usaha tersebut. Ruqi bukan orang yang bisa berkelit, meski wajahnya selalu datar. Tapi ia tak mampu menjadi pembohong.

Setiap hari, ditempatnya ia membunuh waktu dengan membaca dan menulis cerita di blognya. Ia menyukai dua kegiatan itu. Cukup menyenangkan untuk seorang penyendiri di tempat kerja yang selalu sepi. Biasanya Shougi menghubunginya, menceritakan apapun yang ia ingin ceritakan. Ruqi pendengar yang baik dan sedikitnya bisa menanggapi beberapa masalah yang belum terpecahkan Shougi.

Tapi semejak ia pergi ke Yogyakarta untuk bertemu dengan Shougi selama tiga hari yang cukup mesra, akhir pertemuan mereka sangat memilukan. Shougi tak bicara banyak sore itu, ia menjawab pertanyaan seadanya dengan nada agak sedikit ketus. Ruqi benar-benar kacau. Ia tak tahu harus bagaimana. Shougi membantah kalau dirinya sedang marah.

Pukul 18.14 sore itu, Ruqi akan kembali ke Bandung, dan Shougi pergi ke Solo untuk menemui teman-temannya. Tinggal menunggu kereta. Kereta arah Bandung datang pukul 19.00. Kereta Solo-Yogyakarta PP datang dari arah selatan menuju utara. Shougi pamit, salam singkat tak ada basa-basi. Ia menaiki gerbong kedua kereta. Kereta pada penumpang, Shougi berdiri dekat pintu gerbong. Ruqi masih memperhatikannya di tempat tunggu.

Shougi asik dengan ponselnya, tak sedetikpun pandangannya kearah Ruqi. Sebentar lagi kereta berangkat. Ruqi berharap Shougi melihat kearahnya walau sebentar. Tetapi kereta dari arah berlawanan menutupi kereta yang dinaiki Shougi.  Kereta Shougi berangkat, Ruqi mencuri pandang Shougi dari celah-celah gerbong kereta yang menghalangi. Tapi ia tak menemukan Shougi lagi. Kereta sudah berlalu menuju Solo. Ruqi tegar menunggu.

Ruqi memutar-mutar ponsel dengan jarinya, masih hening dan dingin. Rupanya uap air hujan merasuk kedalam batang body ponselnya yang terbuat dari material padat dan keras. Shougi masih tak berkabar. Apakah ia memang telah berubah sedrastis ini.

Percakapan yang terlalu intens setelah pertemuannya dua bulan sebelum memang cukup menyita perhatian Ruqi, terlebih Ruqi sudah membentengi hati untuk tidak menerima laki-laki sembarangan. Ruqi hanya ingin menerima laki-laki yang menurutnya pantas saja. Meski terkadang ia merasa kalau itu terlalu berlebihan, semacam perempuan yang hanya menerima laki-laki dengan standar yang tinggi.  Tapi cukup membuang waktu juga kalau Ruqi menerima laki-laki biasa dalam hidupnya. Mereka hanya bisa bercakap omong kosong, candaan yang garing, topik yang membosankan dan rutinitas yang membuang mual.

Maka dari pembatasan diri itu, Ruqi hanya teman akrab dengan laki-laki yang memiliki bobot potensial yang tinggi. Karena dengan berteman dengan mereka, ia akan mendapat banyak informasi dan percakapan yang menarik. Tentu tak jarang laki-laki itu dikejar para perempuan-perempuan agresif.

Shougi tak pernah membisu selama ini. Meskipun hubungan kita hanya teman biasa, tapi kedekatan mereka lebih dari itu. Pernah sewaktu-waktu Shougi tidak menghubunginya seharian. Keesokan harinya ia menghubungi Ruqi untuk menanyakan kabar.

“Ada kabar apa di hari ini dan kemarin?” Ruqi hanya kebingungan membalas pesan yang ambigu itu. Memangnya kabar tentang apa yang ingin kamu tahu. Kalimat itu hanya terbisik di hati saja. Tidak disampaikan melalui pesan.  Ruqi mengindikasi adanya keisengan Shougi dengan berpura-pura menanyakan kabar yang seperti mengarah pada proyek yang kita buat. Padahal sebenarnya ia ingin tahu kabar Ruqi dan setidaknya ada kalimat yang tertulis dalam pesan yang dikirimkan untuk ditanggapi.

Tetapi dua hari ini benar-benar sunyi. Komentar di akun sosial mediapun tak kunjung ditanggapi, beberapa kali menelephon tidak diangkat, sekalinya diangkat hanya percakapan yang sangat singkat. Telp ditutup tanpa ragu. Lalu kemudian hening.

Petualangannya di Yogya bersama Shougi ternyata berakhir begini, terlalu menyiksa batin, dengan hilangnya kabar Shougi di pesan yang masuk dalam ponsel. Padahal hari-hari mereka cukup menyenangkan.

Terlebih ia menghawatirkan pacar Shougi tahu kalau mereka jalan bersama selama tiga hari di Yogya. Ya. Siang hari yang mendung di tempat kerja, Ruqi iseng mengorek aktifitas akun sosial media Shougi, meski banyak percakapan berbahasa Jawa, sedikitnya Ruqi memahami maksud umum dari percakapan itu. Dicurigailah satu akun perempuan yang sepertinya perempuan itu pacarnya. Tak biasanya Ruqi melakukan hal seperti itu.

Karena suasana cukup membosankan, Ruqi telusuri akun perempuan itu, dan benar, mereka pacaran atau pernah pacaran. Bagaimana hubungan mereka sekarang. Terdapat fakta jelas yang menandakan kalau mereka pacaran. “Hay. Shougi, kapan kau pulang, aku merindukamu” kadang pacar nya itu memanggil Shougi “Sayang” tapi Shougi tidak meninggalkan pesan apapun. Pacarnya seperti ingin berbicara sendiri saja dan ingin pamer kalau Shougi itu pacarnya.

Shougi memang pernah bilang, kalau ia membuat akun itu hanya untuk keperluan lain, bukan keperluan dirinya. Dan memang tak banyak aktivitas yang terekam disana. Pertanyaan yang mengganjal: apa hubungan mereka sekarang? Apakah kencan tiga hari kemarin mengusik pikiran perempuan itu, sehingga Shougi tidak menghubungi Ruqi lagi.

Ruqi menghela nafas panjang, menghadapi kisah hidupnya yang malang. Kemungkinan-kemungkinan berputar terus dikepalanya. Hujan masih awet. Diperkirakan akan ada banjir atau kemacetan yang menyebalkan.

 

Sumber gambar: Pribadi