Melamar Seorang Pria

Haifa  Afifah
Karya Haifa  Afifah Kategori Inspiratif
dipublikasikan 24 Oktober 2016
Melamar Seorang Pria

Ada seorang teman perempuan bercerita kepada saya, suatu hari ia memutuskan untuk melamar seorang laki-laki. Ia menganggap hal itu perlu meski sebenarnya ia tak yakin akan diterima, karena yang dilakukannya itu cukup ganjil di masyarakat umum, meskipun Islam sama sekali tidak melarang.

Awalnya ia mencari informasi  melalui orang terdekat Pria yang disukainya, untuk memastikan bahwa Pria itu tidak sedang ‘berproses’ (Baca: membidik/ melakukan pendekatan dengan perempuan lain) singkat cerita mereka akhirnya bertemu.

Mereka bertemu disebuah kafe, ditemani salah seorang kawan dari pihat perempuan.  Dalam pertemuan itu, Perempuan itu menjelaskan maksud dan alasan kenapa ia melakukan hal yang kurang wajar. Laki-laki itupun berpendapat seperti itu, “Ini bukan hal yang lumrah dilakukan oleh seorang perempuan”.

Tapi si perempuan ini, meresa yakin kalau yang dilakukannya itu justru baik untuk dirinya sendiri. Bagaimana mungkin? Mari kita ketahui hasil akhir pertemuannya keduanya.

Setelah perempuan itu mengungkapkan apa yang terjadi terhadap dirinya dan beberapa penjelasan-penjelasan logis, laki-laki itu menanggapinya dengan cukup bijaksana dan mengklarifikasi beberapa temuan si perempuan yang keliru. Temuan yang keliru itu adalah sebuah pernyataan mediator (teman dari si laki-laki) bahwasanya laki-laki yang ditaksir perempuan itu tidak sedang dekat dan tidak sedang ingin dekat dengan perempuan lain.

Kesimpulannya, perempuan itu ditolak karena laki-laki itu sedang mendekati perempuan lain yang ditaksirnya, selain itu laki-laki itu belum cukup mapan untuk menikah dalam waktu dekat ini.

Setelah mendengar penuturan yang amat jelas, si perempuan meresa lega. Lega sebab, pertama kegalauannya pastinya akan berakhir, tak lagi menganggu kegiatan kesehariannya, kedua. Tak perlu mengharapkan si laki-laki yang ditaksirnya. Ketiga, ada upaya peningkatan kualitas diri, sebab laki-laki yang ditaksirnya itu adalah anak laki-laki yang saleh. Sebab tahu diri, si perempuan merasa pantas ditolak sebab tidak adanya kesetaraan diantara mereka.

Saya kira, berdasarkan kisah yang dipaparkan rekan saya tadi, bahwa justru ada baiknya seorang perempuan yang berasa dalam masa kritis ngebet nikah atau lagi naksir seseorang. Diungkapkan saja, dengan cara langsung maupun perantara.

Supaya urusan kita dengan si dia yang gak jelas cepet kelar. Hal ini juga akan menghindarkan diri kita dari patah hati yang cukup menyakitkan, kebencian yang terhadap target yang salah faham dan kegalauan yang cukup menyita waktu.

Kadang kala, laki-laki itu kurang peka terhadap makna gestur dan kode bahasa yang dibuat perempuan, dan perempuanpun kadang selalu salah faham terhadap tingkah laku seorang laki-laki yang terkesan “Perhatian” padahal laki-laki itu tak pernah ada maksud apapun.

Nah. Kesimpulannya bagi pihak laki-laki maupun perempuan, jika tertarik dengan lawan jenisnya, segera utarakan untuk mendapat kepastian kalau merasa belum mampu bersabar dan banyak bersandar pada Tuhan. Sebab dalam masa itu banyak setan yang membisik hati yang merana.

-------------------------------------

Sumber gambar: http://tukangteori.com/

  • view 209