Minggu dan Benih yang Disirami Pagi [3]

Adnan Sayf
Karya Adnan Sayf Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 Oktober 2016
Minggu dan Benih yang Disirami Pagi [3]

Rivan tak juga menghubunginya, padahal ia telah mengatakan bahwa ia akan pergi bersama Ruqi untuk pertemuan penting di Jakarta.

Malam itu, Ruqi menginap di kostan adik tingkatnya semasa kuliah, karena malam yang larut, beberapa teman menghalangi Ruqi untuk tetap pulang. Pukul tujuh Ruqi bersiap untuk mandi dan membeli Surabi yang ia janjikan untuk Shougi sebagai pengganti sarapan.

“Aku akan membawakanmu surabi oncom”  pesannya dalam percakapan. Oncom tampak asing dalam bayangan Shougi, lantas ia bertanya, “Apa itu oncom?” Ruqi menjelaskan bahwa oncom itu hasil permentasi dari kedelai yang telah menjadi tempe. Shougi membalas. “Oncom kata temenku enak” Ruqi tersenyum menghadapi ponselnya, ia cukup senang dengan penghargaan Shougi.

Setelah bergegas pergi dan berpamitan kepada penghuni kostan, Ruqi mengejar waktu untuk bertemu Shougi. Mereka sepakat untuk bertemu pada pukul 08.30 di Car Free Day (CFD). CFD adalah jalan yang sengaja dikosongkan khusus hari minggu untuk warga sekitar menikmati minggu pagi yang menyenangkan. Bertemu orang banyak, membeli berbagai jajanan, berolah raga dan menemani pendatang untuk berjalan-jalan. Itulah tujuan Ruqi datang ke tempat itu, setelah sekian lama tak memiliki waktu senggan untuk menghirup udara pagi yang bebas.

Ruqi berada di sekitar tempat yang ditunjukan Shougi, dengan seksama Ruqi mencari Shougi dan dan Putra di lautan manusia yang berjalan lambat.  Tentu semua orang disini tidak sedang tergesa-gesa berangkat bekerja atau oleh urusan lain.  Semua orang sedang ingin merasa senang dan santai.

Shougi berbadan tinggi dan daging memadat dikulitnya, ada guratan kepayahan ditubuhnya, ia telah melalui banyak hal. Disampingnya Putra yang selalu tampak cerah dan ceria, mereka berdialog dambil berjalan menuju tempat janjian.

“Hey” Ruqi menyapa. Mereka terlalu terlarut dalam obrolan. Putra mengatakan sesuatu kepada Shougi dengan bahasa Jawa. Ruqi jelas tak mengerti, Shougi menanggapi ekspresi wajahpun tak berubah menjadi bahasa yang bisa Ruqi baca.

“Sekarang kita mau kemana Mbak?” Shougi bertanya. Ruqi tak menjawab pertanyaannya. Dia malah menyodorkan kantung keresek putih transparan kepada Shougi. Shougi lebih tinggi dari Ruqi, sehingga adegan itu seperti pemalakan yang dilakukan oleh anak SMA yang kejam kepada anak SMP ingusan. Tapi tak tampak rintih di air wajah Ruqi. Wajahnya cenderung datar dan ia berkata “Kita sarapan dulu” sedikit sunggingan senyum terlukis. Shougi mengajak keduanya duduk dan memakan makanan yang dibawa Ruqi

Putra terlalu banyak diam, sementara Shougi terlalu banyak bicara dan bertanya kepada Ruqi, Ruqi tidak menjawab secara mendetail, ia hanya menjawab seadanya dan menyirat terlalu banyak teka-teki yang harus penanya gali.

“Apa yang masih kau cari?” Shougi tampak kebingungan tapi ia seperti menangkap sesuatu yang dekat dengan dirinya. Saat ini mereka dengan duduk di taman kota, setelah mengamatik mahasiswa tingkat pertama yang sedang berkumpul dan diberi arahan oleh seniornya. Pemandangan seperti itu menarik minat Shougi untuk mengambil beberapa gambar.

Shougi meminta Ruqi untuk meminta izin kepada kelompok itu. “Bahkan Presidenpun tak berhak untuk keberatan jika ada yang mengambil gambarnya” tapi karena alasan sopan santun, Ruqi mendekati salah seorang yang ia kenali, dan memberitahu bahwa seseorang teman dalam perantauan ingin mengambil gambar kegiatan mereka. Tentu mereka tak pernah keberatan. Ruqi membuat tanda kepada Shougi bahwa ia dibolehkan untuk memotret.

Setelah itu mereka duduk disekitar situ, Putra asik dengan ponselnya, Shougi menegadah. Pandangan Ruqi lulus ke satu tutuk didepannya.

“Seorang laki-laki memiliki harga diri terhadap pekerjaannya. Terhadap apa yang ia lakukan. Kamu telah melakukan banyak hal tapi tak pernah puas akan hal itu. Kau punya banyak ide dan pemikiran cemerlang, seperti yang sering Putra utarakan tentangmu. Namun masalahnya tak semua pemikiran itu terealisasi dengan baik, banyak faktor yang menjadi penghalang tujuanmu.” Ruqi menarik nafas. Hening sebentar. Ruqi melanjutkan lagi

“Tak semua terealisasi dengan sempurna, karena kau hanya melihat akhir dari tujuanmu itu, bukan langkah awal yang harus kau ambil. Langkah terkecil” Ruqi menunduk, seakan ia telah teringat sesuatu. “Kau masih terkendala soal kendaraan apa yang bisa mengantarkan mu kesana,  kau lebih tertarik mengembangkan pikiran-pikiranmu itu, Bagus tapi jangan sampai hanya sekedar pikiran belaka. Harus dimulai dari hal terkecil, dengan resiko terendah”

Ruqi berhenti, sepertinya tak ada yang harus dikatakan lagi. Shougi melempar pandangan pada Ruqi, Ruqi sadar Shougi ingin menimpal perkataannya itu

“Bagaimana kau bisa tahu soal aku sebanyak itu? Sementara kita baru saja bertemu kemarin malam” ada perasaan merinding untuk seorang Shougi, dimana telah ditemuinya seorang peramal yang dapat membeberkan semua rahasianya. Tapi Ruqi menolak sebutan itu. Karena jelas ia bukan seorang murtad.

“Aku dapat membaca semesta. Terutama yang berada di wajahmu itu” Ruqi senyum penuh ketulusan dan kepedulian. Ia seperti melihat masa depan Shougi, tapi lagi Ruqi membantah. Ia hanya bisa membaca tanda, tidak lebih. Semua orang bisa melakukannya.

Shougi mungkin adalah sosok yang Ruqi kagumi, cara pandangnya berbeda ketika ia melihat laki-laki lain. Porsi badannya yang pas. Mengingatkannya pada seorang ayah yang selalu menemaninya pergi.

Ayahnya maupun Shougi, memiliki pandangan yang sama soal kehidupan. Tak suka sesuatu yang rumit, tak betah berada dikantor, punya semangat belajar yang tinggi, berani menanggung resiko yang besar juga cepat mengambil keputusan, selama keputusan itu menguntungkan orang lain. Orang seperti ini tidak terlalu peduli dengan dirinya, yang terpenting hanyalah, melakukan keinginan yang kadang muncul tiba-tiba dalam diri.

Tak banyak mempertimbangkan banyak hal, karena hal itu hanya akan menghambat pekerjaannya. Seperti Ayah Ruqi, dari kecil Ruqi tak pernah tahu apa pekerjaan Ayahnya. Tapi siapa sangka, Ayahnya mampu membelikan barang mewah yang diinginkan Ruqi.

Ketika SMP dan SMA pun, biaya sekolah Ruqi jauh lebih mahal dibanding biaya kuliahnya. Ditambah gaya hidup anak-anak konsumtif. Tapi Ruqi anak yang sangat pemalu, ia tak pernah berani minta dibelikan macam-macam. Ia cenderung minta barang-barang yang ia perlukan saja, itupun hanya untuk menunjang kegiatan disekolahnya.

Sosok Shougi yang Ruqi lihat, tidak jauh dari sosok Ayahnya. Shougi selalu memiliki ambisi untuk melakukan banyak hal untuk kepentingan orang lain. Wajahnya selalu menampakan semangat dan kebahagiaannya. Walaupun sebenarnya Ruqi sangat yakin Shougi pasti punya masalah dan kadang dirundung kesedihan, tapi seorang Shougi mampu menutupnya dengan rapih, seakan tak pernah ada masalah apapun.

Apa yang sebenarnya aku cari? Pertanyaan Ruqi sangat mengganggu kepalaku, setelah sampai di apartemen, aku akan mandi dan berusaha untuk tidur dengan tenang. Batin Shougi, mulutnya masih terkatup. Tak tahu harus berkata apa. Semua yang dikatakan Ruqi banyak benarnya. Darimana Ruqi banyak tahu tentang Shougi, padahal mereka baru bertemu kemarin malam di sebuah mini market dikawasan wisata yang sedang ramai pengunjung.

Aku akan selalu mendoakanmu. Ruqi menutup matanya, permintaannya kepada langit telah disampaikan. Pagi itu sejuk, sinar matahari masuk disela-sela dedaunan dan ranting pohon.

 

----------------------------------------------------

Sumber gambar: https://ahmadchan.wordpress.com/

  • view 205