Lima tahun bersama Nugi [2]

Adnan Sayf
Karya Adnan Sayf Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Oktober 2016
Lima tahun bersama Nugi [2]

Hampir selama menempuh studi Ruqi berteman baik dengan Nugi. Nugi adalah laki-laki yang sangat populer dikalangan para wanita. Ruqi sendiri bingung, kenapa ia selalu dekat dengan laki-laki yang cenderung punya kepopuleran yang tinggi, sementara Ruqi sendiri tak pernah merasa tertarik oleh mereka.

Malam itu, Ruqi meminta Nugi untuk menjemput temannya Putra. Nugi sendiri selalu mengiyakan apa yang diminta Ruqi, jika ingin menolak, ia akan menolak dengan keras, sampai Ruqi menyerah. Pertemanan diantara mereka memang tak begitu hangat. Kadang mereka berdebat, kadang mereka juga saling menasehati, tak sering juga saling menertawakan nasib.

Ruqi dan Shougi tiba di kedai ramen, disusul oleh Nugi, Putra tidak bersamanya. Lantas, Ruqi bertanya. Nugi bilang Putra ia turunkan dekat musium.

“Jemput Putra sekarang Nug.  Aku akan menelephonnya untuk kembali ke tempat kau menurunkannya”

“Kau akan membawa mereka bersama kita?” Nugi agak bingung

“Iya, ditempat terpisah” Jawab Ruqi tegas. Nugi membaca matanya, seakan ia mengatakan untuk cepat menjemput Putra. Nugi menyalakan motornya dan kembali ketempat dimana ia menurunkan Putra.

Ruqi menunggu di luar kedai, sambil memesan menu untuk bertiga. Akhirnya Nugi datang bersama Putra, mereka bertiga masuk ke dalam kedai dan mencari tempat duduk yang masih kosong.

Mereka duduk dekat dengan sekumpulan orang yang juga sedang menunggu makanan.  sekumpulan itu rekan rekan Ruqi yang mengundang makan malam. Ada hal penting yang akan mereka biacarakan, meski sebagian sudah tersampaikan sebelum Ruqi datang.

Beberapa sorot mata memperhatikan kedua laki-laki yang dibawa Ruqi.Sangat jarang seorang Ruqi bersama anak laki-laki yang tidak dikenalnya, dan saat itupun Ruqi tak memperkenalkan mereka kepada sekumpulan orang-orang itu.

Selang sekitar sepuluh menit, Nugi datang. teman-teman bersorak dan tertawa. Seperti yang tadi kita bicarakan, Nugi orang yang cukup populer. Putra dan Shougi bercakap dengan bawa Jawa, jelas Ruqi tidak faham. Ketika sorak terdengar Ruqi melihat kearah Nugi yang masih berdiri dan menjawab beberapa pertanyaan yang terlontar.

Ruqi sudah lima tahun mengenal Nugi, dimuka Nugi memang menampakan pesona yang cukup untuk menarik perhatian para wanita. Selain itu Nugi juga seorang multitalenta. Profesinya sekarang adalah seorang jurnalis disebuah perusahaan media. Selain itu setiap malam pukul 19.00 sampai 21.00 ia menjadi penyiar di salah satu radio remaja lokal.

Konten yang ia bawakan sekitar dinamika-dinamika yang sering dialami oleh seorang remaja. Apapun itu. Kadang ia juga mengisi seminar di acara-acara kampus dan mendapat proyek-proyek tertentu, kadang-kadang Ruqi sulit menghubunginya.

Setahun setelah mereka saling mengenal, Nugi meminta Ruqi untuk bersama mengelola website berita sampai sekarang website itu masih beroprasi hanya saat ini Ruqi maupun Nugi tidak pernah sempat untuk mengelolanya kembali. Ruqi menjadi pimpinan sementara menggantikan Nugi, sementara Nugi akan fokus dengan pekerjaannya saat ini.

Nugi seorang yang sering bergunta ganti pasangan, tapi hubungan mereka hanya sekedar mengisi kekosongan dihati Nugi. Ruqi menjadi salah satu perempuan yang sering mendengar keluh kesahnya, kadang sesekali Nugi mengenalkannya pada Ruqi. Sebagai rekan kerja di media yang mereka kelola Ruqi dirasa pantas untuk membantu Nugi memutuskan setiap kebimbangan.

Pernah suatu hari ketika Nugi berkerja sebagai online marketing untuk start-up kaos distro serta menjadi freelancer di majalah tertentu. Sementara itu ia masih harus menyelesaikan tugas akhirnya. Terbayang pikiran rumit yang dirasakan Nugi setiap harinya. Pekerjaan paruh waktu yang mengambil seluruh perhatiannya, tentu tugas akhir pun tak kunjung ia dekati apalagi berusaha membereskannya.

Ditambah ada hastrat naluriah seorang laki-laki untuk memiliki pasangan hidup. Fitrah itu menguat menjadi niat dan membuatnya ingin segera menikah. “Kau yakin?” dua kata itu sangat sering diucapkan Ruqi ketika Nugi sedang menceritakan kegalauannya.

“Ingat kata-kataku Nugi, Laki-laki memiliki kebebasan dalam memilih jalan hidupnya, berbeda dengan anak perempuan. Sampai aku pernah berfikir ‘kenapa aku tidak dijadikanNya anak laki-laki, supaya aku bisa membuat jalanku sendiri’ sementara kau, kau selalu bertindak tergesa-gesa, terutama dalam urusan mencari seorang istri. Kau tak sadar, jangankan mengurusi keluargamu nanti. Tugas akhir kuliahmu pun belum bisa kau selesaikan. Akan ada banyak masalah yang bermunculan.” Nugi agak menunduk, seperti anak yang sedang dimarahi mamah tiri.

“Dan sekarang kau bilang padaku akan keluar dari kelompok ini? Kelompok yang kau buat sendiri, dan kau percayakan aku didalamnya. Dan parahnya lagi kau meminta aku untuk mengelolanya. Lalu ketika aku bilang aku akan menerimanya dan kemudian akan aku bubarkan kelompok ini, kau mengeluh dan memohon untuk tidak melalukan itu. Seperti ingin membuang seorang anak tapi kau masih ingin anak itu menuruti kata-kata mu. Itu tidak adil”

Nugi tak menanggapi dengan satu katapun, perkataan Ruqi banyak benarnya. Suatu hari tak lama setelah itu, Nugi meminta pendapat Ruqi tentang tawaran kerja baru dengan gaji yang tetap dan lumayan tinggi untuk ukuran mahasiswa tingkat akhir. Ruqi menyarankan Nugi untuk meninggalkan pekerjaan yang serabutan itu, dan memutuskan untuk fokus pada tawaran pekerjaan yang didapatnya. “Dan jangan lupa, tugas akhir tetap dikerjakan, serta aku pastikan kau tetap peran di Media ini. Meskipun kau meminta aku sebagai pemimpin, ini akan bersifat sementara. Direktur sementara”. Tegasnya. Ketika Nugi lulus nanti, Ruqi akan dengan senang hati menyerahkan jabatannya kepada Nugi.

Hampir pukul sepuluh malam, Ruqi bersama kelompoknya berdiskusi permasalahan yang sedang terjadi. Sambil menjamu kedua tamu yang baru ia kenal. Ruqi dan Shougi mengenal dengan tidak sengaja, seseorang yang mengetahui keduanya mengenalkan Ruqi kepada Shougi sebagai seseorang yang tinggal menetap dikota itu, dan barangkali keberadaan Ruqi akan cukup berguna untuk perantauan Shougi.

Shougi ke kota itu untuk sebuah kepentingan, yang dari kepentingan itu muncul alasan-alasan lain yang harus terpenuhi. Pada malam yang cukup larut mereka semua meninggalkan kedai termasuk Putra dan Shougi. Ruqi menawarkan mereka untuk mengantarkan mereka ke apartemen yang mereka tinggali saat ini. Tapi mereka menolak karena alasan sungkan.

Pada akhirnya Putra dan Shougi memesan ojek online. Ojek online memang sudah tidak asing diperkotaan. Mereka berpisah, kehawatiran Ruqi mereda ketika Shougi mengabarkan bahwa mereka telah sampai di apartemen.

Shougi belum jua tertidur, ia masih mengirimi pesan pada Ruqi, selain ucapan terimakasih. Shougi tak segan untuk membicarakan banyak hal, sampai pada suatu kesepakatan bahwa besok pagi akan bertemu di hari minggu yang segar.

Ruqi meng-iya-kan, padahal sebenarnya seharusnya besok ia akan pergi ke Jakarta bersama Rivan. Salah seorang rekan dalam proyek sosial. Tapi Rivan tak kunjung menghubunginya lagi. Ruqi menjadi gengsi bila harus menanyakan kesediaannya untuk pergi ke Jakarta, yang pada akhirnya sampai pagi tiba Rivan tak juga menghubunginya. Dengan begitu Ruqi memiliki keputusan bulat, bahwa besok ia akan menemani Shougi dan temannya berkeliling kota.

Tidurnya akan sangat nyenyak, sebab kantuk sudah menyerang dan tak mampu membalas pesan dari Shougi. Sampai detik ini, Ruqi tak menghawatirkan tentang asal usul Shougi. Apa yang membawanya ke kota ini, kenapa temannya merekomendasikan ia untuk menghubungi Ruqi. Padahal banyak anak laki-laki di forumnya yang juga tinggal di kota itu.

Apa yang menjadi tujuan Shougi sebenarnya.

 

-------------------

Sumber gambar https://www.collegedekho.com/

  • view 194