Pertemuan dengan Shougi [1]

Adnan Sayf
Karya Adnan Sayf Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Oktober 2016
Pertemuan dengan Shougi [1]

Ruqi melaju pada malam minggu, jalanan agak padat. Hari itu ia tidak pergi kerumah siswa SMP yang ia ajari mengaji. Anak manis itu sakit terkena asma, sehingga Ruqi menganjurkan ia untuk beristirahat dulu beberapa hari, lalu di hari senin mereka bisa bertemu seperti biasa.

Ruqi menjalankan motornya agak terburu-buru, banyak orang yang akan ditemuinya di tempat biasa. Tempat dulu Ruqi ketika masih menjadi mahasiswa, nongkrong, berdiskusi atau sekedar meluapkan emosi.

Pesan masuk ke ponselnya, tampak telinga menjadi peka, terlebih hasrat untuk membuka pesan begitu kuat. Ia meminggirkan motornya dan membuka pesan masuk. Seseorang tak bernama mengirim pesan.

“Mbak. Sedang dimana?” Melihat riwayat percakapan mereka Ruqi ingat. Pesan itu dari Shougi. Laki-laki yogya yang menghubunginya hari kamis lalu.

Merasa sangat khawatir, sebagai seorang pribumi Ruqi merasa teman-teman yang merantau ke kotanya, menjadi tanggungjawabnya. Tak lama dari itu, Ruqi menelephon nomor tersebut, Shougi mengangkat telphonnya tak beberapa lama.

“Kamu dimana?” tanya Ruqi penasaran. Shougi bertanya balik tanpa menjawab pertanyaan Ruqi, Ruqi lantas menjawab, masih dalam keadaan khawatir. Setelah percakapan itu selesai, Ruqi memutuskan untuk pergi ke tempat Shougi berada. Mereka akan bertemu di tempat yang telah disepakati.

Shougi meminta Ruqi untuk duduk dan rehat, Putra membeli tiga botol minuman mineral untuk bertiga. Putra adalah teman Shougi, mereka tak sengaja bertemu dikota yang sama. Dan malam ini mereka bertemu dengan Ruqi, mengaku teman Shougi, padahal malam itu adalah malam pertama mereka bertemu.

Ya Tuhan, episode macam apalagi yang harus aku jalani kali ini. Aku harus berperan seperti apa supaya mereka bisa menerima kehadiranku. Batin Ruqi berkecamuk. Tapi wajahnya tampak tenang dan santai.

Saat Ruqi berpikir keras bagaimana cara membawa mereka pergi, sementara Ruqi hanya membawa satu motor dan mamang ojek yang tak kunjung mau menerima penumpang. Shougi mengambil gambar dirinya tanpa sepengetahuannya. Ruqi sadar foto nya terunggah di ruang berkumpul virtual.

“Hey Shougi, kau mengunggah gambarku? Kenapa?” Ruqi tak penampkan kemarahan, ia hanya bingung. Jelas itu perbuatan iseng.

Shougi hanya menggeleng, sambil sedikit menahan tertawa. Rupanya Shougi hanya ingin menggodanya saja. Ruqi kembali disibukan dengan pikirannya untuk mencari solusi. Putra hanya dia dengan menahan malu yang sangat dalam.

Putra, seorang introvert yang sangat tampan. Wajahnya tidak sama sekali menunjukan kalau ia adalah seorang yang sangat culun. Wajahnya putih, matanya cerah berbinar senyumnya lepas, ditambah ia memakai kacamata dengan frame penuh. Itu menambah kesan kalau ia termasuk orang yang cerdas.

Sementara Shougi duduk berhadapan dengan Ruqi, ia tampak santai dan agak kurang peduli. Ia seperti sudah memasrahkan diri dan sesekali menggoda Ruqi yang tampak cemas dan bingung. Shougi memiliki badan yang agak tinggi dari Putra, lebih berisi dan padat.

Shougi memiliki wajah agak kecoklatan, rasanya betah bila memandangnya, sesekali Ruqi mencuri pandangan kepada Shougi. Shougi adalah porsi yang pas untuk menjadi seorang kekasih yang bisa dipamerkan.

“Tunggu.. tunggu” Ruqi bereaksi spontan.

“Ada apa Mbak?” tanya Shougi, Putra hanya memandang Ruqi menunggu jawaban

“Ada temanku yang bisa diandalkan. Aku akan menghubungi, mungkin ia bisa menyeganya untuk lewat ke sekitar tempat ini untuk membawa Putra”

Shougi sebenarnya ingin mencegah, karena takut merepotkan. Tapi Ruqi sudah menelephon temannya dan memintanya untuk mengijinkan putra untuk menumpang. Sementara Putra dengan temannya Ruqi, Ruqi akan berangkat dengan Shougi.

“Beres!” kata Ruqi mantap, ia mengancungkan jempol tanda ‘aman’. Putra harus menunggu di shelter bis yang agak jauh dari tempat mereka berkumpul. Temannya akan menjemputnya disana.

“Nanti temanku akan berhenti disini, aku sudah berikan ciri-ciri agar ia dengan mudah bertemu denganmu” Ruqi tampak puas tapi juga enggan meninggalkan Putra sendiri disana. Tapi Ruqi harus kembali ketempat semula, Shougi menunggu disana bersama tas dan ponselnya yang terpasang arus listrik.

“Mbak, dia teman Mbak?” Putra pada akhirnya berbicara, tapi dimulai dengan pertanyaan yang tak penting, atau pertanyaan untuk memastikan, atau pertanyaan karena ia tak benar-benar percaya kalau yang datang itu hanya seorang teman.

“Iya, teman dekat” Ruqi pergi dan memberikan pesan agar tetap berada disitu. Ruqi berjalan dengan cepat menembus angin malam dan keributan malam minggu.

Shougi terlihat sedang bercapakap denang seseorang melalui ponsel, Ruqi tersenyum, ia merasa senang bisa bertemu dengan Shougi, entah kenapa. Perawakan Shougi dari belakang sangat berwibawa dan karismatik.

Ketika duduk mengunggu Shougi menyelesaikan dialog di telephon. Ruqi kepikiran dengan pertanyaan Putra tadi. Teman? Hanya teman kah? Sudah hampir lima tahun kami dekat.walaupun seorang mahasiswa tubuhnya kecil seperti anak SMP. Dulu Ruqi sering mencemoohnya, dan sering membawa makanan kesukaaannya. Ruqi selalu bilang. “Nih, buat kamu biar cepet gede”. Laki-laki itu tak pernah menganggap serius perkataan Ruqi, ia hanya peduli dengan makanan yang dibawanya. Dan sampai saat ini pun, mereka masih berhubungan dalam dua status yaitu rekan kerja dan sekedar teman.

 

-----------------------------------

Sumber gambar: www.infobdg.tumblr.com

  • view 139