Pasar Malam

Adnan Sayf
Karya Adnan Sayf Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Agustus 2016
Pasar Malam

Di pasar malam. Seorang gadis berteriak, teriakannya memeluk erat suasana malam itu, matanya menatap langit gerimis. Butiran air langit membasahi bajunya hingga terasa berat karena air yang terserap terlalu banyak. Diantara keramaian itu, tak ada seorang pun yang mau mendekatinya, mereka hanya ketakutan.

Kau bisa membayangnya seorang monster yang marah karena cintanya ditolak orang seorang putri raja kemudian ia berteriak mengaung seperti kawanan serigala hutan. Ya begitulah kira-kira yang dilakukan gadis itu.

***

Gadis SMP itu menggandeng lengan ayahnya, tangannya ia lingkarkan disiku sang ayah. Ayah tak keberatan, gadis SMP mengoceh selama di pasar malam, ayah diam saja tak menanggapi, tapi gadis tetap merasa senang dan sangat bahagia. Orang-orang di pasar malam berjalan-jalan dengan ritme kecapatan yang berbeda-beda, mereka mencoba beberapa wahana, memberi kembang gula atau sekedar lihat-lihat saja.

Gadis itu hanya berkeliling di pasar malam, ia berputar-putar tanpa melakukan hal lain. Ia hanya mengobrol dengan ayahnya itu, dan mengomentari beberapa hal yang lucu. Ayah masih diam.

“Lihat lah, bagaimana ia menangis? Sementara Ibunya tak mau memberikannya uang. Lalu kenapa mereka datang kesini jika bukan untuk menghabiskan uang orang tuanya?” gadis itu berjalan-jalan lagi, senyumnya menyirat banyak kebahagiaan sekaligus kengerian untuk orang-orang disekitarnya.

Sebagian orang memandangnya aneh. Mungkin karena gadis itu terus memutari pasar malam atau mungkin gadis itu terlalu banyak komentar. Yang jelas orang-orang disana tak ada yang berani mendekatinya.

Kemudian seorang satpam menghampirinya. Memintanya untuk pergi dari pasar malam itu. Lalu gadis itu berkata “Kenapa kau menyuruhku pergi? Bukankah siapapun boleh datang kesini?” satpan itu bingung. Ada benarnya juga gadis ini. Akhirnya satpam itu membiarkan si gadis berkililing lagi.

Seseorang menepuk pundak si gadis dari belakang. Gadis itu menoleh dan tersenyum. “Hai, kau ada disini juga?” teman sekelasnya menyapa. Ia tinggal didekat pasar malam itu, dan tak lama berkeliling bertemulah ia dengan si gadis dan mereka berjalan bersama. Membeli kembang gula, ice cream, dan menaiki gondola. Si gadis tidak ikut, karena ia merasa takut menaikinya, ia pernah muntah saat ia masih SD dan itu sangt memalukan.

Gadis hanya melihat temannya itu berputar dari dekat kemudian menjauh, ia menatap dalam keatas, melihat gemerlap gondola yang sengaja dihias seperti itu agar banyak menarik perhatian banyak orang. Gadis itu masih menengadah. Tatapannya menjadi kosong. Tak seorangpun memedulikan.

Ada yang ia lupakan. Entah apa, sepertinya ada yang hilang. Tapi apa? Tatapannya tak berekspresi, ia masih mematung disitu, temannya sudah turun dari gondola. Ada yang ia lupakan. Temannya berjalan menghampirinya, sambil senyum-senyum sendiri, menarik tangan si gadis dan tertarik mundur  mengikuti temannya itu. Tatapannya masih kosong, pasar malam menjadi abu sepenuhnya. Ketika hendak membeli gulali dari seorang pedagang, sang teman merasa tak melihat wajah gadis yang ceria. Ia pun bertanya, si gadis menjawab. “Aku melupakan sesuatu” wajahnya menjadi sedih, muram. Seketika itu ia tampak tua. Sang teman tidak terlalu memedulikan hal itu, dia kira apa pentingnya suatu yang terlupa itu, nanti juga ingat.

Seperti kita telah melupakan buku yang kita lupa menyimpannya dimana, ketika kita tidak memedulikannya, buku itu akan kembali. Entah ditempat yang memang kita sendiri yang meletakkannya disitu atau Ibu yang menemukannya selagi Ibu membereskan rumah.

Teman itu membeli dua buah gulali, gulali hitam berbentuk bulat besar, dengan taburan kacang diletakan secara acak, ditusukan ke bilah bambu yang telah dipotong-potong kecil, besarnya menyesuaikan besar gulali, teman itu memberikan satunya kepada si gadis.

Seperti hendak kerasukan, gadis itu terperajat, ia ingat suatu hal penting, yang telah ia lupakan itu.  Tanpa berbasa-basi,  gadis itu lari dan menjatuhnya gulalinya ketahan, tanah itu menempel menjadikan gulali tak mungkin dipungut, meskipun belum lima menit.

Gadis itu berlari kepinggir jalan, dan berteriak menantang langit, ia mencari  kunci motor, dan menyalakan mesin, ia memakai mantel pelindung hujan, karena hujan sudah kian deras. Kepalanya pusing, menjerat urat-urat.

Sampai ia tiba di rumah, ia memakirkan motornya dan menaruh helm sembarang. Masih hujan saat itu, tapi tidak terlalu besar. Sang gadis berjalan tak seimbang, kepalanya sangat sakit. Ia bicara dengan hening pada waktu sepuluh lebih duapuluh menit, “Ayah, maaf aku melupakanmu” tatapannya kosong, seperti sedang melihat dimensi lain, air dimatanya tak mampu menampung dan terjatuhlah butiran-butiran itu, jalannya masih tak beraturan seperti seorang pemabuk.

“A...” lisannya tak mampu banyak bicara lagi. “A... yah” matanya tertutup. Tubuhnya terjatuh, masih mengenakan mantel hujan berwarna hitam. Gadis itu seperti tertidur, dijalan pavling blok. Langit masih belum menghentikan air yang turun ke bumi. Malam itu sangat sepi. Tak ada orang yang melintas. Harus menunggu subuh jika ingin aman.

  • view 187