Waktu untuk Keluarga

Adjie Silarus
Karya Adjie Silarus Kategori Renungan
dipublikasikan 10 Juli 2017
Waktu untuk Keluarga

Kalau memang orang tua menganggap anaknya lebih penting daripada pekerjaannya, sesibuk apapun pekerjaan, orang tua sebaiknya berusaha untuk meluangkan waktu bersama anaknya.

Seperti yang terjadi pada seorang ibu yang menghampiri saya usai sesi latihan hening. Perlahan air mata menetes di kedua pipinya.

Ia ternyata teringat saat berada di situasi yang harus memilih antara anak dengan bekerja. Dan setelah mampu menggaji baby sitter, ia sering lebih memilih bekerja. Padahal sudah di luar jam kerja. Berarti secara tidak langsung ia mengatakan kepada anaknya, ‘Bunda nggak bermain sama kamu, Nak ... karena kamu bukan prioritas Bunda. Bunda nggak menggendongmu, Nak ... karena kamu bukan prioritas bunda’.”

Sambil terbata-bata, ibu itu berkata,
"Selama ini saya merasa anak-anak saya adalah prioritas utama dalam hidup saya. Saya bekerja keras, tanpa ampun, dengan alasan mencari nafkah buat mereka. Tetapi ternyata ... tidak. Apa yang saya lakukan sehari-hari ternyata menjadikan mereka bukan prioritas saya.”
Tetesan air matanya tak terbendung, semakin deras, dan ia mengusapnya dengan tisu yang dari tadi sudah ia genggam.
Saya hanya diam. Tidak melarangnya menangis. Saya memberinya waktu menangis. Saya menemaninya dalam keheningan.

Waktu itu selalu ada. Hanya saja waktu itu perihal pilihan, terkait prioritas.
Kalau seseorang menganggap keluarga lebih penting daripada pekerjaan, namun kenyataannya pekerjaan yang ia lakukan malah menjauhkan dirinya dari keluarga, itu tandanya kalau yang ia lakukan sudah kelewat batas.

Yang perlu diingat adalah, gunakan waktu sebijak mungkin, sehingga waktu menjadi sahabat. Bukan menjadi sesuatu yang terus mengejar. Dengan seperti ini, waktu adalah teman seperjalanan yang begitu dekat di hati.

  • view 142