Teruntuk Perempuan yang Ditinggalkan ...

Adjie Silarus
Karya Adjie Silarus Kategori Inspiratif
dipublikasikan 02 Maret 2017
Teruntuk Perempuan yang Ditinggalkan ...

Di linimasa Facebook, pada hari Minggu, saya membaca curahan hati mbak Nilam Sari tentang keputusannya untuk tidak bisa lagi menjalani biduk rumah tangga. Oleh suaminya, dulu saya diperkenalkan dengannya di acara Wirausaha Muda Mandiri. Mereka berdua gigih membangun bisnis Kebab Baba Rafi.

Meski dipastikan saya bukan perempuan, tapi kurang lebih saya bisa memahami perasaan mbak Nilam Sari, karena saya terlahir dari seorang perempuan yang ditinggalkan suaminya. Saya ikut merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan, hati yang sakit, batin yang terluka, jatuh terjungkal, berjuang bangkit, tapi terinjak lagi, lagi, dan lagi, bahkan seolah dipaksa untuk tak percaya lagi akan ketulusan cinta. Saya tahu perihnya ditinggalkan. Sejak saya kecil saya sudah terlatih ditinggalkan, dan selama ini, saya berulang kali juga diberi berkah mengalaminya lagi.

Saya menuliskan ini untuk siapapun yang ditinggalkan, dan semua teman yang sedang berjuang membalut hatinya yang telah patah, untuk sembuh.

Menyembuhkan hati yang telah tersakiti itu tidak mudah, bahkan sangat tidak mudah. Bisa terjadi juga, di tengah menyembuhkan, sakitnya malah lebih terasa. Belum lagi ditambah rasa sendirian, kesepian, putus asa, dan terjerat. Rasa sakit ini memang sangat nyata, dan seperti rumus yang sangat rumit.

Jadi, butuh niat dan ketangguhan yang besar untuk sembuh. Karena, bagaimana bisa luka batinmu sembuh, kalau kamu tidak punya niat untuk menyembuhkannya? Bagaimana kamu bisa bertemu dengan teman-teman yang membantumu menyembuhkan sakit hatimu, kalau kamu terus mengurung diri dan tak berani untuk bersuara?

Maaf, kalau pertanyaan itu menghadirkan ketidaknyamanan baru di tengah rasa sakit dan perjuangan untuk sembuh. Tapi memang niat dan ketangguhanlah yang kita butuhkan.

Lalu, sesakit apapun hatimu karena ditinggalkan, jangan pernah merasa sendirian.

Satu hal penting yang perlu kita sadari adalah meski kita merasa sendirian, sebenarnya kita tidak pernah sendirian. Karena ketika 1 orang mendoakanmu atau sejenak mengingatmu, ia telah menemanimu.

Jadi, kita bisa saling menemani dengan saling mendoakan. Dan itulah yang kita butuhkan, karena batin kita sebenarnya sama-sama terluka. Kita sama-sama menderita. Kita butuh saling menemani di tengah sakit, di antara keputusasaan, di dalam kesepian.

‘Kan ada orang yang hidupnya selalu gembira?

Ini bukan sekadar celetukan saya. Setiap manusia yang hidup di semesta ini selalu mendapatkan jatah untuk merasakan sakit hati, putus asa, dan kesepian, sesuai takaran waktunya masing-masing.

Karena hanya melalui sakit hati ditinggalkan, kita menjadi lebih belajar menghargai arti pertemuan. Ketika sendiri, dalam kesepian, kita lebih disadarkan akan kebersamaan dengan semuanya, termasuk denganNya.

Perasaan sendirian, terpisah dari yang lainnya, itu hanyalah ilusi. Iya, itu ilusi yang seringkali kita anggap nyata. Tetapi itu tidak benar.

Apa buktinya?

Saya mengajakmu untuk melihat hidup ini dari sudut pandang yang lebih luas, tidak hanya sesempit pernikahan dan perceraian.

Begini … setiap kita ini terhubung dengan jutaan, bahkan miliaran manusia. Kamu membaca tulisan ini karena jaringan internet, dan entah kamu sadari atau tidak, jaringan tersebut dihasilkan oleh suatu perusahaan yang melibatkan ratusan ribu orang untuk bekerja, sehingga jaringannya bisa kamu gunakan. Sebelum baca tulisan ini, kamu minum air, juga bisa kamu minum karena keterlibatan ratusan ribu orang. Kamu menikmati makanan, juga disajikan, dimasak, dan bumbu-bumbu dapurnya ditanam oleh ratusan ribu orang. Jalanan yang kamu lewati setiap hari juga dibangun dan dirawat kondisinya oleh ratusan ribu orang. Barang-barang yang kamu gunakan untuk keperluan sehari-hari bisa sampai di depanmu karena alat-alat tranportasi (kapal, truk, mobil, pesawat), juga diproduksi dan dijalankan oleh ratusan ribu orang. Kamu memakai baju, menggunakan gadget, duduk di kursi, semuanya dihasilkan dan bisa sampai di tanganmu karena jasa ratusan ribu orang.

Setiap kita terjalin dengan miliaran orang, dan semua miliaran orang itu masing-masing juga terjalin dengan miliaran orang lainnya lagi, dan seterusnya. Meski tidak secara langsung, tapi kenyataannya, setiap manusia di semesta ini saling terjalin dan menemani. Kita bisa menjadi seperti yang kita inginkan pun tidak mungkin terlepas dari bantuan sekian banyak manusia. Kita terjalin untuk berbagi gagasan, belajar satu sama lain, saling melayani, termasuk berbagi perihal rasa sakit karena ditinggalkan.

Saya percaya, inilah salah satu keajaiban di hidup ini. Setiap kita ditopang oleh keajaiban, berupa jalinan tak berkesudahan dengan setiap manusia di semesta ini. Wajar kalau kadang masih merasa sendirian, tapi sadari itu hanyalah sebuah ilusi.

Jadi, teruntuk siapapun yang merasa sendirian karena ditinggalkan, ingatlah untuk tidak merasa sendirian.

Selain itu, untuk menyembuhkan luka batin karena ditinggalkan adalah dengan mengubah arah pandangan, dari melihat sakit yang kita alami sendiri, ke sakit yang dialami orang lain.

Siapa lagi di sekitar saya yang juga terluka batinnya karena ditinggalkan? Bagaimana saya bisa membantunya? Dan berbagi energi cinta? Bagaimana saya bisa meredakan luka batinnya?

Dengan tidak terlalu larut ke dalam diri sendiri, tapi mengubah arah pandangan ke luar diri, yaitu dengan membantu orang lain yang juga terluka batinnya karena ditinggalkan, kita dapat mengisi celah hati kita yang patah dengan berbagi cinta kepada orang-orang yang membutuhkannya. Tak mengharapkan balasan apapun, hanya berbekal niat membuatnya bahagia. Dengan jalan indah seperti ini, hati kita pun pulih dengan sendirinya karena cinta. Kepercayaan kita akan cinta yang sudah terkoyak menjadi terajut kembali. Saya percaya, ini pun sebuah keajaiban yang tersedia dalam hidup ini.

Sederhananya, yang benar-benar bisa menyembuhkan seutuhnya ia yang telah terluka karena ditinggalkan adalah dirinya sendiri. Melalui tulisan ini, saya hanya berniat mengingatkan akan 2 keajaiban yang selalu tersedia:

1. Cinta dan bahagia yang tercipta karena membantu sesama yang mendapatkan berkah serupa berupa pengalaman ditinggalkan, dan
2. Perasaan sendirian hanyalah ilusi. Jalinan diri kita dengan setiap manusia berjumlah miliaran selalu terjadi setiap saat di semesta ini.

Sekarang ini, dalam keheningan saya berniat menemani setiap orang yang terluka karena ditinggalkan … sehingga kita bisa saling berbagi energi cinta, dan saling mengingatkan bahwa sesakit apapun hati ini karena ditinggalkan, jangan pernah merasa sendirian.

- - -

Tulisan berikut saya salin dari tulisan Aulia Halimatussadiah​ di: http://kamantara.id/post/ini-bukan-cinta-belajar-dari-nilam-sari-tentang-tanda-tanda-kekerasan

Jika kamu merasa mengalami kekerasan emosional dan sedang berusaha ingin keluar atau mencari pertolongan, you are not alone! Coba hubungi kawan-kawan yang akan membantumu di:

Unit Pengaduan Rujukan

Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan)

(Kasus Kekerasan Dalam Pacaran, memiliki jejaring di seluruh Indonesia. Dengan melakukan pengaduan, Komnas Perempuan dapat merujuk kasus ke lembaga layanan sesuai kebutuhan)

Alamat: JL. Latuharhary No.4B, Menteng, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10310

Telp. (021) 3903963

Yayasan PULIH

(Layanan Psikologis)

Telp. (021) 7823021/(021-78842580)

Email : pulih@pulih.or.id / pulihfoundation@gmail.com

Yayasan PULIH

(Layanan Konseling Online)

Email: pulihcounseling@gmail.com

Subject: pulihcounseling

Nama/inisial, usia, jenis kelamin, isi cerita, keluhan/curhatan yang hendak diceritakan

Pijar Psikologi

(Konseling online)

Web: pijarpsikologi.org/konsultasi-2

Yayasan Lembaga Bantuan Hukum APIK Jakarta

(Layanan Bantuan Hukum)

Alamat : Jl. Raya Tengah No.31 Rt. 01/09, Kramat Jati, Jakarta Timur 13540

Telp. (021) 87797289

  • view 167