Tidak Perlu Berpikir Positif

Adjie Silarus
Karya Adjie Silarus Kategori Inspiratif
dipublikasikan 28 September 2016
Tidak Perlu Berpikir Positif

Catatan Sederhana: Sebuah Pelukan Untuk Diri Sendiri - Self Hug

Kebahagiaan berkaitan erat dengan kemampuan seseorang untuk menerima dirinya apa adanya, atau dikenal dengan istilah: self-acceptance. Ini suatu pelajaran kehidupan, dan setiap manusia perlu percaya akan kenyataan ini. Kemampuan menerima diri berdampak pada berbagai ruang kehidupan.

Pertanyaan selanjutnya adalah:
Bagaimana cara belajar menerima diri apa adanya?

Ada berbagai cara yang bisa membantu belajar menerima diri apa adanya secara utuh, bagian diri yang baik, juga yang buruk.

Salah satunya adalah dengan cara “sadar tapi santai”. Berbeda dengan keadaan yang terus dibombardir gangguan, termasuk gangguan media sosial. Berbeda juga dengan keadaan yang sangat fokus berkonsentrasi, sampai mengernyitkan dahi. Sadar tapi santai adalah menyadari dengan lembut setiap pikiran, perasaan, dan rasa sakit. Menyadari ketika mulai membandingkan, menghakimi, dan sebagainya. Suatu kesadaran akan keberadaan diri, dan arus peristiwa yang terjadi di suatu waktu. Termasuk kesadaran akan keramaian pikiran, kegaduhan perasaan, dan segala yang berasal dari luar diri.

Sadar tapi santai dapat dilatih dengan memejamkan mata sejenak. Bukan mengusir pikiran yang datang. Bukan pula berusaha keras fokus berkonsentrasi pada napas. Sadar tapi santai berarti dengan santai hanya menyadari pikiran dan perasaan yang datang, yang tak lama kemudian itu semua pun pergi. Menyadari apapun yang dirasakan tubuh. Pikiran maupun perasaan negatif akan datang. Tidak apa-apa. Tidak perlu berusaha mengubahnya menjadi pikiran dan perasaan yang positif. Tidak perlu gegabah mengusirnya atau menyangkalnya. Tidak perlu melarikan diri darinya. Berlatih hanya menyadarinya, mengamatinya saja. Menemani.

Latihan ini disarankan dilakukan setiap hari selama 5 menit saja. Atau bisa lebih lama kalau dirasa bermanfaat baik.

“Kita berusaha keras untuk mengubah, mengusir, menyangkal, melarikan diri dari apapun yang tidak sesuai keinginan,
hingga lupa kebahagiaan sesungguhnya tercipta ketika mampu menerima, tak hanya yang menghadirkan gelak tawa, tapi juga yang menumpahkan air mata.”