Kurang Ajar

Adjie Silarus
Karya Adjie Silarus Kategori Inspiratif
dipublikasikan 13 September 2016
Kurang Ajar

Iya, dua kata itu yang terucap dalam hati saya ketika pertama melihat karya teman saya ini. Sebuah ungkapan kekaguman spontan dari saya.

Di suatu waktu luang, saya iseng melihat karya-karya seni, termasuk ilustrasi gambar, melalui kotak pencarian di Instagram. Tanpa sengaja, saya terdampar di akun Instagram bernama [at]karikatoer dan langsung jempol saya klik tombol follow. SIngkat cerita kami berkenalan, bertemu, dan bukan kebetulan, ternyata pemilik akun tersebut adalah salah satu pembaca buku saya. Irul, begitu nama panggilannya, memperkenalkan saya kepada Scribble, yaitu gaya ilustrasi gambar yang menghiasi karya-karyanya.

Sepintas terlihat ngawur, coret-coretan tak beraturan, berantakan, tetapi ternyata menampilkan bentuk indah yang bisa dipahami. Inilah yang menyita perhatian saya. Mengganggu kenyamanan pikiran saya. Dan bagi saya, sesuatu layak disebut seni ketika mampu mengganggu kenyamanan pikiran. Berantakan yang menghadirkan kesempurnaan, mengingatkan akan sebuah cerita.

Terdapatlah sebuah kuil yang mempunyai taman dan menyandang gelar taman terindah di antara semuanya. Penataannya yang elok nan indah selalu berhasil membuat pengunjungnya kagum.

Seorang biksu tua datang berkunjung, dan bersembunyi di balik semak-semak, untuk mengetahui rahasia taman terindah itu. Dia melihat seorang biksu muda muncul dari kuil dengan membawa dua keranjang anyaman untuk berkebun. Berjam-jam, biksu muda itu dengan hati-hati memungut setiap daun dan ranting yang berjatuhan. dengan penuh perhatian, dengan hati-hati, Dengan penuh keterampilan, menaruh setiap daun dan ranting pada tempat yang semestinya di taman itu.

Perhatiannya terhadap hal-hal rinci sungguh tak tertandingi. Penguasaannya atas seni menyusun bentuk dan warna sangat luar biasa. Pemahamannya akan keindahan alaam begitu tinggi. Saat dia menyelesaikan pekerjaannya, taman itu terlihat apik sekali.

Kemudian sang biksu tua melangkah masuk ke dalam taman. Dari balik senyum gigi ompongnya, dia memberi ucapan selamat
kepada si biksu muda.

“Ketekunan Anda layak dipuji setinggi langit. Dan taman Anda…Yah!
Taman Anda nyaris sempurna…”

Wajah biksu muda itu berubah pucat.
“Ma…mak…maksud Anda apa?” dia tergagap ketakutan.
“Ap… apa yang Anda maksud ‘nyaris sempurna’?
dan dia menjatuhkan diri di kaki si biksu tua.

“Ajarkan saya, oh, Sang Bijak! Tunjukkanlah jalannya!”

“Anda benar-benar ingin saya menunjukkannya?”, tanya sang biksu tua.

“Mohon. Tolong, Guru!”

Lalu sang biksu tua melangkah ke tengah-tengah taman. Dia merangkulkan lengan-lengannya yang tua namun masih kuat itu ke batang pohon yang rimbun.

Lantas, diiringi dengan gelak membahana seorang suci, dia mengguncang-guncangkan pohon itu. Dedaunan, ranting dan kulit pohon berserakan dimana-mana, dan masih saja biksu tua itu mengguncang-guncangkan pohon itu. Ketika tak ada lagi dedaunan yang jatuh, barulah dia berhenti.

Si biksu muda terperanjat. Taman menjadi kacau balau. Kerja kerasnya berjam-jam jadi sia-sia belaka. Rasanya dia ingin membunuh biksu tua itu, namun sang biksu tua hanya melihat sekeliling untuk mengagumi hasil karyanya.

Lalu, dengan sebuah senyum yang meluruhkan amarah, dia berkata lembut kepada si biksu muda,

“Sekarang taman Anda barulah benar-benar sempurna.”

Hal yang sama terjadi terutama di dunia kerja. Berupaya sekeras apapun agar rapi, tapi tidak akan bisa selalu rapi. Berantakan juga akan terjadi. Jika pikiran tidak menerima kenyataan, lebih-lebih menyangkal berbekal marah, atau melarikan diri bermodal benci, bisa dipastikan perjalanan karirnya akan dipenuhi stres. Dengan kesadaran ini, berupaya agar segala sesuatunya rapi itu baik, berencana sedemikian rupa juga baik. Tapi jangan sampai itu semua membuat mudah marah dan selalu cemas. Seperti gaya ilustrasi gambar ini, sepintas terlihat berantakan, tetapi ternyata menyajikan keindahan. Demikian juga dengan dunia kerja.