Menggambar Tuhan

Adjie Silarus
Karya Adjie Silarus Kategori Renungan
dipublikasikan 20 Juli 2016
Menggambar Tuhan

Kalau menggambar sesuatu, apakah hasil gambarmu akan sama atau berbeda dengan hasil gambar saya?

Menggambar. Ya, waktu sekolah dulu, ibu guru saya meminta semua murid satu kelas menggambar kupu-kupu. Setelah beberapa waktu berlalu, selesai tidak selesai, bagus tidak bagus hasil gambar kami, kami disuruh berhenti menggambar dan mengangkat kertas yang sudah ada hasil gambar kami masing-masing. Beliau mengelilingi kelas sambil perlahan melihat satu per satu. Saya sekilas menoleh ke teman-teman di kiri kanan saya. Tidak ada hasil gambar kupu-kupu kami yang benar-benar sama. Belum begitu seksama saya mengamati, ibu guru sudah mengatakan, "terima kasih, anak-anak. Semua pintar. Semua hasil gambar kupu-kupunya bagus. Sekarang ibu mau bercerita tentang kupu-kupu ..."
Bagus?
Padahal hasil gambar kupu-kupu kami, kalau sekarang dilihat kembali, banyak yang sangat berbeda dari kupu-kupu yang sebenarnya.
Apalagi gambar saya ... hasil gambar kupu-kupu saya malah menyerupai kecoa. Ya lumayanlah ... kan sama-sama hewan yang diawali huruf K :)

Kita semua tahu kupu-kupu itu seperti apa, tapi mengapa ketika kita diminta menggambar kupu-kupu, hasil gambar kita berbeda, tidak ada yang sama?
Karena yang terjadi sebenarnya adalah kupu-kupu yang kita gambar bukanlah kupu-kupu yang sebenarnya. Tapi kupu-kupu yang kita gambar adalah pikiran kita mengenai kupu-kupu yang sebenarnya.
Jadi ada kupu-kupu yang nyata sebenarnya,
ada kupu-kupu yang ada di pikiran kita masing-masing dan ini sudah berbeda dengan kupu-kupu yang sebenarnya, atau istilahnya sudah terjadi distorsi.
dan ada kupu-kupu yang kita gambar berdasarkan kupu-kupu yang ada di pikiran kita masing-masing dan pastinya kupu-kupu yang kita gambar ini lebih jauh berbeda dari kupu-kupu yang sebenarnya. Distorsinya lebih banyak.

Ibu guru saya mengatakan semua gambar kami bagus, karena memang menjadi percuma kalau mempertentangkan antara hasil gambar kami, toh hasil gambar kami tidak akan bisa mewakili kupu-kupu yang sebenarnya. Menjadi sia-sia juga kalau kami saling mengejek berdasarkan kupu-kupu yang kami gambar.

Betapa sering kita bertentangan, mencaci maki, membenci, bahkan tega sampai menyakiti dan membunuh, hanya karena berbeda gambaran kita mengenai Tuhan.

Cerita pengalaman saya menggambar kupu-kupu mengingatkan kita bahwa kita yang sedang sama-sama berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan, sebaiknya tidak perlu lagi bertentangan hanya karena hasil gambar Tuhan kita tidak sama.
Ada yang mempertentangkannya dengan merasa paling tahu tentang Tuhan secara nyata sebenarnya seperti apa, dan memaksa orang lain mempunyai gambaran serupa. Sedangkan setiap kita mempunyai pengalaman hidup yang unik, pola pikir yang tidak sama, dan agama yang berbeda.
Sudah saatnya kita membuka hati dan pikiran menyadari bahwa, kalau kita saling bertentangan karena berbeda gambaran kita tentang Tuhan, yang kita pertentangkan hanyalah hasil gambaran kita tentang Tuhan, berdasarkan Tuhan yang ada di pikiran kita masing-masing, bukan Tuhan yang nyata sebenarnya.
Yang kita pertentangkan hanyalah Tuhan yang sudah mengalami distorsi yang sangat banyak.
Yang kita pertentangkan hanyalah Tuhan yang sudah sangat jauh berbeda dari Tuhan yang nyata sebenarnya.

Kita pun tak mampu benar-benar memahami kupu-kupu secara nyata sebenarnya, apalagi benar-benar memahami sang penciptanya.
Kita sebagai manusia mengalami keterbatasan kemampuan untuk benar-benar memahami kenyataan yang sebenarnya.

Kamu sudah melihat film Rudy Habibie?

Beberapa waktu lalu, saya melihatnya dan di antara sekian banyak kalimat yang ada di film tersebut, ada satu kalimat yang masih terngiang di pikiran saya sampai sekarang.
Ketika Rudy Habibie sholat di gereja dan ketemu Romo Mangun, Romo Mangun berkata, "Tuhan lebih besar dari tempat ibadah."
Tuhan sangat besar, saking besarnya, Tuhan tidak bisa kita gambarkan.
Hasil gambaran kita mengenai Tuhan sangat, sangat, sangat tidak mewakili Tuhan yang nyata dan sebenarnya.
Lalu ... mengapa kita masih bertentangan hanya bermodalkan gambaran kita mengenai Sang Maha?

  • view 429