#Sumpah Pemuda, 2017 : Kita Muda Kita Beda Kita Kerjasama

Krisna Adizza
Karya Krisna Adizza Kategori Sejarah
dipublikasikan 01 November 2017
#Sumpah Pemuda, 2017 : Kita Muda Kita Beda Kita Kerjasama

#Sumpah Pemuda, 2017 : Kita Muda Kita Beda Kita Kerjasama
 
 
Sumpah tiga paragraf yang dibacakan dalam Kongres Pemuda pada Ahad, 28 Oktober 1928, digedung Oost-Java Bioscoop, Jakarta itu menghentak kesadaran para pemuda dari beragam latar belakang etnis Nusantara. Sebelumnya, mereka terkotak-kotak dalam kelompok pemuda yang bersifat kesukuan. Sumpah tersebut lalu menginspirasi pemuda dan ujung-ujungnya bertransformasi menjadi upaya bersama mencapai kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Seandainya tidak ada sumpah tersebut, barangkali Negara Kesatuan Indonesia tidak terbentuk saat Belanda hengkang angkat kaki dari bumi pertiwi. Yang mungkin terjadi malah terbentuknya negara kecil yang terpisah-pisah. 
 
Kongres Pemoeda II menawarkan membentuk wadah fusi segenap organisasi pemuda, Indonesia Moeda. Usul P.P.P.I dan Jong Indonesia terbentuk saat itu belum dapat diterima oleh seluruh peserta. Tiga tahun kemudian, Jong Java dalam Kongres di Solo pada 28 Desember 1930 - 2 Januari 1931, mulai menerima fusi dalam Indonesia Muda. Boedi Oetomo berfusi dalam Persatoean Bangsa Indonesia (PBI) pada 1931. Dalam konteks ini dapat dipahami kemunculan perkumpulan-perkumpulan awal seperti Sarekat Dagang Islam (1905) yang berubah menjadi Sarekat Islam (1906), Budi Utomo (1908), Indische Vereeniging atau Perhimpunan Indonesia (1908), Paguyuban Pasundan (1913), Tri Koro Darmo (1915) yang berubah menjadi Jong Java (1918) dan melahirkan Jong Isamieten Bond pascakongres(1924). Jong Sumatranen Bond (1917) yang berubah menjadi Pemuda Sumatera, Jong Ambon (1918), Jong Celebes, Jong Minahasa (1919), Jong Batak Bond (1926). Masih banyak lagi perkumpulan pergerakan lainnya.
 
Sebelum republik ini berdiri pada 1945, para pemuda pelopor Angkatan 1928 telah memberi inspirasi kebebasan bagi tumbuhnya keunikan-keunikan suku Nusantara, antara lain dari segi bahasa. 
Maka dari itu sebagai bahasa pergerakan dan perjuangan, bahasa Indonesia tidak sekedar menjadi instrumen. Ia telah meneguhkan dirinya sebagai pemersatu, yang dengan keegaliterannya telah menjadi jiwa bagi kemajuan demokrasi kita.
 
Tidak bisa dibayangkan, bila terjadi konflik di antara kita, kemudian masing-masing kita memilih bahasa lokal sebagai peredam penyelesaian konflik. Alih-alih mendamaikan, kita malah menyulut perpecahan karena bahasa yang kita gunakan adalah "bahasa kami" bukan "bahasa kita".
 
Dengan spirit Angkatan 28, tekad dan gerakan itu mempersempit jarak primordialisme, kesukuan anak bangsa. Perbedaan adalah keniscayaan yang menyatukan. Perbedaan sudah ada sebelum Indonesia merdeka dan sudah dicarikan rumusan jalan keluarnya. Bagaimana dengan zaman kini generasi muda Milenial ? Solusi itu semestinya masih relevan dan Sumpah Pemuda pengejewantahan dalam ucapan dan diwujudkan.
 
Sekarang, semangat ini memang terasa tidak lantang bergaung lagi karena sudah banyak pemuda yang apatis melupakannya. Realitas mengkhawatirkan dengan menguatnya perasaan berbeda yang menjurus kekonflik, seperti munculnya gerakan separatis di Tanah Air sebagai protes para pemuda terhadap ketidakadilan negara di wilayah mereka masing-masing. Padahal keinginan menegakkan hak asasi manusia, anti narkoba, anti ujaran kebencian, kebohongan (hoaks) dan katakan tidak pada korupsi seharusnya menjadi semangat generasi pemuda kini.  
 
Sementara itu, kemajuan teknologi digital pada era globalisasi kini, telah menimbulkan pengaruh destruktif terhadap kehidupan. Kita sedang mengalami proses detradisional isasi, ketika kehidupan sosial tidak lagi dipertimbangkan atas baik dan buruk, pantas dan tidak, akan tetapi mana yang cocok. 
 
Tak ada generasi perubahan tanpa usaha tekad kemauan. Generasi muda bangsa harus sibuk berkarya bukan sibuk menebar kebencian (hoaks), atau hal lain yang memicu perpecahan bangsa. Kita generasi muda harus siap dengan persaingan global dan melanjutkan amanat untuk memajukan bangsa.
 
Bhineka Tunggal Ika, semangat negara ini adalah toleransi. Semangat itu adalah salah satu pembeda Indonesia, karakter penting yang menjadi contoh semua negara. Sejarah selalu dicatat para pemenang. Kalau demikian wahai pemuda, jadilah pelopor wujudkan sifat kreatif, inovatif dan produktif kita kerja sama majukan Indonesia Raya !
 
 
 
 
 
 

  • view 58