Kakek

Aditia Vita
Karya Aditia Vita Kategori Lainnya
dipublikasikan 16 Februari 2016
Kakek

Sabtu, 23 Januari 2016

Pagi itu sebelum berangkat kantor untuk mengerjakan tugas tambahan, aku dan Nindya (teman sekantor) sarapan opor ayam dikaki lima.

?bang.. opornya 2, teh hangat 1, air putih hangat 1. Makan disini bang?

?iya mbak.. tunggu?

Kulihat seorang kakek berpeci, mengenakan sarung, baju yang lumayan lusuh, memakai sandal jepit dan mungkin umurnya sekitar 65 tahunan . Entah apa yang dilakukan kakek tua itu duduk dipinggir jalan tanpa melakukan apapun. Pengemis tetapi ia tidak meminta-minta, tukang parkir tetapi tidak ada kendaraan didepannya. Mungkin kakek tua itu tahu aku memperhatikannya kemudian kakek itu mendekat. Ia kesulitan untuk berjalan, kulihat kakinya sebelah kanan bengkak dekat mata kaki. Ia duduk dipinggir tikar padahal aku, Nindya bahkan penjual opor pun sudah meminta untuk duduk ditikar yang sama dengan kami.

?mbak.. bapak duduk sini saja. Bapak bukan orang gila kok mbak, bapak sedang istirahat, bapak kecapekan, kaki bapak bengkak? cerita kakek tua itu tanda kami tanya lebih dulu.

?bapak dari mana? Kenapa kakinya bisa bengkak pak? tanya Nindya penasaran.

?bapak dari Serang, Purbalingga. Bapak ke Cilacap untuk ketemu anak bapak, hendak bertemu cucu bapak?

?Sudah bertemu anak dan cucunya pak?? tanyaku

?Bapak sudah kerumahnya ternyata rumahnya kosong, bapak sudah muter-muter tanya tetangganya tetapi tidak ada yang tahu keberadaannya dan ini bapak mau pulang tapi kaki bapak malahan bengkak?

?Bapak pulang naik apa? tanyaku lagi

?Bapak mau jalan ke Purbalingga? jawabnya.

Tiba-tiba kuteringat si mbah dirumah yang sudah tua, mungkin umurnya tidak jauh berbeda dengan kakek dihadapanku ini. Membayangkan jika kakek tua itu adalah si mbah dan harus berjalan dari Cilacap ke Purbalingga dengan kaki bengkak.

?bapak sudah makan?? tanyaku

?sudah mbak, tadi abang penjual opor ngasih bapak makan? jelas bapak tua itu.

?kami makan dulu pak? sambung Nindya

Sambil makan aku masih memperhatikan kakek tua itu yang sedang memijit-mijit kaki bengkaknya. Dalam hati berkata ?apa mungkin aku tega membiarkan kakek tua itu berjalan ke Purbalingga dengan keadaan seperti itu? Duh tanggal tua.. Masih ada seminggu lagi tanggal 1-nya?. Kubuka dompet biruku, ? duh 2 lembar?.

Selesai makan kubayar makanan pesenan kami.

?Bang.. Berapa semuanya??

?Rp.16.000 mbak?

?bang.. boleh minta tolong??

??minta tolong apa mbak??

?tolong, kasihkan ini ke Bapak tua itu? pintaku

?kasihkan sendiri aja mbak, yang namanya sedekah lebih baik dikasihkan ke orangnya langsung, jarang-jarang ada orang yang seumuran mbak yang hatinya peka, ayok mbak kasihkan sendiri ya?? pinta penjual opor itu. Kubalas dengan tersenyum.

Aku mulai mendekat ke bapak tua itu, sambil kugenggam tangannya dengan niat ingin bersalaman...

?bapak.. nanti pulangnya jangan jalan ya? Bapak bisa naik angkot dulu keterminal, nanti kalo bapak lapar, bapak juga jangan lupa beli makan, saya berangkat kantor dulu pak, bapak hati-hati dijalan, cepet sembuh ya pak, sehat-sehat terus?

Bapak itu tersenyum dan mengucap terimakasih.

?

Selasa, 26 Januari 2016

Pukul 14:59 handphoneku bergetar tanda SMS masuk dan baru kubuka sekitar waktu menjelang ashar setelah pelayanan. Kubuka dan kubaca...

?3346;

Pada No. Rekening 212XXX ada dana masuk sekitar Rp. XXXXXX dan saldo akhir Rp. XXXXXX?

Aku kaget dan langsung teringat kakek tua Sabtu pagi itu ?kakek terimakasih banyak, kakek telah membuka pintu rizkiku, terimakasih banyak? dalam hati sambil meneteskan air mata.

?

?

?

?

?

  • view 359