Untukmu, Ayah

Aditia Vita
Karya Aditia Vita Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 31 Oktober 2016
Untukmu, Ayah

Terlalu banyak doa-doa yang rapuh untukmu, Yah..

Bagaimana mungkin ada doa yang tak tersampaikan? Adakah doa yang rapuh? Serapuh daun tua yang jatuh tersandung angin senja. Adakah doa yang tak tertangkap Tuhan? Doa yang dipanjatkan dengan begitu tulus, begitu penuh harap dan begitu penuh kasih. Doa mana yang tak didengar Tuhan padahal Ia adalah Maha Mendengar, bahkan pun doa yang tak terucap dbibir? Jika benar adanya, apakah didadamu terasa hangat ketika doaku terpanjatkan kelangit dan ditangkap oleh semesta? Jika tidak, barangkali hatimu memang benar telah mati, karena saya percaya Tuhan tidak pernah mengkhianati doa-doa hamba_Nya.

Terlalu banyak getar-getar rindu yang lumpuh untukmu, Yah..

Adakah yang lebih kekal dari rindu yang tak lagi menemui tuannya? Rindu yang kekal, rindu yang tak mampu diucap, tak mampu diraba, dan tak mampu tersampaikan. Rindu yang lumpuh. Pernahkah selama hidupku ada bising didalam kepalamu? Bising tentang ingatan bagaimana saya menangis pertama kali didunia? Pernahkah merasakan begitu rindu ingin menyapaku? Jika benar adanya, percayalah aku merasa lebih dari apa yang kamu rasakan. Rindu ini begitu berisik dan begitu gemuruh mengetuk-ketuk pintu hatimu. Jika tidak terdengar barangkali memang benar hatimu tuna rungu.

Terlalu banyak doa-doa yang rapuh dan getar-getar rindu yang lumpuh untukmu, Yah..

  • view 377