Semudah Itu

Aditia Vita
Karya Aditia Vita Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 08 Agustus 2016
Semudah Itu

05 Agustus 2016

“Hallo...”

“Iya...”

“Lagi dimana Mas??” tanyaku

“Dikostan, aku tidur” jawabnya

“Kenapa kamu bisa sepicik itu Mas?”

“Badanku hangat, aku sakit Vita”

“Kamu ingat mas, apa yang kamu katakan sebelum ini??” tanyaku

“Ingat” jawabnya pendek

“Apa perlu aku ingatkan?”


“Tidak usah”

“Jangan menangis lagi ya? Sudah diam. Iya aku kesana. Aku kesana sayang. Aku packing dulu. Cupcup jangan menangis lagi. Aku kesana sekarang. Percaya aku ya?—Katamu” aku mengingatkannya dengan suara bergetar. Tangisku kembali pecah.

“Aku terpaksa demikian Vita!!!” nada suaranya mulai meninggi

“Aku harus demikian, kamu tahu kenapa?” tanyanya kepadaku

“Aku tahu. Untuk membuatku diam bukan berarti kamu harus berbohong seperti itu” jawabku sambil menangis

“Mas... Aku menghubungimu dari jam 20.30 sampai sekarang, jam 22.30 lebih. Nggak ada yang diangkat. Aku khawatir kamu nggak dapat bus buat kesini. Aku khawatir kamu dijalan, sudah sampai mana. Aku sekhawatir itu. Aku sepercaya itu”

“Aku sakit Vita!!!” teriaknya diseberang telephone

“Kamu bisa tidur dibus Mas” lirihku

“Kamu bisa mengerti nggak? Aku disini sibuk, aku lelah. Iya aku kesana. Aku akan kesana Vita, tapi bukan sekarang. Bersabarlah sebentar lagi, paling tidak sampai minggu besok”

“Kesini sekarang Mas” pintaku

“Aku nggak bisa!!!”

“Kita selesai”

“Astaughfirulloh Vita!!! Kenapa bisamu cuma minta? Minta!!! Minta terus!!! Seharusanya kamu suport aku. Apa kamu pernah bertanya “ada kesulitan apa hari ini?” ke aku? Nggak pernah Vita!!! Yang kamu tanyakan Cuma bertemu dan bertemu!!!”

Aku terdiam dan masih dalam keadaan menangis

“Kamu mau kita selesai? Aku nggak nyangka kamu semudah itu meninggalkan aku. Kamu tahu, aku disini sedang berusaha biar bisa cepat menikahi kamu” jelasnya lagi

“Terimakasih untuk itu Mas, tapi bukan berarti kamu tidak memikirkan yang disini. Tidak mengacuhkan yang disini Mas”

“Terserah!!! Aku pusing sama kamu. Kepalaku lebih panas dengar kamu. Sudah, aku mau istirahat”

“Mas Gilang...” lirihku

 

Dua jam berikutnya,

"Aku butuh kamu diwaktu sekarang. Sangat butuh kamu”

“Mas Gilang, maaf mungkin aku tidak bisa lebih bersabar lagi. Aku pikir aku tidak kurang-kurang untuk berjuang, lebih bersabar dan lebih mengalah. Terimakasih banyak, maaf untuk semuanya. Sekali lagi aku minta maaf” sent to Whatsapp Gilang W R P

 

  • view 269