Allah, bolehkah aku mengeluh?

Adis Ratih Trisiana
Karya Adis Ratih Trisiana Kategori Renungan
dipublikasikan 19 Juli 2017
Allah, bolehkah aku mengeluh?

Logika dan perasaan seolah saling berkelahi, meminta keegoisan siapa yang harus didahulukan. Tak pernah ada yang mau terkalahkan, keduanya saling memperlihatkan keangkuhan. itulah yang aku rasakan.

Betapa sulit menjalani kehidupan yang tak pernah aku bayangkan. Menjadi diri sendiri tak semudah yang mereka ceritakan. Banyak penolakan atas dasar kekurangan membuat hati ini semakin rapuh. Terlebih melihat mereka tersenyum bangga sambil berlari.

Sampai kapan akan seperti ini? mengasingkan diri dari keramaian. Haruskah aku memunafikan diri agar terlihat sempurna?
 
Rasanya tidak perlu bersusah payah seperti itu, karena katanya yang sederhana itu lebih indah. Dan yang apa adanya itu lebih tulus. benarkah begitu? aku rasa itu hanya omong kosong atau hanya skenario agar ku tersenyum. karena nyatanya dunia tak seadil itu, dan manusia sering merasa menjadi Tuhan ketika menghakimi kekurangan orang lain.

Ku duduk dimeja riasku, bercermin pada diri sendiri, melihat banyak kurangnya dari ku. Tersadar pintaku terlalu banyak dan tak sebanding dengan diriku. Pantas saja mereka tertawa tentang mimpiku. Andai mereka tau, betapa susahnya memupuk bunga yang telah layu. Andai mereka tau betapa resahnya menunggu mentari dikala malam menguasai.

Allah, bolehkah aku bertanya? Apakah aku bukan cerminanya? Apakah aku tak layak menjadi bagiannya? Apakah aku terlalu buruk untuknya? untuk mereka yang selalu menuntut kesempurnaan.
 
Allah, bolehkah aku mengeluh disepertiga malammu? mengeluh tentang rindu.

  • view 221