Perkara Riya dan Kesombongan

Adis Ratih Trisiana
Karya Adis Ratih Trisiana Kategori Agama
dipublikasikan 12 Februari 2017
Perkara Riya dan Kesombongan

Kita sedang hidup di jaman modern. Jaman dimana kita sangat bergantung dengan media sosial, orang-orang cenderung gelisah dan resah ketika tidak membuka medsos seharian. "Kekinian" katanya, akan dianggap "ada" ketika muncul di permukaan media sosial. Dan orang yang memilih anti sosial media akan dianggap hilang dan tenggelam. Mengapa demikian? Entahlah. Kini tolak ukur kepribadian dan sifat seseorang dibuktikan lewat apa yang dia posting setiap harinya.

Yang membuat saya bertanya-tanya adalah ketika riya dan kesombongan menjadi problematika kehidupan. Mengapa seseorang dianggap riya ketika mengupload keberadaannya di masjid ataupun kegiatan-kegiatan mendekatkan diri pada Sang Maha. Namun, orang yang berbondong-bondong ke mall, membeli perhiasan mewah dianggap biasa saja bahkan dikagumi lalu dipuji.

Saya memperhatikan beberapa orang yang memulai hijrahnya dengan demikian, mungkin berniat untuk mengajak, memotivasi atau bahkan menebar kebaikan, lalu mengapa dianggap "so alim" atau bahkan dikatakan riya. Padahal mungkin itu adalah salah satu usaha menjadikan media sebagai lahan dakwah agar orang lain ikut melakukan kebaikan tanpa ingin dipuji. 

Tidak ada yang tau hati manusia selain Allah, lalu mengapa manusia lainnya terlalu egois berasumsi atas niatan seseorang?

Rasulullah bersabda:

"Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung niatnya dan seseorang akan memperoleh balasan sesuai dengan apa yang diniatkan. " (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka yang perlu kita lakukan adalah meluruskan niat, Allah dulu, Allah lagi, Allah terus. Libatkan Allah dalam segala urusan kita, tak perlu ingin dipuji atau ingin dianggap ada. Cukup berbagi yang baik-baik saja di media sosial, ingat JARI ADALAH SAKSI TULISAN

Tentang riya, ”Orang yang riya itu memiliki tiga ciri, yaitu malas beramal ketika sendirian dan giat beramal ketika berada di tengah-tengah orang ramai, menambah amaliyahnya ketika dirinya dipuji, dan mengurangi amaliyahnya ketika dirinya dicela.” (Ali bin Abi Thalib)

Allah berfirman dalam Q.S. Al Anfaal : 47 :

"Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang keluar dari kampung halamannya dengan rasa angkuh dan ingin dipuji orang (ria) serta menghalang-halangi (orang) dari jalan Allah. Allah meliputi segala yang mereka kerjakan." 

Ya begitulah hidup, dunia hanya kamuflase yang membuat kita bahagia sedetik. Apalagi soal media sosial yang bisa membuat kita terbawa 2 pilihan, pahala atau dosa. Maka luruskan niat, tak perlu pujian dari orang lain, cukuplah Allah sebagai tujuan yang utama. dan tetaplah berkhusnudzon terhadap orang lain. Karena kita tidak pernah tahu hati dan niatan orang lain. Tetaplah beristiqomah untuk berdakwah karena-Nya, Hamasah Lillah :-)

#selfreminder

  • view 98