Jari adalah saksi tulisan

Adis Ratih Trisiana
Karya Adis Ratih Trisiana Kategori Renungan
dipublikasikan 03 Februari 2017
Jari adalah saksi tulisan

Bagi saya menulis bukanlah hal yang mudah, saya bukan orang sastra yang jago menulis puisi dan merangkai kata dengan baik. saya juga bukan penulis buku ataupun novel yang bisa merangkai cerita menjadi lebih bermakna. saya hanya orang biasa yang ingin menulis dengan sederhana.

Meningkatkan rasa ingin menulis itu sulit, kadang giat sekali menulis, kadang merasa malas sekali atau bahkan merasa sangat takut. Takut diberi hukuman oleh  pembaca lewat komentar-komentar pedasnya. Sebenarnya komentar itu adalah bentuk perhatian khusus, bahkan seharusnya kita berterimakasih kepada semua komentator karena telah meluangkan waktu untuk membaca dan mengomentari tulisan kita. Apalah arti tulisan kita jika tidak dihiasi viewers dan komentator.

Ya.. seperti itulah cobaan duniawi yang harus dihadapi seorang penulis, dilihat, diberi saran, dikomentari, kemudian dipuji atau bahkan dihina. Tak perlu merasa berkecil hati ataupun nyali menciut, selagi kita menulis dengan lurus dan benar, maka apa yang perlu di khawatirkan tentang omong kosong mereka yang hanya membaca?

Saya lebih takut pada jari saya sendiri, berfikir tentang apa yang akan jari saya katakan kepada malaikat nanti di akhirat? apakah jari akan menjawab bahwa tulisan saya adalah fitnah? apakah tulisan saya mengandung hinaan? atau bahkan membuat orang lain menjadi pendosa? ataukah jari yang akan melakukan pembelaan terhadap saya nanti? entahlah..
ketakutan atas jari ini bukan hanya ketika membuat  tulisan tangan ataupun artikel dan blog, bahkan membuat tulisan status facebook, twitter ataupun instagram dan semua sosial media, ada rasa ragu ketika ingin membuat kata-kata kotor dan keluar dari batasan.

Ketakutan itu selalu menjadi point penting ketika menyusun kata, namun teringat kembali ketika Allah memerintahkan kita untuk membaca dan menulis, dalam Surat Al-Alaq. Betapa pentingnya membaca dan menulis bagi umat manusia. Maka alangkah baiknya ketakutan tersebut menjadi sebuah motivasi untuk diri, bahwa ketika menulis perlulah berfikir dan mencermati apa yang akan disampaikan. Bermanfaatkah? Menjadi ladang pahala? atau malah menjadi sumber pendosa?

  • view 146