Aku Mencintaimu Karena Allah

Adin Pratama
Karya Adin Pratama Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 15 Agustus 2016
Aku Mencintaimu Karena Allah

Jumat, 22 Juli 2016 

Hari ini adalah hari yang aku janjikan untuk akhirnya bertemu kembali setelah sekian lama kita menjalani hubungan jarak jauh. Namun kita bertemu dalam kondisi hubungan yang berbeda karena 2 hari setelah hari raya kau dengan apa yang kaupikirkan memutuskan untuk memutuskan hubungan ini. Aku sadar kalau aku bukan manusia yang sempurna, tak luput dari kesalahan.

Aku memberanikan diri untuk bertemu dengan dirimu lagi, namun ekspektasiku berubah ketika aku kira akan bertemu denganmu dalam waktu yang lama. Ternyata hari ini kau memutuskan untuk pulang ke rumah. Aku hanya punya waktu beberapa jam untuk menjelaskan semuanya dan meminta penjelasan dari keputusan yang kau buat.

“maaf ya aku ganggu waktu kerjamu hari ini”. Ujarku

“ya gpp, lagian nekat sih dateng siang, aku laper sambil makan aja ya?”

“ya”

Aku mengikutinya pergi ke tempat dia biasa makan siang. ada sedikit gundah dan gelisah di hatiku, namun aku senang dengan hanya melihatmu hari itu. Dengan hanya mengetahui bahwa kau baik-baik saja hari itu. Semua perasaan gelisah, gundah, sedih dan segala hal yang kupendam selama jeda waktu kita tak berbicara hilang dengan hanya melihatmu. Kami memesan makanan yang sama dan melanjutkan obrolan. Intinya adalah dia ,merasa kecewa dengan ekspektasinya kepadaku yang tidak pernah disampaikannya. Aku sendiri kaget ketika mendengar hal itu karena aku tidak pernah tahu akan ekspektasinya kepadaku. Lalu aku mencurahkan semua isi hatiku bahwa aku mencintainya dengan tulus dari dalam hati. Obrolan kami berlanjut hingga aku mengantarnya ke tempat travel untuk pulang.

Aku merasa kecewa karena semua usahaku datang dari jauh hari itu untuk bertemu dengannya tidak membuahkan hasil. Dia tetap dengan keputusannya sendiri. Lalu aku pamit duluan karena jam sudah malam dan aku ingin mengejar kendaraan terkhir. Hal yang paling menyakitkan adalah ketika dia meminta untuk menggenggam tanganku, walau hanya sekali dan tidak lama. Semua kenangan yang ada terintas. Mata kami berkaca-kaca saling memandang. Aku tahu dari genggamanmu bahwa masih ada cinta disana. Masih ada rasa sayang disana. Masih ada aku dihatimu. Tetapi kau memutuskan untuk memendamnya sementara atau selamanya adalah hal yang misterius bagiku. Ingin aku berkata bahwa hatiku teriris disana. Hatiku tercabik.

 Beberapa hari setelahnya kau mulai menjauh dengan membatasi komunikasi diantara kita. Aku hanya bisa berdoa kepada Allah. Aku hanya bisa berharap kepada Allah. Aku selalu memohon agar kau selalu dilindungi oleh-NYA, dijaga dan diberi kesehatan oleh-NYA, dan diberkahi selalu hari-harimu oleh-NYA. Mendekatkan diri dengan sang pencipta memang membuat hatiku lebih tenang ketika aku terpikir akan rasa sakit dan perih di hati karena menahan rindu kepadamu. Namun semakin aku membulatkan tekad untuk merubah diri kearah yang lebih baik, semakin ingin aku berjuang denganmu dan semakin kuat dirku untuk berjuang. Kau tahu? Rasa cintaku kepadamu telah berubah. Kau tahu? Rasa cinta ini tidak seperti dahulu lagi. Kata-kata I love you yang pernah aku ucapkan sudah berubah menjadi uhibbuki fillah yang siap meluncur kapan saja. Namun aku merasa aku belum pantas unutuk mengatakan hal itu sekarang. Aku berharap dalam doaku agar kau baik-baik saja. Agar kau selalu ingat kepadaku. Agar suatu saat kau dapat melihat kearahku dan berkata “kau adalah laki-laki yang selalu berjuang dengan ikhlas untuk diriku”. Kuharap kau sadar dan melihat dengan hatimu bahwa aku mencintaimu karena ALLAH.

 

  • view 271