Kamu, sepintas lalu

Cahya Dyanti
Karya Cahya Dyanti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 07 April 2016
Kamu, sepintas lalu

Dua pasien yg ku tangani hari ini. Kurasa itu tak banyak dan tak cukup untuk menguras tenagaku. Namun, hari ini aku sedang tak enak badan hingga membuatku tertidur di atas meja kerjaku. Entah sampai sedalam apa kesadaranku hilang, yang ku ingat aku bermimpi ttg kawan-kawan kita di masa putih abu-abu kita.

Seorang kawan dalam mimpi siang bolongku mengajak kawan sekelas pergi berwisata lewat chat box group kelas kita, ia telah menyediakan segala transportasi dan akomodasi. Seorang kawan lain menyeletuk, "Liburan kali ini gak bakal lengkap, kan kita sudah kehilangan." Mendadak aku sedih membaca pesan itu. Kubuka lagi percakapan kita tempo waktu sebelum kamu pergi. Kubawa memoriku saat kamu bertanya ttg rencana hidupku. Aku bersedih, takkan ada lagi yang rajin berkirim kabar ttg dinasmu. Air mata tak terbendung, menetes. Lalu aku terbangun. Aah.. syukurlah.

Buru-buru kucari handphone di tas pemberian ibuku. Kucari namanya di deretan contact BBMku. Ku kirimkan pesan, bertanya ttg kabar dan hidupmu sekarang di tanah Papua. Ku melihat dari gambarmu, terlihat kamu sedang bahagia dan bercanda dgn anak-anak. Ah entahlah, kamu slalu terlihat lebih dewasa ketika bercengkrama dgn anak-anak. Kuharap memang kamu baik-baik dalam tugasmu.

Ku putuskan segera mengambil wudhu dan sholat agar hatiku tak galau. Selesai bermunajat, ku raih kembali handphone. Ku jumpai kamu lewat pesanmu. Pesan yg tidak menjawab pertanyaanku, melainkan kamu bertanya kembali padaku, "Apa kabar? Kapan menikah?"

Deg! Demi apa kamu yg tak pernah bertanya ttg kabarku, lebih-lebih bertanya urusan pribadiku. Mengapa seketika itu, hatiku berdesir cukup kencang? Ku jawab asal, "Tumben nanya kapan aku nikah?"?Sama. Aku tak menjawab pertanyaannya. Kurasa belum waktunya aku berkata.

Ku ingatkan lagi agar kamu tak lupa segera memilih pendamping. Aku khawatir, kamu sibuk dgn tugasmu dan tak terpikir untuk berjodoh. Kali ini jawabannya diplomatis, "Secantik-cantiknya wanita yg kutemui disini, tetap hati terpaut pd kecantikan orang Jawa, khususnya Blitar."

Percakapan serius pun berlanjut, tentang pernikahan, tentang pandanganmu thd pendamping hidup. Iya memang kamu sudah cukup dewasa untuk berdikusi ttg itu. Dan aku menikmati diskusi itu, kawan.

Tak terasa mimpi siang bolong mampu menghubungkan yg jauh. Semoga kamu selalu dlm lindunganNya.

  • view 118