Merpati Tak Pernah Ingkar Janji, Ia Pergi untuk Kembali

Cahya Dyanti
Karya Cahya Dyanti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 April 2016
Merpati Tak Pernah Ingkar Janji, Ia Pergi untuk Kembali

Siang ini cerah

Tak seperti siang yang slalu ku habiskan di depan kelas

Tak seperti siang yang slalu ku habiskan di depan pasien membimbing anak didikku

Tak seperti siang yang sengit dengan argument-argumen para pengelola institusi

Iya, kali ini aku terbebas sementara dari itu semua

Iya, ini hari Minggu

Hari libur

?

Aku bahagia

Bukan karena aku lepas dari rutinitas kerja

Tetapi karena aku ???

Karena aku berkumpul dengan ayah ibu di meja bundar tua hadiah dari kakek

Dengan piring, sendok garpu, gelas, dan tak lupa sajian ala kadarnya masakanku dan ibu

Karena kami akan makan siang bersama yang jarang sekali kami lakukan

Itu saja?

Ku pikir tidak!

?

Butuh usaha keras menyiapkan hari ini

Aku harus menyelesaikan pekerjaanku sebelum hari ini tiba.

Bimbingan. Bahan ajar. Bahan konsulan rapat.

Semua sudah ku selesaikan dua hari sebelum hari ini datang

Pasti orang lain bertanya,

Mengapa aku begitu rajin menyelesaikan tugas kantor?

Yang mereka tahu, aku suka menggunakan ?the power of kepepet?

Tak apa,

Aku memang punya alasan mengapa aku harus rajin dan mulai belajar rajin

Ku pikir itu adalah bekal yang baik untukku kelak.

?

Alasan terbesarku untuk semua kesuksesan hari ini adalah dia

Tak banyak orang tahu sosok dia

Dia adalah perwira muda kebanggaanku

Dia adalah lelaki cerdas setelah ayahku

Dia adalah lelaki tegas nan kuat setelah ayahku

Dia adalah sosok yang penuh tanggung jawab? setelah ayahku

Dia adalah ?.

Aku harap masa depanku kelak

?

Iya, dia memang semua hal setelah ayahku

Bagiku, ayah adalah pahlawan pertama yang aku tahu di muka bumi ini

Dan selanjutnya, dia

?

Kami telah menjalin hubungan sejak dia berada di tingkat tiga

Tak banyak yang tahu tentang hubungan kami

Bahkan aku yang slalu berusaha jujur pada ibu, kali ini bungkam

Ku pikir belum saatnya aku memberi tahukan sosok yang bisa menyaingi ayah

Aku masih takut kalau-kalau ayah cemburu dengannya

Aku masih ragu kalau-kalau ayah merasa memiliki pesaing

Hah, itu konyol

Tetapi, itulah alasanku

?

Dan siang ini, kurasa waktu yang tepat

Aku sudah lulus dan bekerja

Dia sudah lulus dan bertugas di kota tetangga kota kami

Umur kami sudah cukup

Komitmen kami ?.

Jangan ditanya!

Sejak ku putuskan menerima cintanya,

Sejak itu pula aku berjanji akan mendampingi segala yang dia lakukan selama itu untuk kepentingan negara

Ayah dan ibu pun beberapa kali bertanya tentang teman kencan yang tak kunjung datang mengajakku kencan

Aku kadang tertawa mendengar ayah dan ibu

Jarang sekali kami kencan

Bahkan untuk bertemu pun kami harus curi-curi waktu

Kali ini, ayah dan ibu tahu jawab dari pertanyaan yang slalu mereka lontarkan padaku

?

Benar saja,

Sesuai prediksiku

Terpancar dari raut ayah memasang kuda-kuda cemburu saat bersalaman dengan dia

Aku hanya tersenyum

Ku pikir, aku berhasil membuat ayah merasa tersaingi

?

Dan benar pula,

Dia tak akan bergeming walau ayah telah memasang kuda-kuda

Dia menikmati suasana diantara kami

Dia tetap bersikap sopan dan santun dalam bertutur

Ini yang aku suka

Gentle!

Suasana hangat pun tercipta diantara kami

Sesekali dia menyisipkan humor saat berbincang dengan ayah dan ibu

Ayah tertawa kencang, yang tak pernah ku tahu sebelumnya

Aku dan ibu hanya tersenyum kecil dan saling melirik

?

Selesai makan, kami bersantai di taman belakang

Taman belakang yang menjadi tempatku belajar

Belajar menyiapkan materi untuk anak-anak sampai belajar cara menyayangi dia

Iya, aku slalu belajar menyayangi dia

Dia istimewa

Ku pikir, aku butuh cara yang istimewa pula untuk menyayanginya

Ku harap caraku tak salah

?

Akhirnya aku bercerita padanya

Di tempat inilah aku habiskan malamku saat aku merindukannya

Di tempat inilah aku berbekal gitar dan bernyanyi tentangnya

Di tempat inilah aku belajar bersabar untuk slalu menunggunya pulang

Di tempat ini pula, dalam hati ku sebut namanya agar Tuhan slalu menjaga dalam tiap langkahnya

Dia tak ada komentar

Cukup dia tahu, itu sudah membuatku tenang

?

?

Aku tak pernah berpikir secepat ini dia akan melakukannya

Aku tak pernah menyana dia akan melakukannya di tempat ini, tempat aku merindukan dia

?

Cukup dalam dia merogoh saku baju sebelah kanan yang dia kenakan

Aku masih belum tahu apa yang dia ingin capai dalam saku itu

Aku masih terdiam dalam posisiku sembari memperhatikan gerak-gerik dia

?

Ya, dia menemukan lingkaran mata biru dalam sakunya

Aku mulai berdebar

Apa maksud dia?

Aku masih diam

Aku tak berani sedikit pun meralih pandang darinya

Aku juga tak berani beralih posisi dari posisiku saat ini

Aku hanya mengikuti alur yang dia buat

?

Dia meraih tangan kiriku

Didekatkanya pada mata dia yang tajam, lalu menatapku

Sontak aku menunduk

Tak kuat aku dengan tatapannya

?Semoga dia yang slama ini kamu rindukan bisa memelukmu tiap hari lewat cincin ini.?

?

Ada desir yang tak pernah ku rasakan sebelumnya

Ada desir yang aku hanya ingin merasakannya kali ini saja

Ada desir yang aku hanya ingin berteriak

Ada desir betapa aku ingin mengucapkan terima kasih pada kuasaNya

?

Cincin paja yang dia peroleh selama pendidikan

Cincin sebagai simbol perjuangan dia dalam pendidikan

Cincin yang tak pernah dia beri saat prasetya perwira dua tahun lalu

Kini tersemat manis di jari manisku

?

Aku meneteskan air mata

Ku pastikan, air mata itu adalah bahagia

?Dik, jangan pernah lelah menunggu. Sabarlah, aku akan kembali untuk memohon ijin menjadi juara dalam hatimu setelah ayah.?

?

-Aku yang slalu menunggumu pulang-

?

?

?

Cincin paja adalah cincin yang dimiliki para taruna angkatan, baik matra darat, laut, maupun udara. Cincin paja merupakan simbol dari perjuangan, kegigihan, dan bentuk penghargaan atas semua yang taruna lewati selama masa pendidikan. Cincin paja akan dibagikan saat tingkat empat menjelang kelulusan. Mata cincin paja berbeda-beda tiap matra. Matra laut memiliki mata cincin berwarna biru. Cincin paja berjumlah satu pasang. Biasanya, para perwira remaja yang baru selesai menjalani prasetya perwira memberikan salah satu cincin paja kepada orang yang ia cintai atau kepada calon pendamping hidupnya. Cincin paja yang diberikan kepada calon pendamping hidup merupakan ikatan awal perwira remaja sebelum akhirnya mereka diijinkan menikah oleh kesatuan.

?

source of picture :?http://www.quotestoday.club/inspirational-quotes-about-love-hope-and-faith-inspiring-quote-daily-motivational-quotes-2016/inspirational-quotes-about-love-hope-and-faith-3

  • view 465