LIFE EXPECTANCY DAN JODOH

Adimas Siti Helvanisari Denang
Karya Adimas Siti Helvanisari Denang Kategori Lainnya
dipublikasikan 26 Januari 2017
LIFE EXPECTANCY DAN JODOH

Orang Indonesia ngerasa kalau 25 tahun itu udah cukup berumur (baca : tua) karena mostly orang Indonesia yakin kalau kita hidup hanya sampai 60 tahun. 

Padahal, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Angka Harapan Hidup atau Life Expectancy (singkatan : LE) di Indonesia cenderung meningkat. LE perempuan di Indonesia sudah mencapai 72.59 tahun sedangkan laki-laki 68.87 tahun. Statistically, hal ini menunjukkan bahwa kualitas hidup di Indonesia meningkat dan kita bisa hidup sampai usia tersebut. Berita bagus kan? Jadi kalau misalnya ditanya kok belum ketemu jodohnya jawablah dengan tersenyum tenang sambil berkata “Hidupku dan hidupnya masih panjang. Kita pasti akan bertemu pada saatnya” kemudian sodorin data BPS diatas. Saya yakin yang nanya pun akan terdiam :P 

Kalau bicara LE, semestinya tingkat kegalauan perempuan dan laki-laki seusia saya harusnya bisa berkurang. Kenapa? (insyaallah) usia kita dan (calon) pasangan masih panjang. Jadi sebenarnya nggak usah takut dengan istilah ‘keburu mati’ ataupun ‘keburu tua’ walaupun kita tahu bahwa kematian dan jodoh itu milik Allah swt. Let say, 25 tahun adalah usia dimana perempuan menikah. Jadi sebenarnya perempuan yang menikah di usia 25 tahun itu baru menjalani 0.33 usia LE. Kesimpulannya, usia kita masih panjang sekali. Lalu apa hubungannya LE dengan kegalauan yang harusnya bisa berkurang?

Kegalauan adalah topik yang selalu berada di sekitar kita. Terutama untuk perempuan pada usia saya yang belum ketemu dengan jodohnya (baca : saya). Stereotype masyarakat soal ‘telat nikah’ dll selalu melekat pada siapapun yang belum menikah terutama untuk perempuan. Stereotype tersebut yang sebenarnya menjadi sumber kegalauan. Padahal sebenarnya nggak perlu galau dengan stereotype. Stereotype memang dekat dengan artian yang negative tapi stereotype tersebut juga memiliki standar yang berbeda di setiap orang. Jadi sebenarnya, kita nggak perlu galau dengan segala macam cap yang mereka berikan karena pada dasarnya mereka berasumsi dan asumsi itu nggak ada evidence based nya jadi ya nggak usah dipikirin. Sesuatu yang nggak memiliki standar yang sama itu nggak bisa dijadikan acuan.  

Balik ke LE,  karena usia menikah orang juga berbeda-beda, kita nggak bisa memukul rata kalau orang tersebut ‘telat nikah’ atau ‘terlalu tua’ untuk menikah. Kalau kita sudah berusaha maksimal kenapa kita mesti pusing berpikir pendapat orang? Toh Allah Maha Melihat dan Maha Tahu kalau umatNya sudah berjuang. Banyak perempuan yang khawatir dengan pertambahan usianya risiko terhadap kehamilan semakin besar atau kemungkinan punya anak yang semakin kecil. Namun, seringkali kita lupa bahwa hamil adalah peristiwa yang diizinkan oleh Allah swt. Pada dasarnya, anak adalah titipan Allah swt. Saya cukup banyak membaca soal cerita berjuang memilki anak dan kesimpulan akhir yang saya dapatkan : anak adalah hak prerogative Allah. Allah bisa memberikan ke siapapun yang Dia kehendaki.

LE merupakan salah satu acuan kesejahteraan suatu Negara. Kalau LE kita bagus, bersyukurlah guys karena kita hidup di Negara yang (menurut LE) cukup baik untuk hidup. Indikator LE itu buat saya merupakan anugerah Allah buat bangsa ini karena ya….. bangsa ini punya change yang cukup besar untuk menambah hidupnya secara kuantitas dan kualitas. Percaya deh, walaupun LE itu nggak menjawab kegalauan kita soal jodoh paling nggak kita cukup tahu kalau usia kita cukup panjang untuk menikah dan membina rumah tangga. Nggak ada kata ‘telat nikah’ atau ‘ketuaan’ menurut orang. Jadikan aja LE sebagai pengukur buat diri kita sendiri. So, no more galau.

Kesimpulannya, asumsi, stereotype atau apapun itu yang nggak adaevidence based nya nggak bisa kita jadikan standar. Biarkan mereka memiliki standar apapun terhadap kita karena basically, standar mereka pun nggak relevan terhadap kehidupan kita. Pendapat orang lain ambil baik-baiknya aja selebihnya anggap angin lalu kalau sifatnya sudah poisonous

Salam semangat memperbaiki diri.

  • view 98