Perjalanan Ini

Adi Nu
Karya Adi Nu Kategori Puisi
dipublikasikan 07 April 2016
Perjalanan Ini

Tibatiba saja aku mengingat perihal kita yang silam. Saat beberapa waktu terpaksa berlalu. Tanpa ada rindu yang dilahirkan. Aku yang malu dan gagu dihadapanmu, terpaksa tersipusipu ditemani dinding kamar. Entah kapan waktu aku bisa berkata. Menerjemahkan perasaan di hadapanmu, adalah membaca kertas kosong. Tak ada yang bisa diutarakan kecuali tatapan yang tak mengenal pejaman.?

Seringkali kita perlu menyapa hari lalu. Meski tak ada yang bisa diubah, ada keinginan yang berbuah. Dengan sedikit air mata, kita mencoba bahagia, bahwa kau dan aku, ada kerinduan yang musti ditumbuhkan. Rindu mengalir adalah kita yang hadir dalam pertemuan. Seperti daun gugur melayang lalu berlabuh terapung pada sungai, tak ada yang bisa menahan. Kadang terhempas dipermainkan gelombang, terombangambing tak berarah, tapi daun musti menuju tanah: untuk bertemu pada yang melahirkan. Kembali pada masa lalu, tak lebih sekadar pintu menuju rindu. Selebihnya, melepaskan kita dari raguragu.?

Apa yang tersisa dari kebersamaan ini? Selain keraguan yang rimbun, juga beberapa keheningan yang sulit dipecah. Pertemuan kita hanyalah pertunjukkan satu babak. Hanya sekejap menikmati senja terlelap, selanjutnya kita masih saja menebaknebak keadaan. Ada banyak hujan dalam langit mataku, tertahan kelopak menunggu terungkap. Dan kita masih bahagia melanjutkan gagu, membiarkan mataku kian mendung, dan merelakan hujan tetap tertahan. Sampai kapan kita membiarkan kebersamaan tanpa perasaan. Bersetia dengan hampa, hanya melahirkan tangis. Tapi kau dan aku, masih saja tersenyum manis.?

Perjalanan ini, masih seperti yang kita bayangkan. Tak ada pertengkaran yang kita takutkan. Hanya perasaan terpendam menahan rindu yang entah apa musti diwujudkan. Kebahagiaan kita, masih sekadar hening lampu temaram, diam menerangi kesepian. Kecuali matahari yang dulu kita tertawakan, perjalanan ini masih menyepi pada gelap. Langkah begitu ngilu, menghidupi sepi yang gelap dan enggan terlelap. Seandainya kita tak cukup kuat, perjalanan hanyalah menghidupi kesedihan. Kota dan hutan, adalah saksi kita habiskan hari. Membawa pada ramai dan bisu, bahwa kita berdua sedang berjalan pada ketidaktahuan yang dituju.?

Mungkin kita musti bertanya, inikah jalan setapak menuju rumah yang kita bayangkan? Dengan bangunan sederhana dipenuhi dedaunan yang menyelimuti separuh atap. Dengan bulan penuh yang datang di tengah malam. Dan burung tiada henti bernyanyi tak pedulikan kita yang sedang bermainmain dengan bayi mungil. Aku sedikit ragu. Sebab selama ini kita telalu banyak gagu dalam perjalanan. Semua lambang begitu terang tergambarkan: kau dan aku adalah air mata yang beriringan mengairi lautan. Kadang bersamaan satu jalan, atau terpisah ?berbeda jalan, kita bertemu dalam satu samudera.?

Sejauh apapun kita mencoba berjalan. Dalam kebersamaan yang dipenuhi ragu dan rindu. Pertanyaan menjadi stasiun pemberhentian untuk kita merenungi perjalanan. Kau percaya aku setia padamu? Tanyakanlah itu kepadaku, agar hatiku berdebar dibuatnya. Ketika debar menjalar, aku yang mencintaimu, tak pernah bisa mengungkapkan keberadaanku di sampingmu.?

Kita pun pernah mencoba tak berjumpa. Mengetahui sejauh mana kita mengingat nama. ?Sekembalinya perasaan berpulang pada malam, aku hanya mengenal keadaan: tanpa kamu, tak bisa merindu, lalu gemetar menahan kalbu. Aku berkata pada daun basah, cobalah dengar sejenak sebuah kisah yang akan kusampaikan pada kulit tubuhmu. Perjalanan kita hanyalah sesingkat daun gugur dan mencium rerumputan. Angin kelak membuat kita goyang. Keadaan kelak membawa kita gamang.?

Perjalanan ini adalah kita yang sedang mendamaikan hari. Ketika kau dan aku, menerjemahkan cinta dengan beragam cara. Rumah yang kita tuju sudah terbuka, teruntuk kita yang setia pada langkah.

?

* Penulis senang berkata lahiya kan?

?

  • view 144