Defrina

Adi Guna
Karya Adi Guna Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Juli 2016
Defrina

      Duduk Terperangah

Teracung acung pepohonan, kebun petani, ditiup angin sore yang sejuk nan syahdu. Hilir mudik burung yang kembali dari sarangnya dan ada juga yang baru akan berkeliaran, mengiringi datangnya mahakarya langit paling luarbiasa mempesona, senja dikelilingi megah perbukitan yang asri nya nanggung karna sebagian sudah dipenuhi komplek komplek kurang ajar termasuk tempatku tinggal. 

Selalu menyenangkan duduk disini di bangku batu sederhana, duduk menyendiri menatap lamat lamat sekeliling, lihatlah kubus kubus senja menyentuh dedaunan yang meranggas, digilas anak anak riang berlarian tidak mengenakan sandal haha, dari kejauhan petani yang sedang memopong rumput untuk pakan ternak berjalan sedikit terburu buru, dan kini sudah dihadapanku, dan kini sudah lewat.

Sedikit melotot kagum mataku menanggah sedikit keatas warna langit hampir memerah pekat, kini kucoba pejamkan mata, dahsyat.. apa ini?? Tiba tiba sekeliling senyap, dan seakan akan waktu melambat, kaget terperangah lantas kubuka mataku dan kulihat sekeliling, di pinggiran rumah kulihat ibu ibu yang sedang bercakap cakap, aneh gesture tangannya memang melambat. Ada apa ini? Kubalikan badanku lagi kearah barat kemudian dengan bertanya tanya perlahan kututup lagi mataku, senyap... gelap tapi hangat, ada titik putih semu orange disana perlahan membesar.. membesar.. membesar... dasssss tumpah sudah gelap dalam pejaman mataku menjadi kembang api cahaya warna warni, ada yang melesat cepat seperti lampu mobil, ada yang berjatuhan bak air hujan, ada yang bentuknya seperti formasi bintang, banyak banyak sekali. Tiba tiba cahaya warna warni yang sibuk itu berhenti membeku, satu bergerak perlahan, dua.. tiga.. yang lainnya mengikuti. Tapi gerakan yang ini berbeda, gerakan yang ini tertuju pada satu titik bergerombol desak desakan, membentuk satu sosok yang samar samar seperti wanita, rambutnya terurai panjang hingga ke punggung, mengenakan gaun panjang putih yang kurasa itu awan, samar samar... terdengar adzan magrib berkumandang, ah lihat gumpalan cahaya yang sedang membentuk satu sosok itu bergerak gerak cepat... lalu mencair dan kini hilang. Gelap kembali sudah pejaman mataku ini, kubuka dengan kecewa. 

Kutatap lagi sekeliling, perlahan suara suara seperti adzan, seru anak anak, kendaraan lewat, menjadi jelas lagi. Kutanggahkan kepalaku keatas ternyata senja sudah hilang, berganti biru semu hitam tanda malam sudah ingin unjuk gigi. Kuangkat kaki menuju masjid dengan masih bertanya tanya pengalaman luarbiasa apa tadi, cahaya cahaya itu? Wanita yang mengenakan gaun itu? Meskipun masih samar samar tapi siapa dia?

Ah sudahlah..  

Asyhaduannamuhamadarrasulullah.. asyhaduannamuhamadarrasulullah..

Hayya'alasholaaa...

Diiringi seruan adzan setelah mengantri sebentar kini giliranku berwudhu, tangan kanan dibasuh.. tangan kiri, mulut.. hidung, wajah.. tangan kanan hingga ke siku, tangan kiri hingga ke siku, kepala sampai telinga kemudian kaki.

Allahuakbar..

 

              Kebluk itu seni

Pukul 10 malam, jalanan lengang hanya satu dua kendaraan dari depan atau meyusul dari belakang, mengendarai motor selarut ini di kawasan cisarua? Hadeeh, ini jaket sudah rangkap dua tapi dingin embun merayap kesana kemari, brrr.

Karna lembur yg menyebabkan pulang selarut ini, di dataran tinggi sedingin ini, dengan badan secape ini, dengan kantuk se berat ini dengan ini se ini ini dan seterusnya.. alhasil sesampai dirumah merebahkan tubuh dikasur tanpa mengganti baju dan melepas sepatu, ah persetan dengan itu semua badanku lelaaaahh,

"Psst psst psst bla bla kemarin tuh si boy sama si reva bla bla psst.. pstt iya bu ganteng nya buu kaya anak saya pssstt.. bla.." 

Blur.. sedikit jelas.. terbuka sempurna mataku dan argghh pusing sekali, kubuka jendela dan criiinggg terang cahaya pukul 12 teng, silau.. mataku tak kuasa hingga menyipit menyeringai, kulihat sekeliling ternyata disebrang rumah ibu ibu sedang komat kamit masalah pelakon sinetron sambil seru kepedasan melahap rujak siang bolong, sebel...

Pzzzttt pzzzttttttt *gerakan cepat* mandi.. makan.. godain adek.. masuk kamar baca buku.. tiduran.. nonton tv.. tiduran.. bete.. *gerakan normal lagi* ahhh libur yg membosankan, tengok handphone ta ada yg seru, kemudian dipinggir lemari kuambil gitar gibson putih tulang, kumainkan lagu yg sedang menjadi favorite, 

Ed sheeran - photograph

Jreng.. so you can keep me.. inside the pocket...

Seperti biasa jika sedang khusyuk bernyanyi kututup kedua mata dengan halis yg mengkerut kerut tanda naik tinggi nada, jreng.. jrengg jreng... so you can keep.. SENYAP, kubuka mata setengah kaget kulihat sekeliling, tv menyala suaranya tak terdengar, dari pintu yg terbuka sedikit kulihat adiku melintas dengan gerakan yg melambat, diluar angin menggerakan tanaman yg perlahan bergoyang, kutengok jam dinding menunjuk angka 16:28, apakah hal yg kualami seminggu yg lalu di bangku batu sederhana terulang kembali?? Aku ini kenapa?? Apa aku sedang bermimpi?? Tapi aku sedang bangun manamungkin aku bermimpi dalam keadaan tidak tidur?? Lantas kulangkahkan kakiku keluar lalu menengok ke barat menanggah sedikit keatas dan ternyata betul dugaanku, senja itu.. warna itu.. perasaan ini..

Perlahan kututup keduamata dan.. dasssss bak air terjun cahaya warna warni deras menyiram gelap, hilir mudik bergantian warna, hijau.. biru.. kuning.. kini merah.. lalu orange.. menenangkan, hangat, indah, sedikit demi sedikit cahaya itu membentuk bola, bergeliding desak desakan menuju satu titik kian menggunung, membentuk satu sosok yg tak asing, samar samar gaunnya jelas terlihat mempesona terang dan sepertinya lembut karna mengembang seperti awan, lalu rambutnya mulai terlihat juga terurai panjang sedikit bergelombang hingga ke punggung, perlahan sosok gumpalan cahaya itu mendekat melangkah, masih samar samar.. kini tangannya bergerak menunjuk keatas, seperti menyuruhku melihat, ah apa itu? Gumpalan awan putih sempurna dengan langit biru mempesona, kulihat sosok itu terbang kesana, dan ketika kakinya menapak ke awan tersebut, seperti lampu yg dinyalakan lalu mati kembali, tapi berwarna semu orange, mungkin jingga. Kini berjalan perlahan disana, sambil melambai lambai padaku, wajahnya masih belum terlihat jelas. Eh dilihat lamat lamat ternyata ia menari, betul kini ia menari dan sontak awan dan langit itu sempurna berubah menjadi senja mempesona yg selama ini sering kutatapi di bangku batu sederhana itu,  tapi yang ini berbeda, lebih nyaman, lebih indah tentunya.

"Heh.. da.. sada.. heh" tepukan tangan di punggung, dan lagi lagi mengacaukan hal luarbiasa itu, dengan sigap kubalikan badan lantas berkata "pa'an  mah menii?" Beliau keheranan "kenapa kau Sada, daripada melamun mending tolong ambilin galon mineral ke warung si tante" senyum lebar lebar kujawab "ndak ndak.. haha mana atuh uangnya" muka tambah keheranan beliau hanya memberi uang tanpa berlomentar, tapi aku tebak dalam pikiriannya mungkin "ini anak kebanyakan lewat jalan cisarua, kan ada rsj? Iihh ngeri" hahahahahaha kupikirkan itu sambil berjalan lambat ke warung.

 

                         Dia defrina

Seminggu menjelang di waktu libur kerja sengaja kudatangi bangku batu sederhana yang sudah lama tak duduk duduk sendiri disana, kali ini sengaja membawa gitar dengan maksud mungkin saja dengan begini ketika "hal" itu datang lagi akan tergambar dengan jelas, mungkin dia suka musik? Mungkin dia butuh dihibur? Atau dia pemalu? Atau sebenarnya ia berkumis? Hihi *tertawa geli

Pukul 16:31 sambil menanggah sedikit keatas kulantunkan lagu endah & rhesa - liburan indie, dengan khusyuk sambil memejamkan mata. Kulantunkan lantang lantang hingga kurasa orang sekeliling menatapku keheranan, mungkin ada yang baik hati mendengarkan eh ehh jadi gak khusyuk jika pikiranku kesana, oke baiklah,  jreng.. menikmati pagi sore dan malam ditemani lagu.. jrengg jreng.. jrengg ..... pwuuuuhhh, angin menutup suara gitar dan sekeliling, hanya gemuruh angin bergesekan menimbulkan suara syahdu, dalam pejamku yang gelap kian terang perlahan, senja mempesona masih terbentuk disana dengan seseorang yang sedang menari diatasnya, gemulai.. gaunnya merebah kesana kemari.. ah ia melihat kemari, lalu melambai lambai ramah, terbang perlahan menghampiriku yang terhipnotis akan kehebatan mimpi dalam pikiran yg sedang sadar ini, dengan anggun melayang, rambutnya yang terurai bergerak kesana kemari, wajahnya mulai terlihat, ah binar matanya mata bersemangat, senyum nya menenangkan, lesung pipi nya lesung yg jahil, di dahinya tergurat garis cahaya berwarna semu orange terang, telanjang kaki.

"Kau siapa?" Sambil tersenyum ia menjawab" defrina.. senja.." hah nama apa itu tidak lumrah sama sekali dibanding  agung, fitri, rizal, tessa, setiap orang pasti punya kawan yang memiliki nama demikian tapi defrina senja? Kemudian ia menjulurkan tangannya sambil tersenyum sumringah "defrina.. namaku, aku adalah seni yang kau buat dipikiranmu sada, aku merupakan mahakarya dunia yg kau rangkai sedemikian rupa, disini diruang mimipi yang kau bawa ke realita, kau taakan merasa sendiri. Sada.. jika kau mencari definisi karya, lihatlah kedalam dirimu sendiri, kau itu karya yang nyata, aku ini bentuk yg terjadi akan itu, dari sudut pandangmu yg memadang segala sesuatu menjadi karya, dari benakmu yg berbicara, kau tumpahkan semuanya kesini hingga membentuk menjadi aku.. kemarilah sada lihat apa yg kau ciptakan diatas sana"