Setapak Laut Selatan

adieb maulana
Karya adieb maulana Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 April 2017
Setapak Laut Selatan

Baru saja aku menapaki kaki di sudut tempat di bumi selatan.  Terasa sungguh mengesankan. Betapa tidak, kini di depanku terpampang jelas deburan ombak yang begitu besar dengan suaranya yang khas sangat menggetarkan hati manusia. Begitu sempurna jika dirasakan. Disampingku, terjulang dua bukit yang sedang mengepungku dari sudut kiri dan kanan, seakan akan aku sedang berada dalam pengawasannya. Bukit tersebut dihiasi rerumputan hijau yang sungguh indah untuk dipandang. Lalu, kakiku berpijak pada rumput hijau yang begitu nyaman untuk dipijak. Mataku tertuju kedepan, sebuah pemandangan yang menggetarkan organ tubuhku, melemahkan setiap sistem sarafku, dan menguatkan seluruh indra penglihatanku. 

Ku baringkan diriku di atas rumput-rumput tersebut, menikmati setiap waktu yang ada, menikmati setiap hembusan angin yang diciptakan oleh atmosfir laut selatan. Ah, ingin ku katakan tentang keindahan alam semesta ini kepada sang pencipta, tentang gelap gulita yang tak sempat menyapa realita, tentang sosok jelita yang menyinari gelap gulita. Lantas, ku hirup udaraku  sendiri, mengonversi setiap hembusan menjadi sebuah puisi. Tak mengapa jika puisiku tak secantik wajahmu kala disinari oleh sinar senja matahari. Nyatanya, aku lebih suka itu terjadi daripada puisi yang kubuat sendiri. 

Serupa debur ombak, kala itu hati ku tak nampak seperti sedang bergejolak. Tenang, namun tak mengikuti aliran ombak. Ah aku suka sekali momen seperti ini. Ombak di depanku tampak jelas sedang bergejolak mengayunkan irama nya sendiri yang sedang berkolaborasi dengan batu karang. Terlihat seakan marah terhadap diriku, iri terhadapku yang sedang menikmati kemarahannya. Seperti kebanyakan sekarang, orang-orang lebih suka melihat orang lain marah-marah sendiri tanpa ada alasan yang jelas. Ah, tenanglah ombak, aku lebih suka melihatmu tenang mengikuti musik yang kau ciptakan sendiri bersama angin, batu karang, dan bukit. Mengapa kau tak tunjukkan kepadaku pertunjukkan musik yang begitu asyik untuk dilirik?

Hari sedang berada di tengah-tengah antara sore dan siang, kira-kira bumi sang lembayung senja sedang bertarung dengan sang fajar untuk merebutkan sang mentari. Aku tak bisa apa-apa tentang perkelahian itu, karena bagiku, ini  merupakan tontonan yang lumayan seru. Biarkan aku menikmati ini dengan sedikit menulis puisi. 

Setapak Laut Selatan

Debur ombak tak kan surut
Hatiku terhasut oleh hijaunya rumput
Tubuhku terbaring tak berdaya
Juga batu karang yang tak berdaya

Lembayung senja melambai kan tangan
Tak kusapa dengan sebuah senyuman
Aku  enggan, puisiku tak  terselesaikan
Setapak di laut selatan....



Seketika kertas ku tercoret oleh pena yang sedang berlaga di atas secarik kertas, seperti ada sosok yang sengaja menyenggol tangaku agar penaku terjatuh. Kau tahu mengapa? Pertandingan tadi dimenangkan oleh sang lembayung senja. Tentu saja, wajah sosok jelita itu sedang tertimpa oleh sinar senja, puisi ku menemui jeda, dan wajahku jelas menatap sosok jelita senja.

Maafkan aku yang tak sempat menyelesaikan puisi tersebut. 

Adieb Maulana
13 April 2017 22:05

  • view 139