Hilang, Tak Berkesudahan

adieb maulana
Karya adieb maulana Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 Maret 2017
Hilang, Tak Berkesudahan

Hilang, tak berkesudahan

 

Aku berjalan menyusuri jalanan yang terlihat begitu sepi. Tak kusangka, kini aku berdiri di tengah-tengah benda mati yang seolah sedang memberikan isyarat kepadaku. Sore itu, Nampak pohon yang diterpa oleh angin seakan saling berkomunikasi satu sama lain, kendaraan yang lewat pun tak kalah heboh dengan pohon dan angin, satu per satu lewat dan memberikan sapaan terhadap pagar yang sedang menangis karena cat nya lambat laun luntur akibat angin hujan. Seolah kendaraan tersebut mencoba menghibur pagar tersebut dengan kata-kata “tenang, kamu hanya kekurangan indah sementara, sebentar lagi kamu akan indah lagi” sambil berlalu begitu saja. Lalu, aku mencoba menangkap isyarat apa yang akan mereka sampaikan kepadaku. Aku duduk di antara rumunan benda mati tersebut, menundukkan kepala dan sesekali menulis apa yang sedang ada di dalam pikiranku.

“Nah, ayo main petak umpet, aku yang jaga ya sekarang. Kamu semua harus bersembunyi di tempat yang susah aku temukan, biar permainan ini menjadi menyenangkan”

“Oke, tapi jangan lupa ya cari kami. Nanti kamu tiba-tiba pulang ke rumah seperti kemarin. Curang sekali”

“hahaha, tidak kok. Aku akan mencari kalian sampai dapat”

Tiba-tiba perenunganku sore itu yang sedari tadi ditemani oleh benda-benda mati tersebut dihancurkan oleh sekumpulan anak-anak yang sedang bermain petak umpet di sore itu. Entah apa yang ada dipikiran anak-anak tersebut, tapi bukankah sangat  tidak dianjurkan bermain petak umpet pada sore hari?mengingat banyak sekali cerita-cerita yang berkeliaran tentang seorang anak yang hilang dan tidak tahu kemana mereka pergi. Namun, anak-anak tidak akan berpikiran seperti itu, apa yang mereka anggap menyenangkan maka harus ia lakukan saat itu juga. Begitu juga aku, tak terlintas sedikitpun dipikiranku tentang cerita yang sedang beredar, aku bahkan berniat untuk ikut bermain petak umpet bersama anak-anak tersebut.

“hai, bolehkah aku ikut bermain denganmu?”, pintaku terhadap seorang anak yang berjaga

“oh boleh kak boleh, tapi kakak yang gantiin aku jaga ya. Aku yang bersembunyi he he”, jawab dia, imut.

Ya, aku pun menyetujui transaksi tersebut. Dan anak kecil itu ikut bersembunyi bersama teman-temannya tadi yang sudah duluan bersembunyi.

“aku hitung ya, 1, 2, 3………100, oke siap atau tidak, aku akan mencari kalian!”. Kataku.

Lalu, aku pun mencari anak-anak tersebut. Aku menyusuri tempat demi tempat di daerah sekitar, namun aku tak kunjung menemukan anak-anak tersebut. Entah, pada kemana mereka bersembunyi?atau mungkin mereka mencoba mengerjai aku dan pulang ke rumah masing-masing?. Pertanyaan di dalam pikiranku tersebut langsung  di tepis oleh keberadaan tas anak-anak yang masih tergeletak di samping pohon. Aku mencoba mencari lagi dengan teliti, namun tak kunjung juga aku menemukan mereka. Tiba-tiba, mataku tertuju ke suatu tempat,  yaitu kuburan. Tempat dimana para orang dewasa tidak mungkin bersembunyi di daerah situ, apalagi anak-anak kecil. Di dalam pikiranku pun langsung melemparkan pernyataan “tidak mungkin anak-anak kecil tersebut bersembunyi di kuburan”. Disisi lain diriku, tampaknya sedikit penasaran dengan kuburan itu. Sisi lain tubuhku berhasil menggoda  langkah kakiku untuk menuju ke tempat itu. Dengan langkah yang tak tergoyah sedikitpun, aku menuju kuburan tersebut. Dan ternyata anak-anak tersebut berada di sekitar kuburan tersebut.

“Memang sungguh anak-anak yang gila”, batinku dalam hati.

Matahari pun mulai tenggelam di ufuk barat, hari gelap. Sudah seharusnya aku mengantarkan anak-anak ini pulang ke rumah mereka masing-masing.

“Ehiya, rumah kalian dimana?biar kaka kantar pulang”, tawarku kepada anak-anak tersebut

“itu kak”, sambil mereka menunjuk ke arah kuburan tadi

Hah, yang benar saja kalian. Tiba-tiba saja tanganku pun ditarik oleh mereka untuk menuju kuburan tersebut. Aku berusaha melawan agar tidak ikut ke arah mereka. Untung saja ada bapak-bapak yang membantuku menarik tubuhku dari tarikan anak-anak tersebut. Dan entah apa yang terjadi, tibia-tiba saja anak itu tersenyum kepada aku dan bapak tersebut sambil melambaikan tangannya.

Hilang.

Pergi bersama angin, tak pamit dengan pohon

Pagar yang bersedih tak kunjung habis

Kendaraan sudah tak ada yang lewat lagi

Bapak tersebut dengan kaget berkata kepadaku, “bagaimana bisa kamu bermain dengan anak-anak tersebut barusan? Mereka telah hilang sekitar seminggu yang lalu!”

Lalu, aku pun terkulai lemas saat itu juga. Dalam pikiranku,, “dimanakah anak yang tadi bermain petak umpet saat aku merenung?apakah hilang juga nasibnya?”

Adieb Maulana
Semarang, 28 Maret 2017
00:06

gambar dari google

  • view 124