Senyummu, Puisiku

adieb maulana
Karya adieb maulana Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 Maret 2017
Senyummu, Puisiku

Tamat sudah riwayatku, aku bingung harus melakukan apa agar semua ini kembali menjadi normal. Tubuhku kaku tak mampu bergerak sedikitpun. Tatapanku hanya melihat sesuatu cahaya putih yang kapan saja bisa menabrak diriku dan membuatku pingsan saat itu juga. Entah apa cahaya putih itu, namun itu membuatku begitu heran akan sosoknya. Tapi, mau bagaimanapun juga diriku saat ini sedang terhipnotis oleh dimensi lain yang akan bergabung ke dalam kehidupanku. Sebuah dimensi yang akan membawaku, bahkan membawa kalian ikut menikmati alur yang tersaji. Dan betul saja, saat diriku sedang asyik melihat cahaya putih itu, tampaknya aku telah pingsan dan jatuh ke dalam lubang dimensi yang telah disiapkan untukku.

Terjatuh begitu dalam....

Dan...

Aku tak ingat apa yang terjadi sebelumnya, aku amnesia..

Lalu, aku mencoba untuk membuka mataku. Aku sedang berada di suatu ruangan yang menurutku sungguh tidak masuk akal sama sekali, karena ruangan itu hanya tersaji warna putih tanpa ada warna lainnya. Namun, siapa peduli akan hal itu, karena sekarang tiba-tiba saja dihadapanku ada sosok wanita yang begitu manis mengenakan baju berwarna biru, itu membuatku lupa akan ruangan yang di penuhi oleh warna putih ini, dan juga menyadarkanku akan sebuah perbedaan yang begitu indah. Tahukah kau apa yang pertama kali wanita itu lakukan kepadaku saat aku melihatnya?. Iya, ia melemparkan sebuah senyuman dihadapanku. Andaikan saja ada sebuah kertas, aku akan langsung menuliskan sebuah puisi untuknya dan langsung memberikannya. Tapi, yang kutemukan hanya ruangan putih saja.

"Ah sial". kataku di dalam hati, sambil memegang saku ku.

Eh, tunggu dulu, ternyata di dalam saku ku ada sebuah spidol. Mungkin spidol ini ada sebelum aku pingsan tadi. Terus, apa yang sebelumnya aku lakukan sampai ada spidol ini?entahlah, amnesia ku  masih terus menguasai diriku. Tanpa berpikir panjang, aku langsung mengambil spidol itu dan menuliskan sebuah puisi di dinding ruangan putih itu. Tentu puisi ini untuk wanita yang sedang tersenyum kepadaku sambil mengenakan baju birunya.

Aku ini seorang yang sedang tersipu malu
Entah sosok apa yang sedang menungguku
Aku ini tak mengerti tentang duniamu
Entah sosok apa yang membuatku menunggu

Rekayasa di bibirmu tak menggetarkan langit
Tunggu, kamu sedang berada di atas awan
Senyummu menggetarkan hati
Hatiku, tak berkutik

Semoga detik demi detik tak bergerak
Aku harap seperti itu

Tak kuasa ku mencoba berlari
Tak rela ku mencoba pergi
Senyummu selalu kunikmati
Senyummu selalu menghasilkan puisi

Selesai aku menuliskan puisi itu di dinding, ku tengok wanita yang mengenakan baju biru tadi. Namun kenyataan selalu menyakitkan daripada kematian. Nyatanya, wanita baju biru tadi sudah tidak ada, pergi meninggalkanku dengan puisi yang tak sempat aku berikan untuknya. 

Aku tak menangis, aku pun tak meminta gerimis hujan jikalau nanti tangisanku meluap. Aku hanya bergeser dari tempat berdiriku menuliskan puisi tadi dan memulai menulis puisi yang lain.

Aku mengerti, saat semua pergi dan berlalu
Tetesan hujan di atas langit tak mampu berhenti
Aku mengerti, saat semua tak lagi seperti dulu
Angin tak sempat mengucapkan selamat tinggal pada awan

Senyummu selalu menghiasi puisi ini
Namun juga menghancurkan hati ini
Resah, namun tak kehilangan arah
Aku terbuang di dalam emosiku

Entah apa yang  membuatmu tersenyum
Semoga puisi ini
Karena aku menciptakan puisi ini dari senyummu
Semoga indah hari ini.

Ku jatuhkan badanku setelah menuliskannya, lalu terbaringlah diriku tak berdaya. Aku mulai berpikir, andaikan aku tak terjebak dalam dimensi ini, mungkin aku tak akan bertemu wanita berbaju biru itu dan menciptakan dua puisi yang menghiasi ruangan putih ini. Aku lelah, mataku tak sanggup terbuka lebih lama lagi, tiba-tiba ruangan putih itu berubah menjadi gelap, aku tertidur, dan entah kemana lagi dimensi ini akan membawa diriku.

Selamat hari puisi, semoga kita senantiasa menciptakan puisi-puisi yang selalu menghiasi ruangan putih yang tak berinovasi itu. Karena dengan puisi, kita dapat  menciptakan dunia kita sendiri. Dan karena puisi, senyummu selalu abadi dalam kertas dan hati.

Adieb Maulana
21 Maret 2017 
17:44

gambar dari google

  • view 217