Post Power Syndrome

adieb maulana
Karya adieb maulana Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 14 Maret 2017
Post Power Syndrome

Sore sedang tak bersahabat hari ini. Langit mendung, seolah begitu memperlihatkan dirinya bahwa langit yang seindah itu pun pasti mempunyai sisi gelapnya. Senja yang seharusnya muncul di tengah-tengah orang yang sedang lelah akan aktifitasnya bisa menjadi pelipur lara, tidak menampakkan dirinya sama sekali. Tuhan berkehendak lain, rintik-rintik hujan sedari tadi menghujam tanah di bumi ini. Bagi seorang sastrawan ataupun penyair mungkin ini merupakan momen yang sangat syahdu untuk menciptakan sebuah karya. Berbeda bagi seorang yang sedang ingin mengais rejeki di malam hari, mungkin ia akan mencaci maki hujan yang turun pada sore ini.  Sedangkan aku, aku justru sedang berdiam diri di tengah rintik hujan yang begitu menawan. Tak bergerak. Mungkin hanya  detak jantungku yang bergerak sambil mengikuti detik yang berdetak di jam dinding. Membayangkan begitu enaknya dahulu ketika masih kecil, disaat hujan, aku dan teman-temanku berlari sekencang mungkin untuk menerobos hujan yang begitu deras. Tak berpikir akankah nanti kita sakit, yang ada hanyalah pikiran bersenang-senang.

Ah tiba-tiba aku rindu.

Aku teringat tentang sebuah buku yang ku baca, tentang bagaimana Sir Winston Leonard Spencer Churchill memperjuangkan negaranya sampai titik darah penghabisan. Beliau merupakan bekas perdana menteri Inggris. Churchill baru mengundurkan diri dari politik dan percaturan kenegaraan pada usia 81 tahun. Ia pun bukan hanya seorang politikus, ia merupakan seorang penulis yang berhasil meraih hadiah nobel untuk kesusastraan pada tahun 1953. Salah satu bukunya yaitu tentang bagaimana ia menceritakan Raja Alfonso XIII. Raja Alfonso XIII yang malang, ia lahir setelah kematian ayahnya, Raja Alfonso XII. Saat itu juga ia pun diangkat raja. Bahkan sebuah surat kabar Perancis, Le Figaro menggambarkan raja muda ini sebagai "Penguasa yang paling bahagia dan paling dicintai diseluruh dunia".

Aku juga teringat bagaimana post power syndrome menyerang seseorang yang sedang menjalankan bisnisnya lalu ia bangkrut , dan ia terkena post power syndrome.  Betapa menyedihkannya hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Aku sempat berpikir jika Sir Winston dan Raja Alfonso XIII terkena post power syndrome, bagaimana masa kejayaannya yang begitu indah dahulu kala pasti akan selalu membayang-bayangi mereka setelah mereka tua.

Bukankah masa lalu itu selalu menyajikan sesuatu yang indah?

Pertanyaan itu selalu tersimpan dalam sudut otakku. Aku selalu beranggapan bahwa akankah indah masa sekarang yang aku jalani tanpa masa lalu ku? Entahlah, apakah hanya aku yang berpikiran seperti itu. 

Mungkinkah setiap orang terkena post power syndrome?

  • view 213

  • Umie Poerwanti
    Umie Poerwanti
    8 bulan yang lalu.
    Manusiawi mas... sulit melupakan masa lalu, manis maupun pahit.
    Apalagi bila berkaitan dengan masa kejayaan yg telah berlalu.
    Obatnya MOVE ON.
    Bukan melupakan, tapi ikhlas melepaskan. ☺