Ibu, Kau Bukan Hanya Sekedar Indah, Kau Tak Akan Terganti

adieb maulana
Karya adieb maulana Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 23 Desember 2016
Ibu, Kau Bukan Hanya Sekedar Indah, Kau Tak Akan Terganti

Waktu pukul 05:00 WIB, ku dengar suara dari ibu ku yang sedang membangunkanku, "Dib, tangi Dib wes jam piro iki ndang tangi kae lho wes padang neng njobo" (Dib, bangun dib udah jam berapa ini. Ayo bangun itu lho di luar udah terang) . Aku berusaha terbangun dari tidurku, mencoba menguatkan mata ini agar tidak tertutup lagi, dan mencoba untuk tidak membuat suara ibu ku lebih keras. Kadang biasanya kalau aku susah dibangunin ibu akan mengeraskan suaranya untuk membangunkanku he he. Lalu aku pun segera mengambil air wudhu dan menunaikan sholat subuh.

Ibu, aku akan sangat merindukan suara mu untuk membangunkaku dari tidur, akan sangat. Mungkin tidak sekarang. Karena terkadang aku menganggap suara mu di pagi itu sungguh sangat mengganggu tidurku. Kau tahu, anakmu ini pasti akan sangat menyesal telah menganggap seperti itu. Namun seperti yang ku katakan pada kalimat pertamaku. Aku akan sangat merindukan suara mu untuk membangunkanku dari tidur, akan sangat.  Aku tidak berharap suatu saat  suara alarm dengan musik yang dibawakan Pierce The Veil-King For A Day untuk membangunkanku, aku juga tidak berharap suara teriakan bangunanmu direkam untuk bisa menjadi suara alarmku. Aku hanya berharap suara teriakanmu yang keluar dari mulut lembutmu yang selalu membangunkanku di setiap paginya.

Setelah sholat subuh selesai, Ibu langsung bertanya kepadaku, "mengko kuliah jam piro dib" (nanti kuliah jam berapa dib?). Aku pun menjawab "jam setengah 9 bu"Setelah itu aku tidur kembali. Ya, mungkin sebagian besar dari kita langsung menunaikan ibadah tidur setelah ibadah sholat subuh, mungkin, atau hanya aku saja he he. Di saat aku tertidur, ibu ku hanya tertidur sebentar, lalu beliau menyiapkan segala hal untuk membuka toko. Ya, ibu ku mempunyai sebuah toko di depan rumah ku persis, atau biasa yang disebut ruko. Setelah sekiranya mendekati jam setengah 9 an, beliau mulai membangunkanku lagi untuk aku bersiap-siap berangkat kuliah.

Ibu, aku hanya tidak bisa berpikir. Pemikiran ku hanya sebatas susu yang selalu kau buat untuk ku selalu enak. Namun pemikiran ku tidak sampai kepada, Tuhan menciptakan seorang ibu dengan bahan dasar apa?Apakah seluruh kasih sayang dan cinta di dunia ini dikumpulkan untuk dijadikan bahan dasar seorang ibu, atau apa?Ah aku juga tidak percaya jikalau seluruh kasih sayang dan cinta di dunia ini dijadikan bahan dasar, karena aku yakin itu semua tidak bisa mengalahkan kasih sayang dan cinta seorang ibu. Lalu, apa ya Tuhan?apakah Engkau rela membagikan bocoran jawaban terkait itu?. Ya, pemikiran ku hanya sebatas bahan dasar susu  yang enak, dan lebih enak saat di olah dan di buat oleh ibu.

Jam menunjukkan pukul 20:00, saatnya aku pulang ke rumah. Setelah aku lelah dengan hal perkuliahan, organisasi, kuliah, bercanda dengan teman. Kehidupan di kampus yang terbilang begitu keras. Aku pun pulang ke rumah. Sesampainya di rumah aku disambut oleh senyuman yang keluar dari ibu yang seharian menjaga toko, sambil bertanya kepadaku, "wis mangan durung?nek durung lek ndang jajan kono, awak wis gering e koyok ngono ok rak mangan" (sudah makan belum?kalau belum ayo makan, badan udah kurus gitu kok ga mau makan". Rasanya, semua rasa lelah yang aku dapatkan seharian mencair sudah. Aku seakan-akan menemukan air di padang pasir yang begitu luas.

Ibu, mungkin ucapan terima kasih dari ku tidak akan cukup untuk membalas semua jasamu. 
Ibu, aku akan selalu ingat semua nasihatmu.
Ibu, aku selalu merekam setiap senyumanmu, tawamu, tangismu, di dalam kamera mataku dan telah kumasukan ke dalam memori otakku.
Ibu, maafkan anakmu yang selalu saja tidak bisa menjadi apa yang kau inginkan.

Ibu, izinkan aku mengutip lagu dari Marchell untukmu. Ibu, kau bukan hanya sekedar indah, kau tak akan terganti.

Dan, kini aku mencoba mengukir sebagian kehidupan kita sehari-hari di dalam kertas putih yang hanya berisi 695 kata saja. Aku yakin tidak cukup untuk menuliskan segala jasa yang telah kau lakukan kepadaku dari aku kecil hingga sekarang. Sekarang aku bisa banyak hal bu, membaca, menulis, mendengar, merasakan arti cinta, melihat segala keindahan Indonesia. Pokoknya sekarang aku bisa banyak hal berkatmu bu. Ibu, meskipun tanpa ayah di umurku yang ke 5 kau begitu kuat dalam mengurus 3 anak mu sekaligus, sampai sekarang, sampai aku berumur 21. 

Kau tahu, air mata merupakan sebuah pelepasan rasa emosional yang ada di dalam dirimu. Jangan kau tahan, biarlah ia keluar.

Semarang, 23 Desember 2016
Selamat hari Ibu di tanggal 22 Desember 2016 teruntuk semua ibu di dunia

 

  • view 243