Aku, berdialektika dengan diri ku part 2

adieb maulana
Karya adieb maulana Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 Oktober 2016
Aku, berdialektika dengan diri ku part 2

Jam menunjukkan pukul 09:00, aku harus bergegas menuju kampus ku. Siang itu jam 10:00, aku sedang ada ujian tengah semester di kampus ku. Aku sedang duduk di depan ruangan kelas ku untuk belajar. Entah apa yang dirasa oleh otak ku, aku sangat sulit untuk mencerna pelajaran yang sedang aku baca, pikiranku pergi kemana mana seakan melupakan yang sedang ada di hadapan ku saat ini. Di hadapan, sebuah buku di minta untuk dimakan (re-dimasukan ke dalam otak), namun aku sedang  tidak berada pada posisi nyaman ku saat ini. Kepandaian ku merusak sendiri sistem-sistem nya, menggerogoti setiap bagian-bagian yang sedang dibangun oleh seorang kuli proyek dalam tubuhku.

“Diriku sedang tidak baik-baik saja”, pikirku.

Ujian kali ini sungguh sangat menyiksaku, bagaimana tidak otak ku tidak bekerja dengan baik seperti biasa nya. Soal pun ku jawab dengan seadanya. Nampak di sebelah bangku ku, teman ku sedang serius sekali mengerjakan soal ujiannya. Sedangkan aku, seperti orang yang sedang hilang arah tanpa tujuan. Seperti hal nya seorang bayi yang baru lahir dan melihat di sekitar tidak menemukan induk nya, bingung. Terpaksa, aku mengerjakan soal ujian tidak se maksimal mungkin

“Diriku benar-benar sedang dalam kondisi yang sangat buruk”, pikirku berulang kali.

…………………………..

Aricia memutuskan untuk masuk ke dalam pintu yang bertuliskan “kepandaian” dulu. Karena baginya itu merupakan nama yang sungguh unik di antara ke empat pintu tersebut. Bergegaslah ia masuk ke dalamnya. Dan lihat apa yang ditemukan Aricia, di dalamnya orang-orang sedang membaca buku-buku, ruangan tersebut seolah-olah seperti perpustakaan. Sunyi, sepi, dan tentram sekali berada dalam ruangan tersebut. Tidak ditemukan sama sekali keberisikan di dalamnya. Beruntunglah Aricia karena saat membuka pintu tidak ada seorang pun yang menoleh ke arahnya. Ia pun menelusuri setiap ruangan tersebut dengan langkah perlahan. Nampak di setiap sudut ruangan tersebut terdapat tombol, yang entah apa maksud dari tombol tersebut. Aricia pun nampak bingung, dan tentunya penasaran sekali akan tombol itu. Aricia berusaha untuk melupakan semua tombol tersebut, mengingat ia hanya seorang pendatang yang hanya ingin menikmati pesona otak. Dan nampaknya ia sudah tidak tahan ketika ia menemukan sebuah layar besar yang bertuliskan,”Daerah Anterior, Lobus Frontalis”. Rasa penasarannya membunuh rasa tidak enaknya. Dan lihatlah apa yang dilakukan oleh Aricia, ia sedang memainkan layar besar tersebut dengan tombol yang berada di bawahnya, yang tak lain itu merupakan sebuah kendali.

Seketika seluruh ruangan “kepandaian” panik dengan ada nya suara sirene yang disebabkan oleh Aricia. Aricia pun menyesal atas kecerobohannya, ia pun tidak mau perjalanan ini hanya berakhir disini dikarenakan ia akan ditangkap oleh petugas sekitar akibat kecerobohannya. Ia pun cepat-cepat keluar meninggalkan ruangan yang berubah seketika dari sepi menjadi ramai. Dan ia menuju pintu keluar lalu menutup pintunya. Aricia lalu berdiam diri sambil bernafas terengah-engah. Ia sungguh sangat menyesal dengan apa yang ia lakukan barusan, ia tidak tahu kalau akan terjadi hal seperti tadi. Ruangan yang tadinya sunyi sekali seketika menjadi kacau akibat ulahnya. Akibat rasa penasarannya.

“Rasa penasaranku sungguh tinggi, entah apa yang mencoba mendorongnya untuk melawan diriku melakukan tadi”, pikir Aricia dalam hati. Aricia memutuskan untuk mencari tempat persembunyian dan beristirahat sebentar.

Aricia tetap ingin melanjutkan ekspedisi nya, karena ini merupakan tugas dari atasan untuk mengetahui setiap bagian otak. Maka ia pun mulai masuk ke dalam pintu yang bertuliskan “pertimbangan”. Dan betapa terkejutnya ia, dalam ruangan tersebut sedang dalam perbaikan, ia mencoba membantu sebagai tebusan atas apa yang ia lakukan tadi di ruangan “kepandaian”. Orang-orang di dalam pun tidak curiga dengan Aricia karena mereka juga sangat senang ada orang yang bersedia membantu kerusakan pada ruangan “pertimbangan”. Setelah semuanya baik, Aricia pergi meninggalkan ruangan tersebut sembari tersenyum karena merasa telah menebus dosa yang telah ia lakukan tadi.

………………………….

Aku pun keluar ruangan ujian. Nampak tiba-tiba ada teman perempuanku yang berdiri di sampingku sambil berbicara kepadaku

“hei, nanti ada rapat kan untuk membahas kelanjutan malam keakraban jurusan kita?”, kata dia sambil menenangkan ku.”kau terlihat sangat kacau hari ini, kenapa?”

“ah tidak apa-apa kok, oh iya nanti yah jam 4 sore, kamu juga jangan lupa datang”, ucapku kepadanya, seolah-olah melupakan apa yang sebenarnya terjadi pada diriku.

“sip, aku pasti datang kok, kan aku wakilnya hehehe”.

Iya,aku adalah seorang ketua acara malam keakraban jurusanku. Seorang ketua seharusnya mempunyai pertimbangan yang matang akan segala hal yang nanti nya mau diambil dan diharapkan apa yang telah ia pertimbangkan untuk di ambil akan membuahkan hasil yang bagus. Namun pertimbangan yang ku lakukan minggu kemarin merupakan sebuah kesalahan fatal, aku mempertimbangkan untuk tidak mengikut sertakan dosen dalam acara ku nanti, nyata nya kemarin aku ditegur oleh dosen tersebut karena ia merasa tidak di hargai karena tidak di undang dalam acara mahasiswa, dan ia mengancam akan membatalkan acara tersebut dan meniadakannya. Untung masalah itu segera teratasi karena aku dan wakil ku tadi berbicara dengan sebaik mungkin alasan mengapa tidak mengikut sertakan beliau, dan akhirnya beliau mengerti, lalu mencabut keputusannya untuk membatalkan acara tersebut. Betapa beruntungnya diriku hehe.

Dan sekarang, rapat untuk memutuskan, akankah acara ini besok akan diadakan. Mengingat dana yang ada hanya sedikit. Aku sangat bingung, aku takut hal minggu kemarin akan terjadi, keputusan yang tidak didasari oleh pemikiran yang matang. Ditambah lagi pikiranku sedang kacau karena ujian tadi tidak kukerjakan semaksimal mungkin. Sebelum rapat pun aku memutuskan untuk menyendiri, memikirkan tentang rapat nanti. Karena berdialektika dengan diri sendiri merupakan hal yang sangat ampuh untuk menyelesaikan masalah dalam diri kita.

Jam 4 sore, rapat pun digelar. Aku diminta untuk membuat keputusan akan besok. Dengan segala pemikiran yang sudah aku pikirkan tadi, aku mempertimbangkan dan memutuskan untuk tetap mengadakan acara malam keakraban walau dana hanya sedikit.

Dan nyatanya, besoknya acara kami tetap berjalan lancar. Bahkan para peserta sangat antusias mengikutinya. Walau kekurangan dana kami masih bisa melaksanakan acara tersebut, dan bahkan mendapat pujian dari teman jurusanku yang lain. Katanya acara jurusanku sangat bagus.

Begitulah pertimbangan, engkau harus berpikir keras supaya nanti yang kau ambil merupakan keputusan yang terbaik untukmu dan untuk orang sekitarmu.

To be continue…….

  • view 208