Aku, berdialektika dengan diri ku part 1

adieb maulana
Karya adieb maulana Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 Oktober 2016
Aku, berdialektika dengan diri ku part 1

Tetesan air demi air sedang ingin singgah ke tanah alam semesta, senja kala itu merupakan senja romantis yang sengaja Tuhan rencanakan untuk ku waktu itu, mungkin. Betapa indahnya waktu itu, hujan yang berkuasa atas senja sedang ingin membuat senja iri akan dirinya. Aku tahu karena aku suka sore, bisa jadi senja sedang iri akibat dirinya sedikit tergantikan waktu itu oleh hujan. Dan benar apa yang ku duga, senja tiba-tiba berbisik kepadaku”Ah betapa beruntungnya hujan, Tuhan sedang membuat harinya begitu indah dengan memadukan dirinya dengan diriku,  aku sedikit iri karena manusia kebanyakan menyukai hujan dikala senja, begitu menenangkan dan sangat romantis”

Sedari tadi, aku hanya berdiam di bawah pohon kersen, menghabiskan waktu ku sendiri. Melihat betapa tentramnya dunia ini, sebelum kejadian itu terjadi—seperti halnya awan yang sengaja menutup kegagahan sang gunung, gunung hanya diam tak berkutik sedikitpun. Kata kebanyakan orang perbanyaklah berdialog dengan diri sendiri maka kamu akan mengetahui siapa dirimu. Sejenak menenangkan diri dari rutinitas harian, menulis sesuatu dan mencoba mengajak pembaca untuk masuk ke dalam dimensiku. Dimensi yang kubuat semenarik mungkin supaya pembaca tertarik hehe, semoga.

Lalu, mari aku tuntun masuk ke dalam dimensi tersebut…..

 Di dalam otakku kedatangan sebuah makhluk kecil, sebut saja Aricia. Aricia sedang berjalan di sekitar otakku. Di dalam otak terdapat banyak sekali laci-laci penyimpanan yang berisi dokumen-dokumen penting, dan di sekitarnya juga terdapat banyak pegawai yang sedang sibuk dengan komputer di depannya. Suasana seperti itu mirip sekali dengan suasana yang biasa terjadi di kantor perusahaan. Aricia sungguh sangat terkagum akan apa yang ia lihat barusan, ia sangat menikmati perjalanannya kali ini.

“Aku ingin mencoba menelusuri di berbagai sudut otak ini”, kata Aricia dalam hati.

 Ia pun melanjutkan perjalannya, sambil sesekali menyapa pegawai,  yah walaupun hanya satu dua yang menyapa balik. Tau sendiri pegawai tersebut sedang sibuk dengan urusannya masing-masing.  Aricia melanjutkan langkah demi langkahnya menelusuri bagian otak, sampai pada suatu pintu yang bertuliskan “Otak Besar” ia begitu penasaran dengan isi dari ruangan tersebut. Lalu ia pun menuju pintu tersebut. Namun nampaknya ia menemukan sebuah tulisan yang tidak begitu menyenangkan, disitu tertulis di samping pintu tersebut “Selain pegawai dilarang masuk”. Dan seketika Aricia pun terbujuk kaku ketika mengetahui tulisan tersebut. Ia tahu ia hanya pendatang disini yang sedang ingin menelusuri otak yang sungguh mempesona ini. Lalu ia berpikir keras bagaimana caranya ia bisa masuk ke ruangan tersebut. Dua pegawai sedang keluar dari ruangan tersebut, Aricia segera bersembunyi agar tidak diketahui oleh dua pegawai tersebut. Sungguh beruntung sekali nasib Aricia, dua pegawai itu lupa menutup pintu ruangan tersebut, dengan cepat ia pun masuk ke dalam ruangan tersebut.

Aricia tidak hentinya berdecak kagum saat sudah masuk ke dalam ruangan tersebut, ruangan yang begitu luasnya dengan desain yang memperlihatkan keestetikaannya, serta berbagai macam alat pangatur  dimulai dari tombol yang menghubungkan sistem-sistem yang bekerja di dalam, seakan sudah terancang sebegitu detailnya membuat Aricia sungguh betah akan ruangan tersebut. Sayang Aricia harus cepat mencari tempat persembunyian karena ada pegawai yang sedang lewat hampir memergoki Aricia. Nasibnya masih beruntung. Lalu ia pun melanjutkan perjalanannya, langkah demi langkah ia perhatikan sedemikian rupa supaya tidak dipergoki oleh pegawai sekitar. Dan betapa terkejutnya Aricia ketika ia menemukan 4  pintu di hadapannya sekaligus. Pintu-pintu itu masing-masing ada tulisan di depannya. Pintu yang pertama bertuliskan “Kepandaian”, pintu kedua bertuliskan “Memori”, pintu ketiga bertuliskan”Kesadaran” dan pintu yang keempat bertuliskan “Pertimbangan”.

To be continue…..

 

 

  • view 157