Jalan-Jalan Menuju Masa Depan

adieb maulana
Karya adieb maulana Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 30 Juni 2016
Jalan-Jalan Menuju Masa Depan

Jalan-Jalan Menuju Masa Depan

Tulisan ku ini pada saat aku berumur 25 tahun

Jalan-jalan ku kali ini sungguh sangatlah luar biasa, entah mengapa bagiku jalan-jalan kali ini berbeda dengan biasa yang aku lakukan ketika aku dan teman-teman ku menuju ke sebuah tempat wisata, ataupun mendaki gunung, dan mungkin ketika pergi ke tepi pantai.

-----------------------------------------------------------------------

Dulu, sekitar 6 tahun yang lalu

Ketika aku pergi mendaki gunung dengan teman-teman ku, aku sangat senang sekali bisa melihat keindahan ciptaan Tuhan yang begitu megahnya. Aku dan teman-teman ku memulai perjalanan mendaki gunung ini pada malam hari, waktu itu kami mendaki gunung merbabu yang bertempat di Jawa Tengah. Kami pun memulai perjalanan, di tengah perjalanan yang begitu gelap dan dikelilingi oleh sekumpulan batang pohon, kami hanya bisa melihat punggung teman kami yang di depan. Sedangkan orang yang di depan hanya bisa menerawang jalan dengan senter. Nampaknya ada teman kami yang sedang capek, lalu ia meminta untuk berhenti sejenak agar bisa istirahat. Kami pun bercanda ria di sela istirahat tersebut supaya kami merasa ramai walau di tengah suasana hutan yang identik sepi.
”heh aku punya tebak-tebakan nih”kata salah satu teman kami yang bernama Kumoy.
“hewan-hewan apa yang bisa berhenti sendiri”lanjut dia saat memperhatikan ekspresi muka kami yang terlihat tertarik dengan tebakannya, padahal hanya pura-pura tertarik untuk meramaikan.
“hmm apa yah gue gak tau nih moy”, sahut Ayup, teman kami yang mencoba menebak.
”ah apaan sih moy nyerah dah gue”, timpal Hammam yang ikut tidak tahu soal tebakan dari Kumoy.
”ah payah lu pada, jawabannya adalah ikan paus, kan paus itu artinya berhenti hehe”. Jawab Kumoy dengan barisan gigi yang terlihat dari mulutnya.
“yaampun moy itu mah pause kali”, kata teman kami, Adieb. Dan semua akhirnya tertawa

Selain itu kami juga menghindari cuaca yang waktu itu sangat dingin sekali, oleh karena itu sebisa mungkin kami bercanda ria agar suasana dingin itu tidak terasa dengan hangatnya kebersamaan kami. Perjalanan pun kami lanjutkan, walaupun jalan terlihat gelap dan tidak terlalu jelas kami mencoba memakai senter agar terlihat jelas jalan yang kami tempuh. Iya memang sedikit gelap dan susah di terawang, tetapi kami masih bisa melanjutkan perjalanan menuju puncak merbabu. Tak terasa kami sudah sampai di pos 3 dimana disitu adalah tempat para pendaki untuk mendirikan tenda dan beristirahat. Dan pada pukul 01:15 pun kami beristirahat atas lelahnya jalan-jalan kali ini.

Esoknya kami melanjutkan perjalanan ke puncak dan butuh waktu sekitar 3 jam untuk sampai puncak. Pagi hari sekitar jam 08:00 kami siap-siap untuk melanjutkan perjalanan ke puncak. Hingga tak terasa jalur demi jalur telah kita lalui, berbagai halangan jalur terjal maupun jalur landai sudah kita lewati. Dan akhirnya puncak kentheng songo yang berada di merbabu telah kita jamahi bersama-sama atas dasar kebersamaan yang terbangun pada jalan-jalan.

 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Lalu sekarang umurku sudah 25 tahun, lantas jalan-jalan ku kali ini sangatlah berbeda ketika aku jalan-jalan bersama temanku sewaktu 6 tahun yang lalu. Kali ini jalan-jalanku melewati jalur yang memang terlihat gelap seperti jalur yang aku lewati sewaktu naik gunung. Tetapi sekarang jalur itu benar-benar gelap dan belum tentu terlihat oleh senter karena aku sendiri belum mengetahui jalur apa yang sedang kulewati saat ini. Berbeda dengan jalur di gunung waktu itu ketika gelap masih ada senter yang menuntunku. Jalan-jalan kali ini benar-benar buta sekali mataku terhadapa jalur yang kulewati, entah apakah yang kulewati benar ataukah malah jalur ini yang akan menuntunku ke dalam jurang?pertanyaan-pertanyaan seperti ini yang selalu menghantuiku di setiap malamnya.

Lantas apakah aku harus berhenti dulu untuk istirahat lalu bercanda ria seperti halnya saat aku jalan-jalan di gunung?kurasa itu ide yang bagus. Lalu aku berhenti sejenak dari jalan-jalanku kali ini, jalan-jalan yang entah membawaku kemana. ketika aku berhenti pun aku tidak melihat teman-temanku yang biasa aku ajak bercanda ria seperti halnya waktu aku mendaki gunung.

“hei mengapa kau hanya berdiam diri?bukankah justru kamu harus memikirkan apa yang akan kamu lakukan setelah ini?setelah kamu tahu bahwa kebingungan yang terus menghantuimu disetiap malam. Dan kamu masih berdiam diri dan bercanda ria seenaknya”. Hatiku tiba-tiba ikut berbicara pada saat aku sedang enak-enaknya beristirahat.

Benar juga apa yang dikatakan oleh hatiku, aku harus menyusun strategi untuk perjalanan ku selanjutnya, karena aku belum tahu persis apa yang ku hadapi setelah ini.

Entahlah, jalan-jalan ku kali ini berbeda dengan jalan-jalan ku waktu mendaki ke gunung, ke tepi pantai atau bahkan hanya sekedar jalan-jalan ke tempat wisata yang berada di kota ku

 

Semarang, 30 Juni 2016 01:39 WIB
Adibio

 

 

 

  • view 193