Roda Kehidupan

adieb maulana
Karya adieb maulana Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Mei 2016
Roda Kehidupan

Kalau bisa memilih, semua pasti memilih hidup ini akan indah seterusnya. Namun jangan lupa, roda kehidupan kan selalu berputar, kadang di atas dan kadang di bawah. Dan dalam hidup ini pasti ada kadar pahit dan manisnya. Ibarat keindahan yang digoreskan oleh senja, begitu indah nan elok. Namun jangan lupa adanya gelap malam dan terik surya yang selalu melengkapinya. Jadi belajarlah mensyukuri apapun yang terlihat begitu indah meskipun hanya sekejap. Karena itulah, cara Tuhan mencintaimu. –Nina—

---OOO---

 Termenung, kutatap sekitarku sambil merenung. Suasana senja kali ini cukup membuat hatiku yang sedari pagi ricuh sedikit membaik. Bukan, bukan hanya kali ini, mungkin setiap senja yang sudah kulewati. Entah mengapa siluet senja selalu berhasil membuat hati dan pikiranku berjalan seirama, tanpa ada beban tanpa ada tekanan. Mungkin Tuhan sedang bahagia kala itu ketika memasukkan senja ke dalam bagian hari. Ditemani teh yang sedari tadi kuseruput, pemandangan kolam di depanku, orang-orang yang sedang memancing di sekitar kolam serta suasana angin yang begitu semilir membuat ku begitu betah berdiam duduk sendiri di samping kolam sambil memandangi orang-orang yang sedang beraktifitas di sore hari. Aku tersenyum. Iya ketika aku tersenyum mungkin akan sedikit membuat hidup ini menjadi lebih hidup. Tak kusangka senyumanku membuat sang angin yang semilir sejak tadi heran terhadapku, sehingga ia berkata kepadaku,”tahukah kau, bagian mana dalam satu hari yang paling aku suka?benar, aku suka sekali bagian senja, senja begitu menenangkan bagi siapa saja yang menikmatinya”. Dan aku pun langsung setuju kepada sang angin, walau aku belum sempat menjawab pertanyaannya. “senja bagiku merupakan anugerah terindah yang diberikan Tuhan terhadap manusia, andai saja dunia ini tanpa saja, mungkin manusia akan kehilangan segalanya”. Aku pun ikut memberikan pendapatku tentang senja kepada sang angin.

Tak terasa senja pun mulai turun menyisakan semburat sinarnya yang berwarna jingga. Diiringi lagu dari Payung Teduh berjudul menuju senja yang ada di handphoneku, dan senja yang sudah menenggelamkan diri nya sendiri, tiba-tiba pikiranku di penuhi kenangan 5 tahun lalu, kenangan manis duduk di sekitar Polder Tawang, Semarang. Bersama sang pemilik senyum manis.

---OOO---

Ku kira waktu ku berhenti berdetak saat aku melihat seseorang dengan pemilik senyum manis itu sedang asyik berbincang-bincang dengan teman nya. Nyata nya, kulihat jam tangan ku masih bergerak dari detik ke detik. Aku perhatikan sang pemilik senyum manis itu, mengenakan jilbab berwarna biru dongker dengan perpaduan baju bergaris hitam putih serta celana jins yang begitu melengkapi warna jilbabnya, berwarna biru dongker juga, sepatu nya berbentuk flat shoes dengan paduan warna pelangi yaitu merah kuning hijau di hiasi garis putih. Ah aku ingat betul yang ia kenakan pada saat pertama kali aku memperhatikannya. Lalu pandanganku terpaku pada sang pemilik senyum manis itu sedang melambaikan tangan ke teman nya seolah ia akan pergi meninggalkan teman nya. Dan momen terindah ku pun hanya bertahan beberapa menit saja saat sang pemilik senyum manis itu pergi dengan paras anggun nya. Aku pun tidak berdiam diri saja, kudatangi teman yang sedari tadi berbincang-bincang dengan sang pemilik senyum manis itu, tujuanku tentu saja ingin kenal terhadap sang pemilik senyum manis itu. Teman nya itu bernama Nadya. Ia sangat asyik sekali, sehingga aku pun tidak susah mencari informasi tentang si pemilik senyum manis itu. setelah asyik berbincang dengan Nadya aku pun berterima kasih kepada nya lalu kemudian aku bergegas kembali ke rumah untuk menyelesaikan tugas kuliahku.

Semenjak saat itu, waktu malamku terganggu akibat sang pemilik senyum manis itu. hanya karena melihat senyuman nya, aku terbawa kepada oleh imajinasiku dan tertuju pada pulau yang bernama neverland dimana waktuku dengan sang pemilik senyum manis itu sangatlah panjang untuk kita lewati bersama. Ah andaikan neverland itu ada aku pasti akan membawa sang pemilik senyum manis itu kesana. Aku lupa memperkenalkan sang pemilik senyum manis itu. Namanya Reva.

Waktu sudah terlalu malam, ku nyalakan music Payung Teduh yang berirama pelan sambil memejamkan mata. Selamat malam Reva, semoga kamu mimpi indah.

---OOO---

Hari besoknya di kampus, aku melihat Reva sedang asyik sendirian duduk di sebuah kursi sambil mendengarkan lagu lewat headset nya. Tanpa berpikir panjang ku datangi dia lalu aku berdiri di  depan nya sambil mengulurkan tangan, “hai”. Sapaku dengan nada yang begitu datar. Reva sendiri tidak menyadari kedatangan ku karena dia masih asyik dengan suara music yang ada di telinga nya. Aku menarik kabel headset yang masih tertancap di handphone nya, dan suara music itu sangat kedengaran keras sekali, music itu aku kenal sekali yaitu Payung Teduh-Menuju Senja. Dia agak sedikit marah kepadaku sambil berkata,”ih apaan sih ganggu orang lagi mendengarkan music aja”. Nada nya kedengaran sedang kesal terhadapku. “kamu siapa?”, lalu ia bertanya kepadaku. “mm aku Ajun, dari tadi merhatiin kamu dari pohon itu he he”. Aku pun mengenalkan diriku kepada Reva. “kamu Reva, kan?”. Tanyaku. “iya aku Reva, kok tahu namaku?”, tanyanya sedikit penasaran. “he he tahulah, aku kan seperti detective Conan” jawabku sedikit tidak jelas. “apaan sih kamu”. Dia sedikit merubah raut mukanya seperti orang kesal. “eh kamu suka paying teduh?”, aku bertanya, mencoba mencari topic pembicaraan kepada nya. “iya suka banget” jawab dia. “oh sama dong kalau gitu, aku juga suka banget sama paying teduh, apalagi yang baru saja kamu dengerin tadi, yang menuju senja”. Aku pun menjelaskan bahwa aku juga suka paying teduh. “oh gitu, kamu suka juga?asyik dong ada yang sama selera musiknya sama aku”. Reva keliatan tertarik terhadap pembicaraan kami. “he he iya, aku suka banget. Dari liriknya dan musiknya itu benar-benar dapat menenangkan hati banget deh”. Jelasku ingin menarik perhatian Reva. “iya, aku juga berpikiran sama banget kayak yang kamu bilang barusan”, Reva pun setuju dengan pendapatku. “kamu nanti siang kosong tidak?ikut aku yuk ke Semarang Art Gallery, disitu banyak pameran seni yang bagus-bagus”. Ajakku kepada nya, berharap semoga ia mau dengan ajakan ku. “hm gimana ya, boleh deh kebetulan aku juga ingin kesana dari kemarin-kemarin”. Dan aku pun sangat senang sekali, dalam hati ingin melompat girang layaknya anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru dari orang tua nya, tapi kuurangkan niat ku itu, karena aku takut Reva heran akan kelakuanku.

---OOO---

Siang itu, dengan cuaca khas Semarang yang begitu terik sinar mataharinya menembus sela-sela gedung-gedung tua yang ada di kota lama Semarang. Terlihat disamping taman sri gunting banyak sekali pameran-pameran barang antik yang begitu menarik perhatian para pengunjung yang kebetulan sedang singgah di kota lama. Di taman nya pun banyak sekali orang-orang sedang bercengkrama sambil asyik menikmati es teh ataupun minuman yang segar, di depan gereja blenduk orang-orang banyak yang foto sana sini ingin mengabadikan momen nya di sekitaran situ. Aku dan Reva terpana melihat suasana kota lama ini. Bayangkan saja, mata Reva pun selalu memperhatikan daerah sekitar sambil berkata “indah sekali ya Jun”. dan tentu saja aku tahu mengapa dia sangat menikmati daerah sekitar kota lama, karena aku selalu memperhatikan raut muka nya sedari tadi sambil sesekali melihat daerah sekitar kota lama. Aku tahu betul kalau dia sedang terpesona melihat kota lama. Kami pun berjalan memasuki Semarang Art Gallery. Tidak hanya kota lama yang membuat kami  terpesona, Semarang Art Gallery pun sungguh sangat membuat kami terpana dengan berbagai karya seni yang di tampilkan. Mulai dari lukisan sampai patung pun terpajang di Semarang Art Gallery, patung itu miring seperti hal nya menara pissa yang ada di Italia. Sangat unik dan menarik untuk berfoto disana.

Tak terasa, sore hari sudah menyambut kami ketika  kami sedang asyik menikmati Semarang Art Gallery. Kami pun keluar dari situ, aku mengajak Reva untuk duduk-duduk di sekitar polder tawang yang berada di dekat stasiun tawang. Reva pun mau, kami menuju kesana dan mencari tempat duduk yang sekira nya pas untuk menikmati senja. Kolam di tengah polder tawang itu berhasil membuat perhatian kami terpesona di sore itu. orang-orang terlihat ada yang mancing di sekitar kolam tersebut. Suasana angin sore yang menyambut senja ku bersama Reva sangat sejuk sekali, seolah-olah hanya khusus diberikan untuk suasana sore ini. Senja pun terlihat sekali sedang menunjukkan keindahannya di depanku dan Reva. Warna jingga nya berhasil menghipnotis mata kami berdua.

“Kamu tahu gak, aku suka sekali senja. Entah mengapa aku menyukainya, walaupun senja hanya datang begitu cepat memberikan keindahan dan pergi begitu saja, aku tetap suka padanya. Karena aku yakin bahwa senja akan datang lagi kepadaku dan aku pun tidak sabar menunggu kedatangannya”. Ucapku kepada Reva.

“Aku tahu, karena kamu pun merasakan sama seperti apa yang kurasakan saat ini”Reva berkata kepadaku dengan nada yang sangat halus.

Senja demi senja kami lalui bersama, di tempat yang sama. Sungguh indah penutup hariku, menikmati senja bersama sang pemilik senyum manis yaitu Reva. Sampai pada akhirnya pada saat kami melewati senja yang entah keberapa kali bersama Reva, Reva berkata kepadaku “kamu masih ingat perkataanmu kepada ku tentang senja pada pertama kali?senja itu seperti aku, maaf aku harus pergi dan entah kapan kembali ke Indonesia lagi, karena keluargaku pindah ke Inggris aku harus ikut mereka kesana, maafkan aku, Anjun”.

Lalu, senjaku setelah itu hanya aku sendiri yang menikmati, senja yang dulu begitu romantic ketika menikmati bersama orang dengan senyuman manis. semoga Reva menikmati senja yang luar biasa di tanah Inggris.

---OOO---

 

Termenung, kutatap sekitarku sambil merenung. Suasana senja kali ini cukup membuat hatiku yang sedari pagi ricuh sedikit membaik. Bukan, bukan hanya kali ini, mungkin setiap senja yang sudah kulewati. Entah mengapa siluet senja selalu berhasil membuat hati dan pikiranku berjalan seirama, tanpa ada beban tanpa ada tekanan. Mungkin Tuhan sedang bahagia kala itu ketika memasukkan senja ke dalam bagian hari. Ditemani teh yang sedari tadi kuseruput, pemandangan kolam di depanku, orang-orang yang sedang memancing di sekitar kolam serta suasana angin yang begitu semilir membuat ku begitu betah berdiam duduk sendiri di samping kolam sambil memandangi orang-orang yang sedang beraktifitas di sore hari. Aku tersenyum. Iya ketika aku tersenyum mungkin akan sedikit membuat hidup ini menjadi lebih hidup. Tak kusangka senyumanku membuat sang angin yang semilir sejak tadi heran terhadapku, sehingga ia berkata kepadaku,”tahukah kau, bagian mana dalam satu hari yang paling aku suka?benar, aku suka sekali bagian senja, senja begitu menenangkan bagi siapa saja yang menikmatinya”. Dan aku pun langsung setuju kepada sang angin, walau aku belum sempat menjawab pertanyaannya. “senja bagiku merupakan anugerah terindah yang diberikan Tuhan terhadap manusia, andai saja dunia ini tanpa saja, mungkin manusia akan kehilangan segalanya”. Aku pun ikut memberikan pendapatku tentang senja kepada sang angin.

Tak terasa senja pun mulai turun menyisakan semburat sinarnya yang berwarna jingga. Diiringi lagu dari Payung Teduh berjudul menuju senja yang ada di handphoneku, dan senja yang sudah menenggelamkan diri nya sendiri. Terima kasih Reva telah membuat senjaku menjadi indah ketika melewatinya bersamamu. Kamu akan selalu terkenang dalam lemari kenanganku.

  • view 149