Beda Persepsi, Beda Aksi

Adi Prayuda
Karya Adi Prayuda Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 05 Maret 2016
Beda Persepsi, Beda Aksi

Suatu sore, setrika lagi nongkrong bersama teman-temannya di ruang tengah. Ada kulkas, kipas angin, mesin cuci, dan lampu. Setrika memulai obrolannya,

"Fren, menurut kalian, listrik itu apa sih? Bagiku listrik itu sesuatu yang ketika mengaliri tubuhku, tubuhku jadi makin panas. Dan ketika tidak mengalir lagi, tubuhku kembali seperti biasa."

"Kurang tepat kalo artinya seperti itu, Ka," kata kulkas kepada setrika. "Justru listrik itu adalah sesuatu yang membuat sekujur tubuhku merinding kedinginan, bukan malah semakin panas. Air bisa kuubah jadi es kalau listrik mengalir di tubuhku."

"Wah, ngawur aja kalian ini," mesin cuci mulai ngoceh. "Listrik gak ada hubungannya dengan panas atau dingin, justru listrik itu berhubungan dengan goyang. Kalo listrik mengalir, badanku maunya goyang aja..seger...campur apek!"

"Sudahlah, kalian ini sebenarnya belum tau apa-apa tentang listrik," kata lampu mulai memberi pencerahan. "Kalian ini makhluk-makhluk bawah, aku yang termasuk makhluk atas karena letakku di atap, jadi aku lebih mengerti tentang listrik dibanding kalian. Listrik itu adalah sesuatu yang mengubah kegelapan menjadi terang. Dari gelap terbitlah terang."

"Itu bukannya quote-nya ibu Kartini ya, Mpu?" potong kulkas.

"Tau apa kamu tentang ibu Kartini. Kamu belum lahir waktu beliau lahir," kata lampu.

"Iya nih, sok tau banget kamu, Kas..t'goyang..kapok!" ejek mesin cuci kepada kulkas.

Tidak beberapa lama, sang pemilik rumah yang sedari tadi mendengar perdebatan alat-alat elektroniknya itu mulai bersuara, "Kalian semua benar, apa yang kalian definisikan sebagai listrik sudah benar menurut persepsi kalian masing-masing. Kalian mempersepsikan listrik sesuai dengan fungsinya dalam diri kalian masing-masing. Seandainya saja kalian tidak banyak berdebat, hening saja sebentar, kalian akan tau bahwa listrik yang mengalir di tubuh kalian; setrika, kulkas, mesin cuci, lampu, tv, radio, laptop, hp, tablet, panggangan roti, AC, blender, solder, dll adalah listrik yang sama. Tidak ada bedanya. Yang berbeda adalah fungsi dan persepsi kalian. Itu saja."

.....................................................................................................................................

?

Banyak dari kita yang mungkin pernah berdebat dengan orang lain untuk hal-hal berbeda sifatnya di permukaan, namun ternyata memiliki esensi yang sama. Hanya saja, ketika itu, pemahaman kita masih dangkal, masih lebih sering mengedepankan ego ketimbang melihat sesuatu lebih dekat. Melihat sesuatu lebih dekat penting sekali bagi kedewasaan berpikir seseorang. Selama ini, kita melihat sesuatu bukan sebagaimana adanya. Kita melihat sesuatu dari sisi yang ingin kita lihat saja. Mata melihat, persepsi yang memaknai. Sehingga, tidak jarang, kita melihat hal yang sama dengan orang lain, namun menghasilkan tindakan yang berbeda. Itu karena makna yang dibentuk oleh persepsi masing-masing berbeda.

Banyak konflik yang terjadi di kehidupan kita ini bukan karena tindakan orang tertentu atau keadaan tertentu, tapi karena PERSEPSI TENTANG tindakan dan keadaan tersebut. Orang yang sedang marah, sebetulnya bukan sedang marah kepada seseorang, sekelompok orang, atau keadaan yang sedang berlangsung, tapi sedang marah terhadap PERSEPSINYA sendiri tentang seseorang, sekelompok orang, atau keadaan tersebut. Ini yang jarang disadari, sehingga kita cenderung menyalahkan apapun pemicu di luar diri kita yang menyebabkan kita marah, ketimbang mengintrospeksi diri dan mencari akar permasalahannya di dalam diri sendiri.?

Listrik, pada cerita diatas, bisa ditinjau dari berbagai sudut pandang. Setiap alat elektronik ?merasa? sudut pandangnyalah yang benar, yang paling akurat untuk menjelaskan apa itu listrik, tapi kan tidak begitu pada kenyataannya. Yang sering terjadi, justru ada AROGANSI yang timbul ketika masing-masing pihak mengutarakan sudut pandangnya. Seperti yang dicontohkan oleh lampu. Lampu ?merasa? dirinya adalah ?makhluk atas? karena berada di atap, sedangkan alat-alat elektronik yang lain dipandang sebagai ?makhluk bawah?. Itu sering terjadi dalam kehidupan kita. Ada orang-orang yang merasa derajatnya lebih tinggi dibanding orang yang lain, kemudian malah menggunakan hal tersebut untuk merendahkan pendapat orang-orang lain di sekitarnya. Hal tersebut hanya mengenyangkan ego, tapi tidak memberikan kebahagiaan yang bertahan lama.

Dengan demikian, kemampuan untuk menghormati perbedaan bukanlah kemampuan yang bisa dimiliki oleh orang-orang yang belum lapang hatinya dan belum luas sudut pandangnya. Jangankan untuk menghormati, untuk menerima bahwa ada perbedaan saja belum tentu bisa. Dalam penerimaan yang tulus, akan tumbuh penghormatan. Itulah yang dinamakan berpikir positif. Selama ini orang beranggapan bahwa berpikir positif adalah MENGHARAPKAN yang terbaik yang akan terjadi, tapi sebenarnya berpikir positif lebih kepada MENERIMA bahwa sesuatu yang hadir adalah yang terbaik. Dalam MENGHARAPKAN, rentan terjadi kekecewaan bila kita terlalu melekat dengan harapan tersebut. Namun, dalam penerimaan, segala sesuatu bisa bertransformasi menjadi lebih baik.

Pada akhirnya, kita akan memahami bahwa perbedaan adalah keniscayaan. Ada hal-hal yang bisa kita kendalikan, ada yang tidak. Untuk sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan, pilihan terbaiknya adalah menerima. Banyak ilmu yang kita pelajari dalam hidup ini dengan tujuan untuk mengontrol sesuatu, mengendalikan sesuatu, mendapatkan sesuatu, tapi berapa banyak ilmu yang kita pelajari dengan tujuan untuk MENERIMA dan MENSYUKURI apapun yang tersaji di hadapan kita saat ini..disini..tanpa sedikitpun upaya untuk mengontrol dan mengendalikannya?

?

***

?

Foto diambil di :?citragrandcity.com

  • view 172