Apakah Menerima Itu Butuh Upaya?

Adi Prayuda
Karya Adi Prayuda Kategori Motivasi
dipublikasikan 21 Februari 2016
Apakah Menerima Itu Butuh Upaya?

Apa bedanya menerima dan berusaha menerima? Kelihatannya mirip, ya? Namun, kalau direnungi betul, 'rasanya' jauh berbeda. Dalam penerimaan, kita hanya menerima, apa pun itu, tapi ketika kita 'berusaha menerima', kita sedang berusaha mengubah kondisi perasaan kita yang semula 'tidak menerima' menjadi 'menerima'. Dalam 'berusaha menerima', kita tidak sedang sungguh-sungguh menerima. Kita sedang berusaha mengubah sesuatu! Kita sedang 'memaksakan' sesuatu di dalam diri kita untuk berubah karena kita berpikir tidak ada pilihan lain. Dan itu rasanya tidak enak!

Seseorang pernah berkata, "Kalau kamu belum bisa menerima kejadiannya, terima dulu pikiran dan perasaan yang muncul dari dalam dirimu ketika kejadian itu hadir." Kalau ada rasa marah yang hadir, terima dulu rasa marahnya. Akui bahwa ada rasa marah. Jujurlah dengan diri sendiri. Tidak berusaha menguat-nguatkan diri. Kalau ada kekecewaan mampir, terima dulu kecewanya. Kalau ada jengkel bertamu, terima dulu jengkelnya. Kalau ada rasa 'tidak terima' yang muncul, TERIMA DULU KETIDAKTERIMAAN itu! Berupaya untuk menerima kejadiannya, tapi memaksakan rasa 'tidak terima' di dalam diri berubah menjadi 'menerima' mengantarkan kita pada penderitaan. Bukan kejadiannya dulu yang diterima, tapi peluk rasa 'tidak terima' yang muncul di dalam diri.

Banyak orang salah kaprah dan menyamakan konsep 'berusaha menerima' itu dengan ikhlas. Itu bukan ikhlas, tapi penekanan perasaan. Dan ikhlas bukan tentang itu. Bukan tentang berusaha menerima, melainkan menerima. Total acceptance is surrender. Kita tidak akan menjadi orang yang benar-benar kuat hanya karena sering melatih diri dalam menahan perasaan-perasaan yang muncul. Justru dengan begitu, kita akan mulai terbiasa ?membohongi? diri sendiri. Kita mulai melatih diri mengurangi kepekaan terhadap rasa-rasa yang acapkali muncul dari dalam. Di suatu saat, kita akan sampai pada keadaan di mana kita merasa asing dengan diri kita sendiri. Kita tidak kenal diri kita sendiri. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya kita inginkan dan apa yang membuat kita bahagia dalam hidup ini. Kita berada pada kehidupan yang kering makna. Hampa!

Oleh karenanya, konsep tentang menerima ini menjadi sebuah topik yang penting terkait dengan kebahagiaan. Bukan saja secara konsep, namun juga secara praktek. Menerima dan berusaha menerima memiliki perbedaan yang sangat mendasar dari sisi praktek. Dalam menerima, tidak ada ?jarak? yang terbentuk terhadap rasa yang hadir di diri kita. Kita menyadari sepenuhnya rasa yang datang dan tidak berusaha menciptakan ?rasa lain? yang ingin kita capai. Ketika kita marah, kita sadari bahwa ada rasa marah di dalam diri kita. Kita tidak lari dari rasa marah itu. Kita tidak berusaha untuk ?menyabar-nyabarkan? diri. Ketika kita sedih, kita menyadari sepenuhnya bahwa kita sedang sedih, bahwa sedih sedang ?bertamu? di dalam diri kita. Begitu juga ketika kita sedang kecewa, jengkel, bosan, dan sebagainya. Berbeda dengan itu, ketika kita sedang berusaha menerima, ada ?jarak? yang terbentuk antara ?kondisi yang sebenarnya? dan ?kondisi yang seharusnya?. ?Jarak? itulah yang menciptakan konflik batin. Konflik batin inilah yang membuat kita sulit berbahagia. Ketika ada ?jarak? antara rasa yang hadir dengan rasa yang seharusnya, saat itulah kita sedang berusaha menerima, bukan menerima, karena ada ?suatu rasa yang lain yang ingin dicapai?. Kita, dengan pikiran kita sendiri, menciptakan suatu kondisi yang ingin kita capai agar kita ?tidak berjumpa? dengan rasa yang sedang hadir di dalam diri kita.

Apapun rasa yang hadir, cukup disadari saja, tidak perlu diubah-ubah, direkayasa, dimanipulasi, dan diberi nama macam-macam, karena setiap rasa punya cerita. Dengan disadari, gerakannya akan semakin lambat, dan akhirnya lenyap. Sekali waktu mungkin hadir kembali, sadari kembali. Dengan begini, kita belajar untuk melihat segala sesuatu apa adanya. Dan itu dimulai dari dalam diri kita sendiri. Kita juga belajar untuk tidak selalu ?lari? dari keadaan saat ini, namun belajar ?menyelami? setiap keadaan dan mengambil hikmahnya. Di dalam setiap keadaan, ada hikmah, dan itu tidak bisa kita dapatkan kalau kita terbiasa untuk ?menolak keadaan? itu. Tidak perlu semua rasa dan pikiran disadari karena itu tidak mungkin! Setiap hari kita dihinggapi puluhan ribu pikiran, kalau semuanya disadari, kapan kita bekerja, makan, mandi, belajar, berinteraksi dengan orang lain? Lakukan saja aktivitas seperti biasa, namun dengan lebih sadar. Dengan begitu, setiap hari kita menjadi semakin damai dengan kehidupan, semakin mampu melihat sisi-sisi hidup yang selama ini luput dari perhatian, dan semakin sadar bahwa kehidupan kita itu sangat bermakna.

***

Foto dikutip dari:?www.family-coaching.org

?

  • view 161

  • Asep Kamaludin
    Asep Kamaludin
    1 tahun yang lalu.
    Singkat kata, Apakah benar dalam "Menerima itu ada unsur kerelaan. dan "Berusaha menerima" itu ada unsur keterpaksaan? Adanya perasaan tertekan yang membias menjadi amarah. Namun sebaliknya, jika yang dibiaskannya itu adalah sebuah kebaikan dan kebenaran, maka hal itu sudah selayaknya diterima.