Kesalahan Fatal Pemaknaan Kata Karma

Adi Prayuda
Karya Adi Prayuda Kategori Inspiratif
dipublikasikan 28 Juni 2018
Kesalahan Fatal Pemaknaan Kata Karma

Tidak asing dengan kata “karma”, kan? Setelah sebuah tayangan di salah satu saluran televisi mengangkat judul dengan kata ini dan mendapat rating yang tinggi, kata karma benar-benar sudah menyebar ke banyak benak orang Indonesia. Belum lagi acaranya memang di-set agar memiliki nuansa “mistik” yang dominan. Dulu, kata karma bernuansa “mistik”. Lalu, bagaimana dengan sekarang? Bukan sebaliknya, justru lebih “mistik” lagi. Kata “mistik” sendiri sebenarnya sudah mengalami pergeseran makna menjadi hal-hal yang bernuansa seram dan terkait dengan ritual-ritual dalam interaksi manusia dengan makhluk halus. Apakah benar? Menurut KBBI, mistik mengandung arti subsistem yang ada dalam hampir semua agama dan sistem religi untuk memenuhi hasrat manusia mengalami dan merasakan emosi bersatu dengan Tuhan; tasawuf; suluk. Arti yang lain adalah hal gaib yang tidak terjangkau dengan akal pikiran manusia biasa. Jadi, arti yang ada dalam KBBI justru terkait dengan agama dan keilahian, bukan hal-hal yang bernuansa seram. Pemahaman yang seperti ini seharusnya bisa menjadi penyeimbang bagi pemaknaan yang sudah terlanjur menjadi kesepakatan komunal yang mungkin tidak disadari oleh masyarakat Indonesia. Begitu juga dengan kata KARMA!

Merujuk kepada KBBI lagi, karma memiliki dua arti. Yang pertama adalah perbuatan manusia ketika hidup di dunia. Yang kedua adalah hukum sebab akibat. Secara arti, sebenarnya sifatnya netral saja. Namun, secara pemaknaan, arti ini bisa digeser ke arah manapun yang sesuai dengan kepentingan manusia yang mengarahkan. Istilah Karma, awalnya, berasal dari bahasa Sansekerta, dari kata Kr (Karma) artinya "bertindak, tindakan, perbuatan, kinerja". Dalam Kitab Weda, perbuatan baik disebut Subha Karma dan perbuatan buruk disebut Asubha Karma. Dan semuanya itu disebut Karma. Konsep karma ini berasal dari India kuno dan dijaga kelestariannya di filsafat Agama Hindu, Agama Jain, Agama Sikh dan, ajaran Buddha. Namun, apa yang ada di benak masyarakat kita saat ini “sepertinya” tidak seperti itu. Dari mana hal itu bisa diamati? Dari seringnya muncul ungkapan seperti ini, “Semoga dia mendapat karma yang setimpal atas perbuatannya. Tuhan tidak tidur!” Ungkapan seperti itu biasanya diucapkan ketika seseorang merasa marah, jengkel, atau kecewa dengan perilaku orang lain. Yang artinya, kata karma digunakan lebih sebagai respon ketika rasa-rasa “negatif” yang muncul. Dan ungkapan tadi pun sebetulnya kurang tepat, yang lebih pas diletakkan disana bukanlah kata karma, tapi karmaphala. Karmaphala artinya pahala atau hasil dari perbuatan. Dan perbuatan ini tidak hanya perbuatan yang negatif saja, tapi juga perbuatan yang baik atau positif. Masing-masing memiliki konsekuensinya.

Sekalipun sekarang, mungkin, banyak yang sudah paham arti kata karma menurut KBBI, belum tentu bisa menggeser pemaknaan yang sudah terlanjur berkembang di masyarakat. Itu hal yang tidak mudah memang. Namun, dari awal tulisan ini memang bukan ditujukan untuk itu. Bukan untuk menggeser atau mengalahkan makna yang terbentuk dan berkembang di masyarakat saat ini, namun hanya untuk menjadi penyeimbang. Itupun tentu bukan untuk semua orang, tapi untuk orang-orang yang masih mau diajak berpikir dan terbuka dalam berdiskusi, serta orang-orang yang tidak terlalu cepat mengikuti arus pemikiran massa, yang ujung-ujungnya bisa menumpulkan kemampuan dalam menganalisis sesuatu. Tulisan ini sama sekali tidak ditujukan untuk mengkritisi sebuah acara di salah satu stasiun televisi yang saat ini sedang banyak ditonton masyarakat dalam negeri, bahkan sampai ke luar negeri. Justru kita perlu bisa mengamati dan menjadikannya sebagai wawasan akan sebuah pertanyaan, kenapa acara itu bisa begitu digemari di negara ini? Dengan begitu, kita mungkin akan sampai pada pemahaman tentang faktor-faktor dominan yang menjadi pendorong masyarakat kita berperilaku, khususnya dalam hal menonton sebuah acara di televisi.

***

Sumber gambar: lintasorgz.com | April 20, 2018

  • view 20