Hanya Kita yang Sibuk!

Adi Prayuda
Karya Adi Prayuda Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 14 Februari 2016
Hanya Kita yang Sibuk!

Senja, Aku ingin mengingatkan sesuatu kepadamu. Tentang Cinta. Mungkin Engkau bosan mendengarkan Aku bercerita, tapi tolong dengarkan dulu. Ini penting bagi kita..mungkin penting juga bagi umat manusia.

...lihatlah pagi ini, Senja..matahari bersinar penuh cinta...bunga-bunga merekah dalam cinta...dan burung-burung berkicau dengan cinta...tapi kita, manusia, sampai detik ini, masih saja berdebat tentang perayaan cinta, sibuk dengan syarat-syarat cinta, dan kebingungan mencari makna cinta itu sendiri...Yang mana yang lebih mulia menurutmu, Senja?

Kita senang sekali memenjarakan cinta dalam kata. Tanpa sadar kita telah memeras maknanya..sampai yang tersisa hanyalah jejak-jejaknya saja..konsep-konsep cinta. Kering. Mati. Kemudian inilah yang sama-sama kita yakini sebagai cinta. Yang sama-sama kita perdebatkan dan ributkan. Dengan logika kita masing-masing tentunya. Dengan ayat-ayatmu dan ayat-ayatku. Apa yang kita ingin capai? Kita membicarakan cinta, namun membuat kegaduhan dimana-mana! Apakah dengan ini kita menjadi bermakna, Senja? Apakah dengan ini akan membuat semakin banyak orang yang memahami cinta? Atau justru, sebenarnya kita sedang mengumumkan kedangkalan pikiran kita masing-masing akan cinta kepada banyak mata dan telinga?!

Senja, ingatkah Engkau ketika kita ingin melihat segala sesuatunya dengan mata yang kita sebut 'mata cinta'? Kita memaksakan diri untuk melihat segalanya sempurna. Kemudian kita terjebak di dalam halusinasi dan kehilangan esensi.?Segalanya datang dan pergi, namun kita menginginkan sesuatu yang abadi.?Kita tidak ingin segalanya berlalu.?Namun, akhirnya kita pun bertanya malu-malu dan sedikit ragu, "Jika begitu, dengan cara apalagi cinta menjadi baru?"

"Kesempurnaan itu ilusi," katamu suatu ketika. "Yang membuat cinta kita menjadi mati.?Kini, cinta membuatku melihatmu tidak sempurna. Begitu pun juga sebaliknya kalau kau mau.?Sehingga, masing-masing kita akan selalu memiliki ruang untuk saling memaklumi kekeliruan, untuk saling memaafkan kesalahan.?Dalam ketidaksempurnaanmu, aku menjadi ada dan bermakna.?Saling melengkapi dengan cara kita sendiri.?Dan cinta adalah guru paling berharga yang mengajarkan kita?untuk melihat segala sesuatunya tidak sempurna." Sungguh kecantikanmu luar biasa ketika itu, Senja. Bukan karena rambut panjangmu..bukan karena sorot indah matamu..bukan pula karena lentik jemarimu..tapi karena Engkau telah menenggelamkan logikaku ke dalam dunia cintamu dan menjadikannya dunia cinta kita.

Sejak saat itu..kita memutuskan untuk tidak mempertanyakan cinta lagi, tidak memperdebatkannya lagi..karena orang yang sibuk mempertanyakan dan memperdebatkan cinta sedang tidak mencintai. Hanya kita, manusia, yang dianugerahi pikiran untuk mempertanyakan segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, kemudian sibuk mempertanyakan cinta dan lupa mencintai.

Oh iya Senja, Kau sempat pula memberikanku analogi yang begitu indah, "Apa yang kita temukan ketika kita menatap mata seseorang secara mendalam? Ada wajah kita disana, kan?! Dan apa yang kita temukan ketika kita mencintai seseorang secara mendalam? Ada diri kita disana." Ada Aku di dalam Kamu dan ada Kamu di dalam Aku. Kau mengingatkanku arti pentingnya mencintai dibandingkan mempertanyakan cinta itu sendiri. ?Kau ingat kata-kataku? "Cinta bukanlah pertanyaan, tapi jawaban dari banyak pertanyaan dan perdebatan."?

Senja, mungkin ini yang terpenting untuk kita resapi bersama..bukanlah cinta yang melukai hati, tapi ekspektasi kita sendiri...bukan pula cinta yang membutakan, tapi fanatisme. Senja, terimakasih sudah hadir untukku. Terimakasih sudah mencintaiku.

***

Photo by: Dewan Irawan

?

?