Berhentilah Menjadi Diri Sendiri..

Adi Prayuda
Karya Adi Prayuda Kategori Inspiratif
dipublikasikan 11 Februari 2016
Berhentilah Menjadi Diri Sendiri..

Mungkin sesekali kita perlu berhenti menjadi diri kita sendiri. Justru untuk melihat diri kita lebih utuh, bukan untuk berlari semakin jauh. Membingungkan bukan?! Apalagi pernyataan ini muncul di tengah begitu banyaknya pernyataan tentang menjadi diri sendiri dan berhenti menjadi orang lain. Walaupun kadang-kadang kita juga bingung, diri sendiri itu siapa atau yang seperti apa? Ditambah lagi, kadangkala, kebingungan tentang: saya ini maunya apa? So, tidak semua orang yang menyarankan kita untuk menjadi diri sendiri tau dirinya sendiri itu seperti apa.

Saya berikan analogi sederhana, telapak tangan kita bisa menyentuh banyak sekali permukaan benda; yang halus, kasar, lembut, tipis, tebal, lentur, dingin, hangat, panas, dll. Dari sekian banyak permukaan benda yang bisa disentuh, bisakah telapak tangan kita menyentuh permukaan lengannya sendiri, yang merupakan permukaan terdekat dari 'dirinya sendiri'? Telapak tangan kiri menyentuh lengan tangan kiri, dan telapak tangan kanan menyentuh lengan tangan kanan. Sebagian besar dari kita sulit melakukannya. Sampai saat ini, saya belum pernah melihat orang yang bisa melakukannya, tapi saya terbuka terhadap kemungkinan yang lain.

Mata kita bisa melihat banyak hal, tapi apa bisa melihat alis yang berada beberapa milimeter di atasnya? Kita kesulitan melihat sesuatu yang dekat, sehingga membutuhkan bantuan cermin atau mata orang lain. Kita pintar menilai orang lain, tapi sulit menilai diri kita sendiri. Cepat melihat kesalahan orang lain dan lambat melihat kesalahan diri sendiri. Bijak memberikan solusi atas masalah orang lain, tapi tidak bila masalah yang sama menimpa diri sendiri.

Seperti kalimat di awal, mungkin sesekali kita perlu berhenti menjadi diri kita sendiri. Menjadi seorang pengamat yang memiliki 'jarak tertentu' dengan diri kita sendiri. Tidak lagi 'terlalu dekat', sehingga sulit untuk dilihat. Dengan begitu, kita akan 'lebih mudah' melihat diri kita sendiri, mengamati segala anugerah yang sudah termiliki, namun lupa disyukuri, melihat sudah sejauh mana doa-doa kita mengantarkan kita dalam hidup ini, melihat pengetahuan dan kebijaksanaan apa saja yang sudah dititipkan kepada kita, namun belum digunakan untuk menciptakan kehidupan yang lebih bahagia, melepaskan diri dari konsep diri yang selama ini dipertahankan mati-matian, yang ternyata menjadi satu-satunya alasan kenapa kita menderita.

  • view 427