Benar atau Salah?

Adi Prayuda
Karya Adi Prayuda Kategori Inspiratif
dipublikasikan 11 Februari 2016
Benar atau Salah?

Saya senang mengisi waktu-waktu luang saya dengan menulis atau mendengarkan musik, tapi saya tidak bisa melakukannya bersamaan. Kalau menulis, ya menulis saja. Kalau mendengarkan musik, ya mendengarkan musik saja. Beberapa kali saya coba untuk menulis sambil diiringi musik, kata-kata yang tertuang justru "tersendat-sendat". Tidak mengalir. Makanya, ketika saya ingin menulis (mengetik, red), biasanya saya memilih waktu di malam hari, karena tidak banyak suara yang?terdengar yang berpotensi mengganggu konsentrasi.

Saya selalu mencoba untuk melihat hal-hal sederhana dan mengambil pelajaran berharga dari sana. Banyak catatan yang saya tulis, pada awalnya, justru hanya berisi hal-hal sepele saja, aktivitas sehari-hari?yang biasa saya lakukan. Lambat laun berkembang sesuai dengan perkembangan pemahaman saya akan sesuatu. Tidak jarang saya baca-baca kembali catatan-catatan lama saya. Kadang saya tertegun sendiri, dan merasa aneh, "Kenapa saya bisa menuliskan hal seperti ini, ya?" Kadang saya merasa, ada bagian "diri masa lalu" saya yang lebih hebat dari "diri saya saat ini". Namun, itu tentu saja hanya "permainan" pikiran?yang tidak perlu saya "ambil pusing".

Di lain sisi, ketika saya membaca catatan-catatan lama saya, tidak sedikit dari catatan itu yang tidak sesuai lagi dengan apa yang saya anggap "benar" saat ini. Apa yang saya anggap "benar" dulu berbeda dengan apa yang saya anggap "benar" saat ini. Saya pikir, hanya "baik dan buruk" saja yang relatif, tapi "benar dan salah" pun demikian. Ini tentang sudut pandang, dan sudut pandang itu dinamis sifatnya. Saya akhirnya menjadikan catatan-catatan lama itu sebagai "cermin" diri saya.

Saya mendapat sesuatu yang berharga dari memahami ini. Jangankan dengan orang lain, dengan "diri saya di masa lalu" saja, saya sudah?berbeda dalam menilai baik-buruk, benar-salah. Ada hal-hal yang saya anggap "benar" di masa lalu justru bisa saya anggap "keliru" saat ini. Kenapa? Karena saya memandangnya dengan perspektif yang lebih luas, dan saya kini memahami ada "sudut pandang lain" yang juga bisa saya pakai. Dengan pemikiran ini, saya sekarang lebih cenderung "tidak ambil pusing" terhadap perbedaan-perbedaan konsep "baik-buruk", "benar-salah" dengan orang lain. Mungkin sudut pandangnya berbeda, mungkin juga pemahaman saya yang belum sampai di level itu. Saya jadi teringat kata-kata seseorang yang sangat bijaksana, "Dalam hidup ini, kita tidak bergerak dari kesalahan menuju kebenaran, tapi dari kebenaran kecil menuju kebenaran yang lebih besar."

  • view 134