Menghilangkan Raga Orang Lain

Adi Prayuda
Karya Adi Prayuda Kategori Inspiratif
dipublikasikan 11 Februari 2016
Menghilangkan Raga Orang Lain

Mari kita mulai dengan sebuah pertanyaan..pernahkan mengeluhkan sikap atau sifat seseorang yang tidak disukai?? Saya sering! Tidak semuanya terlampiaskan dalam kata-kata, sebagian ada yang 'tertanam' dalam hati tanpa saya sediakan 'pintu keluar'. Alhasil, emosi ini cukup aktif mengganggu kedamaian hati saya. Setiap pertemuan dengan orang yang tidak saya sukai sikap dan sifatnya itu, bumi bisa berubah dengan cepat, tidak seindah biasanya. Padahal, belum tentu orang itu sedang melakukan tindakan yang tidak saya sukai. Bisa saja dia hanya melakukan aktivitas yang biasa-biasa saja, atau bahkan sedang berbuat baik kepada orang lain. Saya yang telah terjebak dalam masa lalu ciptaan pikiran saya sendiri.

Yang mengalami ini tentu bukan saya sendiri. Saya tau karena tidak sedikit orang yang 'bercerita' kepada saya tentang sifat orang-orang yang tidak disukainya. Bisa orang yang baru dikenalnya, temannya, atau bahkan keluarganya sendiri! Kadang dalam narasi yang terstruktur, kadang dalam keluhan sekelibat. Karena saya acapkali mendapat cerita-cerita dengan mode keluhan seperti ini, saya akhirnya memiliki kesempatan untuk mengamati polanya. Orang-orang yang bercerita kepada saya kebanyakan adalah orang yang saya kenal. Artinya, saya tau juga, walaupun tidak mendalam, sifat orang-orang itu. Setelah saya amati secara seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya..hehe..ketika mereka mengeluhkan sifat seseorang, mereka sebenarnya mengeluhkan sifat yang ada pada diri mereka sendiri! Sifat yang mereka keluhkan dari seseorang sebenarnya adalah sifat yang sama dengan yang dimiliki mereka sendiri! Sifat yang sama pada orang yang berbeda.

Kemudian saya merenungi, apakah ketika saya mengeluhkan sifat seseorang, sifat itu sebenarnya ada pada diri saya? Ternyata jawabannya sederhana, iya. Saya mudah melihat pola itu ketika orang lain yang bercerita, orang lain yang mengeluh, bukan ketika saya yang mengeluh. Dan akhirnya, saya pun semakin sadar bahwa mengeluh itu 'membutakan'. Kita tidak bisa mengeluh dan merenungi diri secara bersamaan. Ketika mengeluh, kita tidak bisa melihat bahwa sifat-sifat orang yang kita temui dalam hidup ini adalah juga sifat-sifat kita. Sifat-sifat orang yang tidak kita sukai sebenarnya adalah sifat-sifat kita juga yang sering kita tolak atau lawan di dalam diri kita. Sifat yang ada di dalam diri kita terefleksi atau terekspresi ke 'dunia di luar diri kita' melalui wujud orang lain. Seandainya wujud/raga orang lain itu 'dihapus' atau 'dihilangkan' melalui pikiran kita dan hanya menyisakan sifatnya yang kita keluhkan? Kita akan bertemu dengan sifat kita sendiri!

Itu yang saya maksud dengan menghilangkan raga orang lain, sehingga kita bisa secara jernih mengamati sifat, hanya sifat, yang ada pada dirinya dan kita keluhkan. Pikiran kita tidak terjebak pada wujud yang bisa beraneka rupa, tapi langsung menyentuh pada inti yang kita keluhkan, tidak membias kemana-mana. Yang ternyata inti itu sebenarnya ada juga dalam diri kita. Kalau kita mengeluhkan orang 'keras kepala', sifat itu sebenarnya ada juga dalam diri kita, bahkan mungkin dominan. Kalau kita mengeluhkan kecerewetan seseorang, padahal kita merasa tidak cerewet, artinya sifat cerewet itu sebenarnya ada dalam diri kita, namun kita tekan atau lawan. Seolah-olah tidak muncul di dalam diri, tapi terekspresi dalam sifat orang lain di sekitar kita. Sifat-sifat orang lain mengingatkan tentang sifat-sifat kita sendiri.

Tapi tidak ada sifat yang tidak bisa berubah. Apapun yang tergantung waktu bisa berubah. Saya sudah malas mengubah orang lain karena tidak semua orang adalah ksatria baja hitam yang bisa berubah dengan cepat. Fokus dengan mengubah 'dunia dalam' saja, 'dunia luar' akan menyesuaikan..karena 'dunia luar' adalah cerminannya.

  • view 103

  • ratna aulia
    ratna aulia
    1 tahun yang lalu.
    Hmm ini juga yg sering saya rasakan. Apapun yg dilakukan oleh orang yg sejak awal tidak kita sukai sifatnya, pasti selalu salah di mata kita.