Orang Pintar yang Tidak Suka Berdebat

Adi Prayuda
Karya Adi Prayuda Kategori Inspiratif
dipublikasikan 11 Februari 2016
Orang Pintar yang Tidak Suka Berdebat

Beberapa hari lalu, saya mengobrol dengan seorang HRD yang memiliki pengalaman kerja di beberapa perusahaan, terutama perusahaan manufaktur. Saat ini, di perusahaan tempatnya bekerja sedang membutuhkan banyak tenaga kerja lulusan STM. Dibutuhkan sekitar 30 operator. STM 'langganan' perusahaan yang biasanya bisa memberikan 30 siswanya untuk bekerja, saat ini hanya memberikan 10 siswa saja. Jadi, kekurangannya harus dicari di STM-STM yang lain.

Kemudian saya bertanya, "Kalau siswa SMA bagaimana?"
"Siswa SMA mempelajari hal-hal yang sifatnya masih sangat general, di beberapa perusahaan manufaktur dipandang sebagai tenaga kerja 'non-skill', berbeda dengan STM. Perusahaan membutuhkan juga tenaga kerja tamatan SMA untuk mengisi posisi OB, OG, atau admin. Bahkan, tenaga kerja lulusan S1-pun banyak yang mendaftar sebagai admin," jawabnya. Ditambahkannya lagi begini, "Syukur di tempat saya bekerja saat ini, bayaran untuk tenaga kerja tamatan SMA masih bisa dikatakan cukup layak, dibayarkan setiap hari dan sesuai UMK. Di perusahaan-perusahaan tempat saya bekerja sebelumnya, tidak seperti itu."

Saya diam sejenak. Bukan mau sok bijak, tapi memang sedang memikirkan sesuatu. Apa yang saya pikirkan?! Saat ini saya mengajar beberapa anak SMA kelas X secara privat untuk mata pelajaran matematika (dan matematika minat), kimia, fisika. Sebelum dan ketika mengajar, saya juga belajar lagi, karena ada beberapa materi pada semua mata pelajaran tersebut yang tidak saya dapatkan ketika saya SMA dulu. Begitu kompleksnya pelajaran yang harus mereka pelajari. Ada bab tentang persamaan kuadrat, logaritma, trigonometri, gerak lurus, gerak melingkar, struktur atom, ikatan ion & kovalen, stoikiometri, dll. Itu masih sebagian kecil saja, belum mata pelajaran yang lain. Belum les-les yang lain. Dan itu baru kelas X. Kelas XI dan XII bisa dipastikan tidak lebih mudah! Bukan hanya siswa yang 'pusing', orang tua juga. Namun, apa yang terjadi ketika anak-anak ini lulus SMA dan memutuskan untuk bekerja di sebuah perusahaan? Seberapa relevannya pelajaran-pelajaran yang mereka dapatkan selama di sekolah dengan keadaan yang harus mereka hadapi setelah lulus?

Ini pertanyaan bagi kita bersama, khususnya bagi siapapun yang membaca tulisan ini. Banyak jawaban yang bisa muncul dari berbagai sudut pandang. Dan itu cukup direnungi secara personal saja, tidak perlu diperdebatkan, dan syukur-syukur kita bisa mengambil sebuah peran yang produktif untuk membuat keadaan menjadi lebih baik. Tulisan ini tidak menghadirkan solusi. Solusinya ada di dalam diri kita masing-masing, pada peran kita masing-masing. Saya pikir, setiap kita bisa berperan, selama kita kurangi berdebat. Indonesia tidak kekurangan orang pintar, mata pelajaran di sekolah-sekolahnya saja canggih-canggih, tapi mungkin masih butuh banyak orang pintar yang lebih suka bekerja dibanding berdebat.

  • view 195