Tanda Bintang pada Kata Toleransi

Adi Prayuda
Karya Adi Prayuda Kategori Agama
dipublikasikan 11 Februari 2016
Tanda Bintang pada Kata Toleransi

Seorang anak laki-laki sedang bermain pasir di pinggir sebuah pantai..mungkin usianya belum sampai 3 tahun. Saya sedang duduk santai di sebuah kursi kayu, menunggu minuman yang sedang saya pesan. Tak jauh dari tempat anak kecil tadi bermain, ada laki-laki dewasa?yang sedang mengawasinya..kemungkinan ayahnya. Pakaian mereka mirip. Bahkan topi yang mereka kenakan pun mirip. Saya jadi berpikir, mungkin dulu ketika saya masih kecil, ada kalanya orang tua saya mendandani saya mirip dengan penampilan mereka. Itu jelas sangat wajar, karena saya 'belum bisa memilih', dan banyak aktivitas saya harus diawasi oleh orang dewasa, karena bisa saja aktivitas yang saya lakukan membahayakan diri saya sendiri dan orang lain.

Pikiran saya berkelana lagi, mencari-cari hal yang mirip dengan pakaian. Akhirnya ketemu...ageman. Istilah ini digunakan orang jawa untuk membahasakan agama. Ageman itu pakaian. Pakaian untuk pikiran dan hati kita. Dan kebanyakan dari kita, termasuk saya, tidak memilih 'pakaian yang satu ini', tapi dipilihkan, agar mirip dengan 'pakaian' orang tua kita. Dipilihkan juga segala 'asesoris' yang berhubungan dengan 'pakaian itu'. Dipilihkan karena kita masih kecil dan 'belum bisa memilih'. Ada pengondisian yang kita tidak sadari...sedari 'kecil', bahkan semenjak kita di dalam kandungan.

Waktu berlalu..dan kita pun beranjak dewasa. Kita 'diperbolehkan', 'diberi kebebasan' untuk memilih model-model pakaian yang menutupi tubuh kita, tapi apakah kita juga 'diperbolehkan', 'diberi kebebasan', untuk memilih 'pakaian' yang pas dengan pikiran dan hati kita? Apakah ketika kita menjadi orang tua, kita memiliki keberanian untuk memberi kebebasan anak-anak kita memilih 'pakaiannya' sendiri? Sebagian besar kita mungkin 'ketakutan' memilih secara sadar 'pakaian yang satu' ini, apalagi bila berbeda dengan yang 'dikenakan' orang tua kita. Kita juga mungkin 'belum siap' untuk memberikan 'kebebasan' yang satu ini kepada anak-anak kita kelak. Kita khawatir bila pilihannya berbeda!

Sebenarnya, ada sisi di dalam diri kita yang 'belum siap' dengan'perbedaan'. Itu juga yang menyebabkan di balik toleransi kita terhadap perbedaan, ada sisi ego yang menggerakkan kita mempertahankan eksistensi 'kesamaan pakaian ini'. Ada tanda bintang (yang kecil) setelah kata toleransi kita ucapkan. Masih ada syarat dan ketentuan yang berlaku. Mungkin dalam kadar yang sangat sedikit, tapi ada. Kita 'belum siap' dalam memandang bahwa beragama, memilih bungkus religi, adalah hak setiap orang. Memandangnya sebagai hak saja 'belum siap', apalagi memandangnya sebagai hak asasi! Itulah?yang menyebabkan konflik apapun yang ditarik ke ranah agama akan mengobarkan 'api' dimana-mana. Kita sama-sama masih 'anak kecil', hidup dalam pengondisian-pengondisian yang tidak kita sadari, 'belum bisa memilih', masih perlu diawasi 'orang dewasa', karena bisa saja aktivitas yang kita lakukan membahayakan diri kita sendiri dan orang lain. _/|\_

  • view 161