Ini loh yang Membuat Kita Marah…

Adi Prayuda
Karya Adi Prayuda Kategori Inspiratif
dipublikasikan 10 Februari 2016
Ini loh yang Membuat Kita Marah…

Pada catatan ini, saya akan membahas tentang marah, tentang apa yang sebenarnya membuat kita marah. Mengapa orang-orang tertentu marah akan hal tertentu, sedangkan orang-orang lainnya tidak? Mengapa ada orang yang baru disenggol sedikit, sudah melotot dan mau ngebacok? Mengapa orang-orang tertentu lebih sabar dibandingkan orang yang lain? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat diketahui dengan memahami konsep marah. Dengan menulis hal ini, bukan berarti saya adalah orang paling sabar sedunia, yang tidak pernah marah. Orang-orang terdekat saya tahu persis bahwa ketika saya marah, saya diam. Tidak banyak kata yang diucapkan. Dan orang-orang yang marahnya diam lebih mengerikan dibanding orang-orang yang marahnya berteriak atau mengumpat...hehe. Karena dengan berteriak, orang-orang akan segera tahu apa yang menjadi penyebab orang tersebut marah, tapi orang yang marahnya diam??!?

Mari kita awali dengan sebuah cerita sederhana berikut ini:

Si Kabayan dan Nyi Iteng sedang jalan-jalan di Tunjungan Plasa Surabaya. Maklum, hari ini malam minggu. Ketika sedang jalan-jalan, ada seorang gadis berambut panjang melintasi mereka berdua. Nyi Iteng sih biasa saja, tapi si Kabayan? Ya namanya juga laki-laki, mau gak melihat kok rasanya kurang enak..hehe. Gara-gara melihat gadis rambut panjang itu, si Kabayan tiba-tiba nyeletuk,

?Bagus ya Neng, rambut panjang kaya gitu...?!?

Nyi Iteng yang kebetulan rambutnya gak sepanjang gadis yang baru saja lewat, langsung memarahi si Kabayan,

?Oh, jadi rambutnya Iteng gak bagus ya, Kang?! Kang Kabayan gak suka sama rambutnya Iteng yang kaya gini?!! Iteng gak cantik?!! Cewek tadi lebih cantik?!! Bilang terus terang aja Kang, gak usah pake nyindir-nyindir Iteng kaya gitu!!?

Mendengar ocehannya Nyi Iteng, si Kabayan langsung kalang kabut,

?Bu..buk..bukan begitu maksudnya, Neng....Akang Kabayan cuma....?

??????????? Plakkkkk!!!.................Hening.

**

Berapa banyak dari kita yang pernah mengalami masa-masa suram seperti cerita di atas? Haha...Apa yang kita ungkapkan disalahartikan oleh orang lain. Ujung-ujungnya kita kena marah. Maksud hati berbicara ?menyukai kanan?, tapi diartikan ?membenci kiri?. ?Menyukai rambut panjang?, tapi diartikan ?membenci rambut pendek?. Padahal kan belum tentu artinya sama. Hal seperti ini memang sering terjadi dalam perbincangan antara cowok dan cewek, pria dan wanita. Jarang sekali terjadi ketika cowok dan cowok berbicara atau cewek dan cewek sedang ngobrol. Apa yang penting pada cerita di atas? Ada kemarahan disana.

Saya tidak melarang siapapun untuk marah. Marah itu juga anugerah, yang ketika kita bisa memanfaatkan energinya, kita bisa lebih cepat mendapat apa yang kita inginkan. Hanya saja, seringkali kita kesulitan untuk mengontrol diri kita sendiri ketika marah itu datang. Dan ketika emosi marah itu mereda, kita baru menyesal. Baru-baru ini saya mengetahui dari seseorang bernama Anthony Robbins bahwa sebenarnya kita marah bukan karena perilaku orang lain terhadap kita, tapi lebih karena aturan yang kita tetapkan sendiri di pikiran kita masing-masing. Saya ulangi ya, kita menjadi marah karena aturan yang kita tetapkan sendiri di pikiran kita masing-masing. Ketika ada orang lain atau keadaan yang timbul dan berada di luar aturan yang ada di pikiran kita, secara otomotis kita menjadi marah atau mungkin kecewa. Sama seperti cerita di atas, Nyi Iteng menjadi marah kepada si Kabayan karena ada konsep atau aturan di pikirannya sendiri bahwa ketika siapapun mengatakan ?menyukai rambut panjang? itu SAMA ARTINYA dengan mengatakan ?membenci rambut pendek?.

Mungkin kita memiliki alasan yang masuk akal untuk marah; mungkin ada orang yang merobek buku kita, mungkin orang lain menjambak rambut kita, mungkin ada orang yang berkata-kata kasar di depan kita, mungkin orang lain tidak membalas SMS atau BBM kita, mungkin kita tidak bisa makan makanan yang kita inginkan hari itu, mungkin ada orang yang terus-menerus membicarakan kekurangan kita, dan mungkin kita sudah begitu lama menunggu seseorang keluar dari Mall, sehingga pantaslah untuk marah. Semua itu pemicu, dan yang menentukan kita marah dan bersikap reaktif terhadap hal-hal tersebut adalah diri kita sendiri. Ada aturan dalam pikiran kita sendiri yang mengatakan bahwa ketika orang lain tidak membalas SMS atau BBM kita berarti orang tersebut tidak peduli terhadap kita. Ketika orang lain berkata-kata kasar kepada kita berarti orang tersebut menganggap kita rendah dan hina atau orang tersebut sangat tidak menyukai kita. Ketika ada orang yang kita tunggu-tunggu tidak datang pada waktu yang disepakati sebelumnya berarti orang tersebut tidak menghargai kita atau tidak mencintai kita atau tidak menganggap kita ada. Padahal kan tidak mesti seperti itu. Itu hanya pikiran-pikiran kita saja. Pikiran kita tentang orang lain, baik atau buruk, menjadi tanggung jawab kita, bukan tanggung jawab orang lain tersebut. Prasangka kita terhadap orang lain menjadi tanggung jawab kita, bukan orang lain. Itulah yang saya katakan bahwa kemarahan kita itu lebih kepada aturan yang ada di pikiran kita sendiri ketimbang sikap dan keadaan yang ada di luar diri kita.

Cek hati kita. Kapan saja hati kita merasa ingin marah dan kecewa berarti ada aturan di pikiran kita yang membuat kita memutuskan ?inilah saat yang tepat untuk menumpahkan semuanya!? Sekali lagi, saya tidak melarang siapapun untuk marah, tapi setidaknya dengan mengetahui aturan yang tersimpan di pikiran kita tentang ?syarat marah?, kita menjadi lebih memiliki banyak pilihan. Entah itu dengan merubah kata-kata dalam ?syaratnya? atau membiarkannya tetap seperti itu dan tetap marah. Yang jelas, ketika kita marah, kita seperti mengambil batu bara panas dengan tangan kita sendiri, kemudian melemparkannya kepada orang lain. Orang lain bisa saja terkena lemparan batu bara kita, bisa saja menghindar dan tidak kena. Orang lain mungkin saja sakit hati, sedih, malu, menyesal, dongkol dengan amarah kita, bisa saja tidak. Tapi yang jelas, kita 100% merasakan panas batu bara yang kita pegang, kita PASTI tersakiti. Ilustrasi ini begitu indah, setidaknya bagi saya, dan karenanya saya bagikan kepada teman-teman semua. Ilustrasi mengagumkan ini saya dapatkan dari pemikiran seorang biksu bernama Ajahn Brahm, penulis buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya.

So, cek kembali apa yang bisa dicek. Mungkin uang kita di dompet atau di ATM..hehe. Jangan marah, ya...bercanda! Beberapa orang sulit sekali diajak serius, beberapa yang lainnya sulit sekali bercanda, makanya saya mohon maaf apabila ada unsur keseriusan dan ke-bercanda-an yang kurang berkenan dalam catatan ini. Cek hati kita untuk mengetahui aturan main di pikiran kita! Bila kita tidak nyaman dengan sesuatu, pasti ada beberapa kalimat yang tertulis di pikiran kita. Kalimat-kalimat ini ada yang cepat kita sadari, ada juga yang butuh perenungan untuk mengetahuinya. Hal itu wajar karena bisa saja kalimat-kalimat itu mulai tertanam di pikiran kita semenjak kita masih anak-anak dan tersimpan dengan rapi sampai saat ini. Dimana disimpannya? Di pikiran bawah sadar kita. Pikiran bawah sadar kita menyimpan banyak sekali memori atau kenangan dari masa lalu yang membuat kita melakukan respon tertentu terhadap kejadian tertentu.

Untuk menjadikan ini mudah, saya ambil sebuah contoh. Ada orang-orang tertentu yang langsung marah ketika dipegang kepalanya oleh orang lain. Ada juga yang tidak merespon apa-apa, atau biasa aja. Orang-orang yang marah ketika dipegang kepalanya oleh orang lain pastinya memiliki ?makna yang berbeda tentang sentuhan di kepala? dengan orang yang merespon biasa saja. Mungkin saja orang-orang yang langsung marah ini memiliki konsep bahwa menyentuh kepala adalah tindakan penghinaan. Menyentuh kepala adalah tindakan yang merendahkan harga diri. Mereka menganggap kepala adalah bagian tubuh yang terhormat karena letaknya paling atas, sehingga wajarlah mereka betul-betul menjaga dan menghormati bagian itu. Bisa jadi mereka juga mendapat nasihat dari orang tua atau guru-guru atau siapapun yang dihormati tentang menghargai bagian kepala tersebut. Lingkungan sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter diri kita. Konsep-konsep ini tersimpan di pikiran bawah sadar dan sangat memengaruhi sikap kita terhadap kejadian tertentu. Nah, sebaliknya, orang-orang yang merespon biasa saja sudah tentu tidak memiliki konsep seperti itu. Lalu siapa yang salah, siapa yang benar? Tidak ada yang salah, tidak ada yang benar. Inti dari mengetahui konsep ini adalah penyesuaian sikap kita terhadap orang-orang yang berbeda karakter dan nilai-nilai dengan kita. Itu saja. Dan memang hanya itu saja hal mendasar yang membuat kita marah. Bukan tentang orang lain, bukan tentang keadaan, ini tentang diri kita sendiri, tentang nilai-nilai yang ada di pikiran kita sendiri.

  • view 322