Dalam Mendengarkan, Ada Pengobatan

Adi Prayuda
Karya Adi Prayuda Kategori Inspiratif
dipublikasikan 10 Februari 2016
Dalam Mendengarkan, Ada Pengobatan

Seringkali, permasalahan utama orang-orang yang curhat kepada kita bukan berada pada ceritanya, bukan pada kata-kata yang dilontarkan..tapi pada sesuatu yang tidak diungkapkan.?"Apa" yang mereka curhatkan tidak lebih penting dari "kenapa" mereka mencurhatkannya. Isi curhatannya tidak lebih penting dibandingkan alasan dari curhat itu sendiri, yang seringnya tidak terkatakan.

Ada orang-orang yang merasa dirinya ditolak, merasa diperlakukan tidak adil, merasa tidak diterima oleh lingkungan, merasa bersalah, merasa kesepian, merasa tidak berdaya, merasa tidak dicintai, yang pada akhirnya memicu mereka untuk melepaskan emosinya melalui cerita. Orang-orang yang cukup "pintar" mencoba "menganalisis" permasalahan dari apa yang diceritakan, kemudian memberikan sebuah atau beberapa "solusi" yang dirasa bisa menyelesaikan "masalahnya".

Tapi apa yang terjadi? Sebagian besar orang yang curhat tidak membutuhkan solusi itu! Kalaupun ada, mereka menerima solusinya, tapi menjalankan apa yang nyaman bagi mereka, dan seringnya itu berbeda dengan solusi yang diberikan. Mendengarkan adalah kuncinya. Bukan sekedar mendengar, tapi mendengar(kan) dengan penuh perhatian. Bukan sambil memperhatikan hape atau gadget. Karena dalam mendengarkan, terjadi pengobatan.

Dalam mendengarkan, kita menghargai orang yang bercerita, terjadi transfer rasa menghargai, orang yang bercerita merasa diterima, tidak kesepian lagi, sehingga merasa lebih berdaya. Merasa nyaman dan dicintai, sehingga bila ada rasa bersalah yang dipendam, perasaan itu akan jauh berkurang. Plong. "Obat" dari mendengarkan itulah yang langsung menghantam ke "pusat sakitnya". Dan itu menyembuhkan!

Di jaman modern seperti sekarang ini, ketika penggunaan media sosial begitu marak, kita terbiasa untuk ?berbicara?, mengekspresikan diri lewat kata-kata dan gambar. Sudah begitu banyaknya orang yang ?berbicara?. Kadangkala mengungkapkan nasehat-nasehat bijak, kadang juga keluhan-keluhan, bahkan kadang hal-hal sepele yang sebenarnya cukup diketahui orang-orang tertentu saja kini sudah bisa dibaca dan diketahui banyak orang. Berita begitu cepat tersebar, dan cepat juga komentar berhamburan dari banyak pihak. Beberapa hari kemudian barulah terbukti bahwa berita tersebut hanya rekayasa belaka. Kita cepat sekali bereaksi terhadap apapun yang hadir dalam kehidupan kita. Itulah yang menyebabkan kita seringkali kelelahan dalam menjalani hidup ini. Perlu momen-momen ketika kita hanya diam, tidak bereaksi terhadap apapun yang hadir, hanya mengamati saja.

Di jaman yang canggih ini, terlampau sedikit orang yang menyediakan dirinya untuk ?mendengarkan?. Perlu lebih banyak orang yang melatih diri untuk mendengarkan, supaya tidak bising negara ini. Sedikit-sedikit berkomentar, sedikit-sedikit marah-marah, sedikit-sedikit mengeluh, sedikit-sedikit penyakit! Dengan mendengarkan, kita menyediakan ?ruang? bagi orang lain untuk ?menumpahkan penderitaannya?, sehingga penderitaannya berkurang.

Mendengarkan dengan penuh perhatian seperti ini memang tidak mudah, terkadang kata-kata tertentu yang dilontarkan orang lain ketika bercerita ?menyirami? benih-benih kemarahan, kesedihan, dan kekecewaan yang ada di dalam diri kita. Kita pun jadi ikut-ikutan marah, sedih, dan kecewa. Sadari saja bahwa kita juga manusia biasa yang memiliki benih-benih marah, sedih, dan kecewa dalam diri, yang sedang berusaha untuk menjadi semakin baik setiap hari. Bila itu terjadi, sadari keberadaan napas kita, sadari keberadaan kaki kita yang sedang menapak lantai, dengan begitu pikiran kita kembali ke momen saat ini. Tanpa melatih diri kita untuk mendengarkan, menjadi pengamat, kita akan menjadi orang yang reaktif. Setiap hari adalah waktu berlatih, menjadi lebih tenang, menjadi tidak reaktif, dan menjadi pendengar yang baik. Berbicara itu baik, mendengarkan juga baik, namun tau kapan waktu yang tepat untuk berbicara dan mendengarkan adalah bijaksana.

?

Telinga kita letaknya 'lebih tinggi' dibandingkan mulut. Dan pendengar yang baik selalu lebih hebat dibanding yang hanya bisa berbicara.

?

  • view 166