Apa yang diajarkan Roti?

Adi Prayuda
Karya Adi Prayuda Kategori Inspiratif
dipublikasikan 10 Februari 2016
Apa yang diajarkan Roti?

Tahun 2008, saya melakukan sebuah riset kecil dengan memasukkan 3 gumpal roti ke dalam 3 botol kosong. Botol pertama saya berikan label tulisan 'kamu bodoh', botol kedua tidak saya berikan label, dan botol ketiga diberi label 'terimakasih'. Saya tempatkan ketiga botol ini di dalam kamar, di tempat yang mudah saya lihat. Hampir setiap hari, selama beberapa menit, saya pegang botol pertama sambil terus mengucapkan 'kamu bodoh..kamu bodoh..kamu bodoh..', berulang-ulang kali dalam hati. Botol kedua tidak saya pegang. Botol ketiga saya pegang beberapa menit, hampir setiap hari, sambil mengucapkan 'terimakasih..terimakasih..terimakasih..', sambil mensyukuri segala nikmat dan anugerah yang saya dapatkan dalam kehidupan.

Tiga bulan kemudian, saya buka tutup botol ketiganya, dan saya keluarkan isi rotinya. Saya takjub, karena ketiga gumpal roti tersebut memiliki penampakan fisik yang sama sekali berbeda satu sama lain. Pada roti yang berada dalam botol 'kamu bodoh', warnanya coklat kehitaman dan ada bau busuk yang cukup menyengat, hampir sama dengan roti yang berada pada botol yang tidak berlabel. Namun, roti pada botol 'terimakasih' memiliki warna yang lebih cerah dan beraroma alkohol yang khas! Padahal ketika pertama kali dimasukkan, roti-roti tersebut adalah roti yang sama-sama berada dalam 1 kemasan. Beberapa kali saya coba, bukan hanya dengan roti, tapi juga dengan nasi, dan saya dapatkan hasil yang mirip. Ini artinya, ada sesuatu di dalam diri kita yang memiliki potensi untuk 'mengubah' sesuatu di luar diri kita.

Ini bisa menjadi pelajaran kita bersama, bahwa di tengah begitu banyak kritik, caci-maki, hinaan, atau kata-kata bernada menyindir yang kita dengar dan kita baca saat ini, ada orang-orang yang tergerak hatinya untuk senantiasa bersyukur terhadap keadaan apapun yang tengah terjadi saat ini. Karena cacian yang dibalas cacian hanya akan memperbesar energi untuk membentuk sesuatu yang sama-sama tidak kita inginkan. Syukuri apapun yang terjadi saat ini, mungkin tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan, tapi penerimaan membuka pintu untuk mengubah sesuatu menjadi lebih baik. _/|\_