Kapan Kamu Merasa Cukup?

Adi Prayuda
Karya Adi Prayuda Kategori Inspiratif
dipublikasikan 09 Februari 2016
Kapan Kamu Merasa Cukup?

Pertanyaan yang hadir di benak saya tadi malam adalah, "Kapan kamu akan merasa cukup?" Pertanyaan yang sederhana, namun membuat saya merenung cukup lama. Merenungi perjalanan hidup yang sebagian besar diisi dengan menciptakan impian, kemudian mengejarnya. Bila berhasil senang, jikalau gagal sedih. Menciptakan impian lagi yang lebih besar, dan mengabaikan impian sebelumnya..terus-menerus, seperti berlari ke suatu tempat yang tidak ada ujungnya. Sekalipun terpenuhi, akan tercipta impian dan keinginan baru yang lebih besar dan meminta untuk dipenuhi. Di tengah perjalanan, baru tersadarkan olen sebuah pertanyaan, "Kapan kamu akan merasa cukup?"

"Apakah kamu takut, jika dalam merasa cukup, segala anugerah untukmu akan berhenti dialirkan?" Itu menjadi pertanyaan selanjutnya yang hadir di benak. Kemudian ada suara yang tak kalah jernihnya, "Hanya dalam rasa berkecukupanlah, rasa syukur dapat tumbuh. Dan hanya dengan rasa syukurlah, kebahagiaan akan mekar dalam dirimu. Rasa kekurangan tidak akan menumbuhkan kebersyukuran, apalagi kebahagiaan. Ketika engkau merasa cukup, engkau mulai bisa menikmati aliran anugerah dalam hidupmu. Dalam rasa cukup, engkau menerima segalanya. Ini bukan tentang apa yang sedang engkau miliki, tapi tentang mensyukuri apapun yang engkau miliki saat ini. Dan itu tidak didapatkan dengan memaksa hal-hal di luar dirimu untuk mencukupkan dirinya, tapi keputusan sadar dari dalam diri untuk merasa cukup."

Merasa cukup adalah tentang mengakses kepuasan hati dari dalam diri kita. Kita menerima begitu banyak anugerah setiap saat, namun tidak semuanya kita sadari. Pikiran kita terlampau sibuk menerima, mengolah, dan merespon hantaman informasi dari banyak penjuru; dari sosial media, buku-buku, acara dan iklan di televisi, papan-papan reklame di jalan raya, dan lain-lain. Kita hampir tidak memiliki pilihan selain menerima informasi-informasi tersebut dan bereaksi terhadapnya. Kita menciptakan keinginan baru karena mendapat informasi baru dan membuang keinginan lama karena sudah usang dan ketinggalan jaman. Lalu, kapan kita punya waktu untuk berjeda sejenak sambil menikmati indahnya hidup ini, mensyukurinya, kemudian berkata ?cukup? sambil berpuas hati dengan segala apapun yang saat ini ?dimiliki?? Kalau kita selalu merasa ?kurang? terhadap apapun yang kita miliki saat ini, lalu apa yang membuat kita yakin bahwa kita akan puas ketika keinginan kita tercapai di masa depan? Kalau kita tidak mulai melatih ?kepuasan hati? mulai saat ini, disini, dengan apapun yang dianugerahkan-Nya kepada kita, apakah rasa itu akan mudah diakses di kemudian hari?

Pertanyaan-pertanyaan di atas tentu bukanlah pertanyaan yang perlu kita jawab, namun perlu kita renungi. Pertanyaan seperti itulah yang perlu kita latih terus-menerus, kita ajukan ke diri kita sendiri, karena lambat-laun pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang akan mengantarkan kita kepada kebijaksanaan yang ada di dalam diri kita sendiri. Kita sudah memiliki ?guru yang sangat bijaksana? di dalam diri, namun seringkali ?suaranya? tak terdengar karena kita lebih senang mendengar suara-suara dari luar diri kita. Memang dibutuhkan kepekaan untuk mendengar ?nasehat? yang datangnya dari dalam diri, dibutuhkan keheningan pikiran, sehingga ?suaranya? tidak ?tertutupi? dengan ?suara? pikiran kita yang didorong rasa takut, marah, benci, dan kecewa. Ada kata-kata indah yang bisa jadi pelajaran kita bersama, ?I was looking for someone to inspire me, motivate me, support me, keep me focused...someone who would love me, cherish me, make me happy, and I realized that all along I was looking for myself.?

Dengan begitu, perjalanan hidup kita ini adalah perjalanan untuk menemukan diri kita sendiri, bukan dengan mencari, tapi menyadari. Kita berkelana kesana-kemari, membaca banyak buku, mengikuti banyak pelatihan pengembangan diri, menyerap begitu banyak informasi, yang pada akhirnya membawa kita kepada kedekatan yang lebih intim dengan diri kita sendiri. Dengan kesadaran, kita bukan hanya sedang berjalan ?keluar?, tapi juga sedang berjalan ke ?dalam?. Menyelami diri kita sendiri. Kita tidak perlu tau semua hal, minimal kita tau apa yang membuat kita bahagia dan memiliki kepuasan hati dengan itu. Tidak ada yang salah dengan menumpuk ilmu pengetahuan, namun mengetahui banyak hal tanpa tau cara untuk berbahagia dan berpuas hati dengan itu membuat kita berkejaran tiada henti dengan ego kita sendiri. Jangan mengira semua orang pintar tau apa yang membuat mereka bahagia dan berpuas hati. Dan jangan meremehkan orang-orang yang kita anggap kurang pintar, mungkin mereka lebih tau caranya berpuas hati dibanding kita. Berpuas hati bukan tentang kepintaran, ini seni menikmati momen saat ini, disini. Seni merasa ?cukup? dengan segala yang ada saat ini. Jadi, kapan kamu akan merasa cukup??

  • view 217